Berpolitik Kotor Ala Sengkuni

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Saya pikir manusia satu negara ini takut berhadapan dengan Amien Rais. Ia adalah salah satu dari beberapa orang yang bebas mencela dan menuduh yang bukan-bukan. Pemerintah, aparat, masyarakat secara umum, tak berdaya menghadapi seorang Amien. Seolah-olah ia kebal hukum.

Mereka mungkin melihat saham Amien di Muhamadiyah. Itu memang bukan organisasi warisan, sama seperti NU. Namun siapapun tahu, Amien adalah Muhamadiyah itu sendiri. Bahkan PAN, organisasi politik yang dulu didirikan oleh banyak orang, termasuk Goenawan Mohamad, tak luput dari cengkeramannya.

 

 

Amien seperti Uncle Sam bagi Amerika Serikat. Ia seolah hanya legenda, secara struktural tak terlihat, tapi sangat mendominasi cerita. Ia roh bagi tubuh, yang memberikan titah dari balik tabir. Merah kata Amien, merah kata mereka. Hitam kata Amien, hitam kata mereka.

Banyak kabar miring tentang tokoh yang menumpang Reformasi ini. Namun tak satupun yang benar-benar berani membongkarnya. Dengan retorika fatalis, seperti jalan kaki Jogja-Jakarta, Amien selalu mengelak dengan elegan. Ia menantang para penuduhnya. Tuduhan dan kabar busuk itu akhirnya berlalu begitu saja.

Pidato Luhut Binsar Pandjaitan tempo hari cukup mencengangkan. Karena selama ini, tidak ada yang berani menanggapi Amien secara langsung. Meski sudah nyaris dilupakan, Amien tetap memiliki koneksi yang luas.

Luhut sekalipun mungkin tak sekelas dengan Amien. Karena yang mampu mengimbangi gerak licin Amien itu hanya dua, Soeharto dan Gusdur. Maka ancaman yang terlanjur ramai itu saya kira akan berakhir hambar. Anti klimaks. Luhut mungkin punya jabatan strategis, tapi tak cukup kuat sebagai lawan tanding Amien.

Amien adalah politikus ulung. Poros tengah yang digagasnya dulu adalah bukti sepak terjang briliannya waktu itu. Ia berhasil menjegal Megawati yang di atas kertas telah jelas memenangkan pemilu, tapi gagal jadi presiden. Meskipun jaman memang telah berganti. Wajah-wajah baru mengisi ruang-ruang kekuasaan. Namun sikap licin ini tak akan hilang.

Retorika Amien saat mengkritik Pemerintah sebenarnya gaya yang sudah out of date. Dulu, jaman koran cetak dan TVRI berkuasa, mungkin orang akan takjub. Hari ini, generasi yang lebih cerdas hanya akan tertawa melihatnya. Namun pengikutnya yang setia tak perduli. Apapun yang keluar dari mulut Amien dianggap kebenaran.

Seperti balon gas yang telah kehilangan tekanannya, Amien lebih terlihat sedang meracau daripada mengkritik. Kenapa ia melakukan itu? Jelas untuk menaikkan posisi tawar. Ada ceruk suara oposan yang bisa dikuasai. Siapapun yang berani melawan rezim penguasa akan dianggap pahlawan.

Namun cara yang digunakan Amien itu so yesterday. Kuno dan tidak ada nilai seninya sedikitpun. Ia main kotor dengan cara yang menyedihkan. Framing, melempar isu, mempengaruhi massa adalah hal biasa dalam politik. Jika saja itu dilakukan dengan cara ksatria, sesuai fakta, logis, itu akan jadi serangan politik yang bagus. Determinasi power yang elegan.

Mempertanyakan pembagian sertifikat gratis Jokowi yang dilakukan Amien itu melawan akal sehat. Problem agraria di negara ini sudah sangat parah. Di Mesuji, rakyat berhadapan dengan popor senjata tentara. Di Jogja, Pati dan banyak tempat lagi, orang-orang bertikai soal ini. Belum lagi persoalan tanah adat Papua.

Rakyat tidak terlindungi karena secara hukum mereka tak punya bukti, padahal sudah tinggal di tempat itu turun-temurun. Bahkan sejak negara ini belum tegak berdiri. Pembagian sertifikat secara gratis itu adalah salah satu cara mengatasi masalah ini. Meskipun dalam banyak kasus konflik agraria, persoalannya memang sangat rumit.

Melempar isu kebangkitan PKI itu juga sangat konyol. Amien meletakkan dirinya dalam posisi sangat rendah, bahkan dalam tahap untuk berpikir logis. Orang yang dianggap cerdas di jamannya itu, kini bertingkah mengenaskan. Ia tak ubahnya kelompok puritan hasil cuci otak penceramah militan di pojok kampus. Kelasnya sedikit lebih tinggi dari pemercaya teori bumi datar.

Berpolitik dengan cara kotor ini merusak imajinasi kita tentang ilmu politik dan seni berpolitik. Mestinya ia adalah ruang keilmuan yang sama agungnya dengan seni, sastra, pengobatan. Namun aksi politik murahan semakin membuat stigma politik bertambah hina dina. Satu lembah hitam yang hanya berisi kelicikan dan dosa.

Amien memang tak mungkin mampu naik kelas jadi negarawan. Namun, (bekas) politisi yang baik juga bukan pilihan rendah. Ia bisa tetap di kelas itu secara profesional dan gagah. Menyumbangkan pikiran, saran, kritik dengan logis dan bijak.

Politik pecah belah, fitnah, menyebarkan hoax, mengorbankan banyak hal, termasuk ketenteraman rakyat. Dalam pewayangan, tokoh Sengkuni (Sangkuni) adalah ikon terbesar pengadudomba itu. Ia melakukan segala cara demi melampiaskan iri hati dan kebenciannya. Tak perduli berapa banyak korban dan biaya yang dibutuhkan.

Ini belum membahas soal dosa dari kabar bohong, fitnah, dan hasutannya. Padahal konon ia juga tokoh agama.

Hari ini, jika roh Sengkuni menyaksikan drama politik murahan di Indonesia, ia mungkin akan menangis tersedu. Sengkuni juga menggunakan cara kotor, tapi ia melakukan itu dengan penuh perhitungan, prediksi akurat, logis. Ia menjadi lawan siasat yang sepadan dengan sang intelek, Krisna. Ternyata ada yang lebih buas, rendah, biadab dan menghalalkan segala cara dari dirinya.

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Thursday, March 22, 2018 - 22:15
Kategori Rubrik: