Berprasangka Baik, Bersikap Adil

Oleh : Yadi Setiadi

Syahdan, ketika sedang berlangsung peperangan umat Muslim melawan kaum musyrikin di masa lalu. Ada sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Usamah bin Zaid, yang melawan seseorang yang telah menyakiti dan membunuh banyak kaum muslim. Usamah membunuh lawannya itu, yang sudah tersudut dan mengucapkan kalimat syahadat. Ketika ada proses tabayyun atau klarifikasi dari Rasulullah, Usamah berdalih bahwa lawannya mengucapkan "laa ilaaha illallah" hanya karena cari selamat saja.

Rasulullah pun bertanya "apakah kamu sudah membelah dadanya, dan kamu tahu pasti bahwa ucapannya itu karena terpaksa, bukannya karena keikhlasan? Apa yang akan engkau pertanggung jawabkan dengan kalimat "laa ilaaha illallah" pada hari kiamat nanti?"

Makna yang terkandung dari kisah itu adalah Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa dalam situasi apapun tetap harus mengedepankan sikap adil. Kita tidak boleh memperlakukan orang yang berlawanan, berbeda pandangan bahkan sampai berbeda aqidah atau agama dan memerangi kita, dengan sikap yang melewati batas sebagai manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat melarang hamba-Nya untuk saling mencela, mengolok-olok atau memanggil dengan sebutan yang tidak baik satu sama lain. Melarang berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan ataupun saling mengghibah alias menggunjing orang lain. Tidak hanya kepada sesama muslim, namun juga teman non-muslim.

Sifat-sifat buruk yang dilarang itu, sesuai dengan firman Allah SWT di dalam QS Al-Hujurat. Namun perintah atau larangan-larangan yang dijabarkan secara detail itu, justru kerapkali terabaikan atau terlupakan oleh umat. Padahal jika saja kita bisa melindungi diri dari hal-hal tersebut, Insya Allah mendekati sempurna Islam kita.

 

Sumber : facebook Yadi Setiadi

Tuesday, July 10, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: