Berpikir Seperti Pengusaha

ilustrasi
Oleh : Amril Nuryan
 
Saya tidak terlalu mengikuti detail perkembangan Omnibus Law kemarin, cuma intip-intip dan mencoba melihat dari perspektif lain, apakah ada politik bermain disitu, seberapa besar kepentingan-kepentingan yang diusung untuk perputaran roda investasi dan ekonomi, apakah benar isi RUU itu menyengsarakan buruh?. saya tidak akan membahas detail teknis dari UU yang baru disahkan itu, bukan ranah dan komptensi saya untuk ikut2an menganalisa regulasi tersebut. disini saya cuma mau memberikan opini saya tentang dunia usaha.
Penolakan besar-besaran terhadap UU Cipta Kerja adalah hal wajar, karena banyak zona nyaman yang diganggu, tapi perlu diingat, zona nyaman itu bukan hanya milik pekerja !, investor dan pengusaha juga adalah bagian dari rakyat yang ingin didengar aspirasinya, merekalah yang menciptakan lapangan kerja, memanage biaya agar pekerjanya bisa tetap terbayar, mereka juga punya beban yang lebih berat. Satu buruh mungkin hanya berpikir untuk keluarganya, tapi satu pengusaha dipaksa berpikir untuk semua buruh dimana keluarganya pasti ikut disitu.
Mencari nafkah itu ibarat menjalani perjalanan panjang menuju satu tujuan, kita bisa memilih menumpang pada kendaraan besar (korporasi) atau membangun kendaraan sendiri (wiraswasta) dan membesarkannya menjadi korporasi agar orang lain bisa numpang. Saat kita memilih untuk numpang di kendaraan orang lain, tentu saja kita mengikuti aturan yang ada disitu, namanya juga numpang hidup ditempat orang, pasti ada untung rugi yang sudah dipertimbangkan. Kalau merasa lebih banyak ruginya, ya silahkan cari kendaraan lain yang menurutmu lebih adil, atau bangun kendaraanmu sendiri. Gak usaha kebanyakan protes dan nuntut ditempat yang kita tumpangi hidup.
Siapa sih buruh? siapa pengusaha? menurutku pembedanya cuma cara berpikir, ketika kita cuma berpikir bekerja, bekerja, kejar target, dan terima gaji tanpa mau tau bagaimana kondisi perusahaan, mau untung kah? rugi kah? berkembang atau stagnant? yang penting hak terpenuhi, setinggi apapun levelnya, itulah Buruh.
Sebaliknya ketika kita melakukan pekerjaan dan berpikir untuk kemajuan perusahaan, ikut berpikir bagaimana kendaraan yang kita gunakan ini bisa menjadi lebih besar dan berkembang, serendah apapun levelnya di perusahaan, itulah Pengusaha. Saya pernah berada di semua posisi itu, menjadi karyawan disebuah perusahaan kecil, subuh-subuh sudah harus keluar rumah kejar kereta, kadang pulang larut malam dengan kereta batubara terakhir karena harus lembur, saat ini saya menjalankan usaha yang mengatur sendiri cashflow, memikirkan gaji karyawan, memikirkan operasional dan sebagainya. Semua dinamika roda ekonomi itu perlu diatur negara melalui UU, ada yang dirugikan dan diuntungkan dari regulasi itu? kembali lagi dari cara berpikirnya !
Saya kasi contoh seorang sahabat, awal kenal dia cuma seorang supir freelance, 2 tahun terakhir dia bekerja sebagai penyemprot hama, kerja tiap hari memakai APD dan memburu kucing liar, menyemprot disinfektan, karena cara berpikirnya pengusaha, 2 bulan lalu dia membangun usahanya pest controlnya sendiri dengan mengambil resiko keluar dari pekerjaannya yang sudah mengihidupi keluarganya, dan hari ini dia sudah tanda tangan kontrak dengan beberapa perusahaan untuk pekerjaan sama yang sebelumnya dia cuma seorang "buruh". Dia tidak menyalahkan sistem atas nasibnya waktu menjadi pekerja, tapi berusaha memperbaiki nasibnya dengan sistem yang ada.
Intinya gak usah kebanyakan ngeluh, percayalah dunia ini dikontrol oleh segelintir orang-orang yang menciptakan tatanan dunia seperti yang terjadi hari ini, suaramu mungkin tidak akan terdengar oleh mereka, continue your life, rise your dream to become a decision maker or just follow the decision they've made for survive!
 
Sumber : Status Facebook Amril Nuryan
Thursday, October 8, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: