Berkelahi dengan Waktu

Ilustrasi

Oleh : Fahd Pahdepie*

Jika kalian pernah merasa hidup tak berguna, jangan putus asa. Jika orang-orang pernah meremehkan bahkan menganggap kalian sampah, jangan menyerah.

Saya kenal seseorang yang dulu mungkin tak ada yang mau kenal dengannya, memandangnya sebelah mata, kini menjadi orang besar dengan bisnis raksasa. Izinkan saya menceritakannya.

Selama 6 tahun ketika mondok di Garut, saya tak pernah berkelahi, kecuali dengan satu orang. Namanya Adnan.

Waktu itu kelas tiga tsanawiyah. Selepas shalat maghrib berjamaah di masjid, para santri bergerak ke ruang makan untuk makan malam.

Karena sedang kurang bersemangat makan, saya memutuskan untuk sejenak merapikan lemari yang berantakan. Di pojok ruangan, Adnan baru selesai shalat dan melipat sajadah. Ia tidak ke masjid. Seperti biasa.

Saya tidak ingat apa persisnya percakapan kami waktu itu. Yang saya ingat adalah ujungnya kami berdebat panas. Adnan mengumpat dan saya bereaksi melawannya.

Tampaknya ia tak terima. Ia maju beberapa langkah, saya tak gentar dan maju beberapa langkah. Ia mendorong saya, saya mendorongnya. Ia berusaha memukul, tapi saya desak sampai kepalanya terantuk ujung lemari.

Dengan nafas yang terengah, kami berusaha saling pukul, meski banyak tak kenanya. Kami masih terus mencengkram satu sama lain.

Sebelum perkelahian makin jauh, beruntung waktu itu ada seorang teman yang datang ke asrama. Ia berusaha melerai kami yang masih emosi.

Saya ingat Adnan sempat mengambil palu kayu untuk latihan organisasi dan masih berusaha ingin memukulkannya pada saya, tapi saya berhasil menghindar. Teman-teman lain keburu datang dan kami pun dipisahkan, meski terus saling maki.

Itu perkelahian satu-satunya yang saya ingat selama di pondok dan saya cukup bangga karenanya. Bangga? Tentu, karena lawannya adalah Adnan.

Siapa yang tak kenal Adnan? Santri paling bengal sekaligus paling berani waktu itu. Ketika kami kelas satu, ia sudah menantang anak kelas tiga untuk berduel. Saat kami kelas tiga, mungkin tak ada satupun anak kelas enam yang berani melawannya karena satu dan lain hal.

Padahal perawakannya kecil. Tapi soal nyali, Adnan seperti tak punya rasa takut. Ia penguasa WC Pojok, tempat santri-santri nakal bersarang, merokok, berkelahi, bolos dari jam-jam sekolah dan mengaji.

Jelas, Adnan bukan hanya nakal. Tapi 'nuakal'. Para ustadz pun hampir menyerah untuk menatarnya. Terlalu banyak 'kasus' yang melibatkan Adnan. "Aduh, mau jadi apa nanti dia?" Kata mereka.

Saya ingat hari ketika orangtua Adnan dipanggil ke pondok. Ibunya menangis. Saya termasuk orang yang ada di ruangan kepala sekolah untuk dimintai pendapat sebagai saksi.

Waktu itu seorang murid mengadukan Adnan pada orangtuanya dan si orangtua meminta pihak sekolah untuk memanggil orangtua Adnan. Saya masih ingat kami duduk melingkar di ruangan itu. Tegang.

Adnan hanya menunduk. Sementara ibunya masih terus menangis sambil meminta maaf kepada orangtua teman kami tadi. "Saya tidak tahu harus bagaimana lagi," ujar Ibu Adnan. Parau. Saya memutuskan untuk membela Adnan.

Selepas kejadian itu, teman kami tadi pindah sekolah. Adnan masih bersama kami tapi jadi agak pendiam. Ia agak melunak setelah kejadian itu. Bahkan sering saya temui di masjid.

Namun, bagaimanapun, bisa dibilang waktu itu jarang orang yang mau dekat dengan Adnan. Stigma Adnan sebagai anak nakal terlalu kuat. Orang jadi takut kebawa-bawa. Ia ditempatkan di asrama terpisah.

Meski sering saling umpat dan pernah berkelahi, saya tak pernah menjauhi Adnan. Setelah kejadian itu kami seperti punya respek masing-masing.

Kadang kami mengobrol lama, makan satu meja, bercerita hal-hal pribadi. Saya tahu Adnan tergila-gila pada film India.

Di dunia santri, kita jadi dekat kalau sudah saling meminjam uang. Adnan beberapa kali meminjam uang pada saya, begitu pula sebaliknya.

Hingga suatu hari ia menghilang. Ia pindah ke Bekasi untuk mengikuti orangtuanya. Kami pun kehilangan kontak.

Betahun-tahun saya tak mendengar kabarnya. Kami tak pernah bertemu. Tetapi teman-teman sering mengabari saya bahwa Adnan tak melanjutkan kuliah, memilih menekuni usaha. Konon ia banyak berubah.

Sekitar tahun 2011 atau 2012 saya tak sengaja bertemu dengannya di mall Senayan City. Kami mengobrol sebentar dan ia bercerita soal usahanya yang kian maju. Tentu saya bahagia mendengarnya.

Beberapa waktu kemudian, saya mendapat kabar bahwa Adnan membantu Ustadz Adi Hidayat di masa-masa awal dakwah beliau. Tentu itu kolaborasi paling unik. Seperti dua orang dari dua kutub paling berbeda di Pondok dulu. Tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kemarin, saya mendapat undangan untuk berkunjung ke rumahnya. Tentu saya tak bisa menolak. Saya berangkat dengan begitu banyak cerita dan nostalgia di kepala. Seperti apa Adnan sekarang, setelah lebin 8 tahun tak bertemu?

Tiba di depan komplek perumahannya yang cukup mewah, saya ditanya sekuriti. "Mau kemana, Pak?" Katanya. Saya jawab, "Mau ke rumah Pak Adnan." Sekuriti itu tersenyum, "Oh, Pak Haji Adnan?" Ia meyakinkan.

Saya mengangguk dan tersenyum. Sudah haji rupanya dia sekarang, batin saya. Saya bangga. Saya pun diarahkan untuk menuju rumahnya yang megah.

Di sana kami mengobrol berjam-jam. Bertukar cerita. Banyak kesamaan di antara kami, terutama soal menghadapi ujian demi ujian. Sejak dulu kami sama-sama model santri yang keras kepala. Meski di dua asrama yang berbeda.

Diam-diam saya mencatat sejumlah kekaguman pada perjalanannya yang berliku, betapa luar biasa skenario dan cara Allah menyusun kisah hidup seseorang. Betapa luas kasih sayang dan rahmatNya.

Siapa sangka kini Haji Adnan adalah salah satu pengusaha rental alat berat paling sukses di Jakarta? Ia memiliki ratusan alat berat bernilai puluhan bahkan ratusan miliar. Asetnya di mana-mana.

"Semua ini titipan dari Allah. Amanah. Dulu mah saya apa? Cuma sampah." Ujarnya.

Saya tersenyum. Ia boleh jadi memang punya mentalitas dan ketekunan di atas rata-rata, sejak dulu punya jiwa yang kuat, tetapi kesadaran bahwa semua ini titipan Tuhan tentu tak dimiliki setiap orang, bukan?

Ia menunjukkan kepada saya foto-foto tanah yang baru saja dibelinya. Katanya, "Pie, bantu saya bangun pesantren, ya," Ujarnya, ia memanggil saya Depie, nama kecil saya. "Saya ingin membuat pesantren yang fokus pada pembangunan akhlak dan mencetak para penghafal Quran." Sambungnya.

Ada rasa haru yang bergejolak dalam diri saya. Saya bangga pernah berkelahi dengannya. Kuncinya, jangan menyerah. Bahkan jika kita harus berdarah-darah. Biar nanti masa depan yang membilas dan menyembuhkan lukanya.

Sumber : Status Facebook Fahd Pahdepie

Friday, January 17, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: