Berkebaya=Murtad? Kamu Bodoh

Oleh : Shuniyya Ruhama

Sebelum agama Islam dipeluk oleh masyarakat Nusantara, wanita Jawa hanya menggunakan kain sebagai penutup bagian bawah tubuh. Bagian atasnya terbuka. Dan ini lazim bagi kebiasaan setempat. 

Setelah Islam datang dan mulai menertibkan pengembangan syariat bagi pemeluknya, salah satunya ialah menutup aurat. 

 

Sejatinya, menutup aurat bagi wanita Muslimah bukan sekedar syariat melainkan ada aspek lainnya. Yakni fungsi perlindungan, fungsi estetika, dan fungsi identitas. 

Maka diciptalah penutup dada bagi wanita Muslimah yang disebut kemben. Akhirnya terbentuklah ciri khas pembeda antara wanita Islam dengan yang bukan Islam. 

Fungsi estetika ini diperkuat secara bertahap mulai jaman Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga. Dibuatlah Kebaya untuk melengkapi penutup bagian bahu dan tangan. 

Awalnya dipakai oleh kerabat ulama dan kerajaan, kemudian dipakai juga oleh penduduk wanita secara umum. 

Dan seterusnya hingga kemudian dikenallah selendang sebagai pelengkap. Biasanya hanya dipakai oleh kerabat ulama atau saat akan menghadiri pengajian. 

Apakah tidak bertentangan dengan syariat Islam? Tentu saja tidak. Syaikh Ibnu Hajar memberi batasan bahwa batas minimal berbusana bagi wanita ialah batas kesopanan di masing-masing wilayah. Karena itulah wanita berkebaya sudah amat sangat sopan, bahkan merupakan pakaian kehormatan. 

Imam Nawawi Al Bantani juga mempermudah pemisahan perlakuan terhadap aurat wanita, yakni dibagi 4. 

Pertama, ketika sholat maka aurat yang wajib ditutup ialah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. 

Kedua, aurat yang wajib ditutup ketika bertemu dengan sesama wanita sama dengan aurat pria. 

Ketiga, aurat yang wajib ditutup ketika bersama suaminya ialah sama dengan aurat pria. 

Keempat, aurat ketika bertemu dengan orang asing non muhrim ialah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, atau batas kesopanan yang berlaku. 

Masih menurut Imam Nawawi pula, adapun bagi wanita yang bekerja dan terpaksa membuka auratnya, maka tidak apa-apa. Sebab, mencari nafkah lebih wajib daripada menutup aurat.

Demikian detailnya para fuqoha' terdahulu telah mengupas habis masalah ini sedemikian apiknya dengan khazanah keilmuan yang luar biasa. 

Lalu muncul generasi yang menabrakkan ijma' para Ulama Nusantara yang nyata-nyata faqihu fiddin, menguasai 'ulumul qur'an dan 'ulumul ahadits dengan pendapat orang yang tidak jelas sanad keilmuannya dengan langsung menukil Qur'an Hadits. 

Seakan-akan apa yang didhawuhkan para Ulama Terdahulu kita bertentangan dengan Qur'an Hadits. Kita akan mendengar kalimat sakti: Landasan Islam itu Quran Hadits bukan Pendapat Ulama. 

Yang benar itu yang ada di Qur'an dan Hadits bukan kebiasaan para Nyai jaman dulu. Lalu menuduh mereka yang ingin kembali ke busana kebaya sebagai usaha pemurtadan terselubung. 

Aku lebih percaya Ulama Muktabar daripada mereka yang hanya bisa mencaci maki dan mengkafirkan. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia dan menjadi rahmat bagi semesta? 

Lalu sesungguhnya, mengikuti siapakah mereka yang suka mengkafirsesatkan orang lain, mencaci maki, menuduh, menfitnah dan sangat kasar ketika bertutur/menulis? 

Selamat berbusana tradisional kembali. Kebaya hanya salah satu khazanah kita, masih ada yang lain semisal baju bodo atau baju kurung. 

Berkain juga tidak hanya batik. Masih ada pula jumputan, sasirangan, tenun, cinde, manik, dan lainnya juga. 

Arab Saudi sebagai basis "pemurnian Islam" dan pernah beranggapan bahwa busana Islami adalah berhijab lebar dan bercadar, kini mulai menyadari esensinya. Mereka mulai memperkenalkan kembali busana khas masing-masing provinsi. 

Semoga ibroh ini bermanfaat bagi mereka yang berakal. 

Bangga menjadi Indonesia.. 

 

(Sumber: facebook Shuniyya Ruhama)

Saturday, August 3, 2019 - 22:30
Kategori Rubrik: