Berpikir ke Belakang Tapi Sambil Main Gadget

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kemarin kami lagi2 jalan dari Kartosuro ke Surabaya dengan waktu tempuh tidak sampai 3 jam lewat jalan tol. Sore jam 15.00 kami berangkat jam 18.00 sudah di Surabaya. Akses keluar tol juga enak karena bu Risma membangun jalan MERR, akses dari Juanda ke ITS jadi mudah. Itulah enaknya jika pemerintah pusat dan daerah kompak, rakyat diuntungkan. Coba kalau walikota Surabaya kebanyakan berwacana, dan berteori, ya Surabaya mungkin sudah macet parah. Tapi Bu Risma bukan tipe yang suka bicara, beliau lebih suka diam tapi banyak membangun .

Dengan dibangunnya jalan tol betapa banyak orang bisa menjalankan pekerjaannya dengan mudah. Orang yang dalam kondisi sakit pun bisa dengan cepat bergerak antar kota. Coba jika tol trans Jawa itu belum ada, kami butuh 8 jam dari Klaten ke Surabaya dengan kelelahan fisik yang berlebihan. Padahal pagi ini harus melakukan aktivitas penting lain.

Untung diskusi tentang pentingnya infrastruktur melawan infrastrukur nggak enak dimakan, antara akal sehat melawan yang tidak waras, dimenangkan oleh akal sehat, bukan orang2 berpandangan picik. Kalau nggak, ya Indonesia masih seperti 15 tahun lalu : merambat pelan dalam kemacetan. Lalu menghibur diri dengan target 72 bidadari. Saya yakin sekarang banyak orang yang beberapa bulan lalu mati2an menghujat pembangunan infrastruktur sekarang diam2 lewat jalan tol sambil membayangkan nanti di surga tidur dengan para bidadari.

Tol Surabaya Mojokerto sempat mangkrak 10 tahunan lebih. Bahkan jaman Presiden SBY yang jenderal itu pun nggak mampu menyelesaikan potongan tol transJawa itu. Penyebabnya pembebasan lahan. Tapi ternyata tidak cuma SUMO yang beres , malah dari Cilegon hingga Probolinggo sudah tersambung di tangan orang yang mau kerja.

Meski banyak kekurangan sana sini, Indonesia perlu pemimpin yang mau bekerja, tidak kebanyakan teori, tidak kebanyakan berpolitik. Contoh sukses negara lain sudah ada, tinggal niru. Ke depan kita harus mencari pemimpin yang mau bekerja, punya track record yang meyakinkan, bukan politisi, berpikir ke depan. Jangan pilih orang yang pinter ngomong, pinter pidato, politisi yang hanya pinter beretorika, dan berpikir ke belakang.

Kalau mikirnya saja ke belakang apalagi jalannya. Sekarang sedang marak orang yang berpikirnya ke belakang lho..padahal mainannya gadget

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Monday, February 24, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: