Berkaca pada Jakarta

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Warga Indonesia nyaris tau semua bagaimana Jakarta saat pilkada yll. Menurut sy itulah pilkada paling brutal, bengis, amoral, dan penuh penistaan. Penistaan agama, suku, kema'rufan, budaya, sosial, dst.

Begitu banyaknya penistaan secara kolektif wkt itu dilakukan hanya karena ingin berkuasa. Korban paling luar biasa adalah; bahwa kita kehilangan akal sehat, kehilangan sosok yg punya integritas tinggi, pengabdi dan rasa nasionalisme yg tidak tertawar. Dia adalah Ahok, yg dihajar oleh penggalan ayat, dan dia dipenggal oleh akal sesat para peneriak atas nama Tuhan sekaligus berkelakuan setan.

 

 

Terpilihnya Anies, sosok muslim yg dipersonafikasi seolah mampu dan punya segala ilmu, ternyata mulutnya bau, akalnya buntu, hatinya membatu outputnya tipu-tipu. Warga Jakarta beli hantu, gubernurnya songong seperti bau kali Sentiong. DP nol persen, jadi nol besar seperti akalnya yg dangkal.

Jakarta miniatur dan test case area utk Indonesia sbg target berikutnya. Syukurnya kita disuguhi nol prestasi dan kelakuan banci menari-nari, sehingga pikiran yg waras pasti bs mawas bhw dagelan pilkada Jakarta jgn terulang utk Indonesia, cukuplah Jakarta sbg korban tabrak lari dan kecelakaan perpolitikan yg menyisakan luka menganga atas kelakuan para manusia rendah moral berpikiran dangkal dgn otak kental.

Sekarang tontonan dilanjutkan, wagubnya bakalan diduduki manusia bangke ex koruptor dgn cara berpikir kotor. Pilihan Gerindra utk kadernya yg alumni KPK adalah show of pikiran gila. Bagi kita yg waras sdh bisa menilai bhw itulah DNA mereka. Lucunya, teriak-teriak mau memperbaiki Indonesia, lha Jakarta yg hancur krn ulah mereka, dan si koruptor masih dipiara, mau ngurus negara pula gayanya. Setolol-tololnya keledai dia pasti bs membedakan antara rumput dan sabut.

Cukup Jakarta dibuat berantakan, jgn Indonesia kita biarkan. Pak JK jg harus merasakan krn dulu beliau jg pendukung Anies Baswedan. Kalaupun beliau pura-pura lupa, saya yakin dalam hatinya, ia berkata, dia telah membuat kesalahan. Semoga hal itu menjadi pelajaran.

Bagaimana PS kata teman saya, saya jawab, PS, dia pernah jadi macan jadi-jadian dan sekarang jadi macan tp gak kelihatan, karena dia ada dibalik kejadian yg selalu mengejutkan. Makanya kita jgn mau dijadikan bulan-bulanan krn Indonesia butuh kejayaan, bukan retorika murahan, apalagi pakai bendera hitam. Tulisannya gak jaminan karena yg nulis iblis, yg bawa kejalan adalah para setan, yg penting bagi mereka adalah uang jalan. Kasian mrk tak mengerti dimainkan oleh materi murah, dan rela berdarah berhadapan dgn saudaranya yg sedarah.

Kita sdg memilih presiden, bkn promotor pertandingan yg cuma naik kepanggung utk meraih untung. Maka pilihlah presiden, jgn politikus kelas rekreasi yg cuma suka bicara tanpa data, dan mengkerdilkan bangsanya. Dia bukan calon pemimpin, karena dia cuma pemimpi yg cuma bisa berhalusinasi, yg diucapkan cuma fiksi dan janjinya akan tetap berujud janji krn janji dianggap sdh memberi bukan dalam bentuk raealisasi.

Kalau nanti ada realisasi, jangan-jangan yg keluar malah HTI yg disanjung sepenuh hati padahal kelakuannya melebihihi PKI.

TIDAK ADA ALASAN KE LAIN HATI KARENA JOKOWI SDH TERBUKTI BISA MEMBENAHI, YG SONO MSH "NANTI", TAPI KELIHATAN GAGAL LAGI, KARENA SEJATINYA TDK MUMPUNI.

#jokowilagi

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, November 1, 2018 - 22:45
Kategori Rubrik: