Berjilbab Tapi Telanjang

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Penting bagi kita untuk sekali lagi mempelajari definisi jilbab.

Sedih melihat fenomena akhir-akhir ini. Dulu muslimah marah dieksploitasi, tapi kini berbangga hati 'direndahkan' di depan umum, bahkan merendahkan diri sendiri.

"Berjilbab tapi telanjang" rasanya kontradiktif, namun tersebutlan dalam sebuah hadits dengan ancaman yang tidak main-main.

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Hadits ini mengkisahkan kelompok kedua yang diancam tidak mencium bau surga, yaitu kaum wanita. Kelompok yang juga sejatinya dibagi 2:

1. Secara fisik kaasiyatun ‘aariyatun, berpakaian tapi telanjang alias tidak menutup aurat dengan sempurna. Entah itu terbukanya aurat, di mana yang boleh terbuka hanya wajah dan telapak tangan (atau beberapa pendapat yang menyatakan wajibnya niqab). Atau tertutup tapi tipis dan ketat, menampakkan lekuk tubuh.

2. Secara kelakuan yang menggoda, mumiilaatun maailaatun, berpakaian tertutup sempurna tetapi berjalan berlenggak lenggok. Tidak hanya itu, bahkan sengaja berjalan hingga terdengar perhiasan kaki meskipun tertutup:

Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nuur: 31).

Mereka itu مَائِلاَتٌ menyimpang dari jalan yang benar, مُمِيْلاَتٌ menyimpangkan orang lain dari kebenaran karena fitnah yang dimunculkan dari mereka.

Kerusakan ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275).

Puncaknya adalah era sosial media, ketika selfie terfasilitasi dengan segala kecanggihan kamera zaman ini.

Belum lama viral orang yang mengaku ustadz tapi dengan bangga memasang foto istrinya melepas jilbab karena menganggab jilbab itu tidak wajib. Ini bukan hal yang baru, pemikiran yang awalnya dibawa Bapak Quraish Shihab di tafsirnya. Beliau sendiri hanya mengekor pendapat seorang da’i liberal Mesir, Muhammad Sa’id Al-‘Asymawiy dalam kitabnya yang berjudul “Haqiqot Al-Hijaab wa Hujjiyatul Hadits”. Buku inilah yang menjadi pegangan dan menjadi bahan penukilan Bapak Quraish Shihab dalam menelurkan fatwa tidak wajibnya jilbab, dan menyebar luas ke nusantara. Puncaknya gerakan No Hijab Day awal bulan ini.

Setelahnya, heboh lagi perempuan yang menantang mubahalah seorang da'i kondang untuk membuktikan jika jilbab tidak wajib, dengan kompensasi uang 2 milyar. Modus?

Alasannya gara-gara jilbab kekurangan vitamin D, sehingga terkena autoimun dan harus melepas jilbab. lalu berkesimpulan jilbab tidak wajib.

Padahal defisiensi vit. D sangat lazim di negara barat yang hampir sepanjang tahun seperti winter. Summer mungkin hanya sebulan. Apa lantas matahari akan disalahkan juga?

Golongan kedua, juga tak kalah parahnya. Melihat fenomena muslimah bercadar tapi sengaja bercelak, bermaskara bahkan bulu mata palsu, melukis alis mata, lalu hobby selfie berkedip-kedip di depan kamera. Jadi fungsi cadar sebenarnya apa?

Menghentakkan kaki agar gelang kaki yang tertutupi sengaja terdengar saja dilarang. Ini malah 'perhiasan wajah' sengaja ditampakkan?

Kesannya sepele, tapi ancamannya tidak main-main. Mencium bau surga saja tidak? Masih berani berharap bisa masuk ke dalamnya?

Perhiasan yang dilarang untuk ditampakkan dalam ayat An-Nuur:31 mencakup semua jenis perhiasan, baik yang berupa anggota badan mereka maupun perhiasan tambahan yang menghiasi fisik mereka.

Tidak cuma itu, mereka terang-terangan menjadi 'sales poligami', menarget pria bersuami untuk jadi istri kedua, ketiga dan keempat. Ada juga yang bercadar jualan obat kuat sambil memamerkan testi para pelanggannya berapa sesi dan sebagainya. Seolah-olah syariat Islam hanya berputar sekitar poligami dan urusan syahwat semata.

Parahnya ini bukan cuma satu dua, tapi juga gerakan masif tertsruktur. Ada groupnya tersendiri, diisi wanita-wanita bercadar. Baru saja mengadakan kopdar memfasilitasi taaruf poligami pekan lalu.

Sementara dalam hadits jelas terdapat ancaman keras yang menunjukkan perbuatan tabarruj termasuk dosa besar, karena dosa besar adalah semua dosa yang diancam oleh Allah dengan Neraka, kemurkaan-Nya, laknat-Nya, azab-Nya, atau terhalang masuk Surga. Seluruh kaum muslimin bersepakat menyatakan haramnya tabarruj, sebagaimana penjelasan imam ash-Shan’ani [Hiraasatul fadhiilah, hal. 107-108]

Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi memasukkan perbuatan tabarruj ke dalam dosa-dosa besar berdasarkan hadits di atas, dalam kitab beliau “al-Mu’lim syarhu shahiihi Muslim”, bersanding dengan dosa-dosa besar lainnya semisal membunuh, berzina, riba, dll (1/243).

Imam adz-Dzahabi menjadikan perbuatan tabarruj yang dilakukan oleh banyak wanita termasuk sebab yang menjadikan mayoritas mereka termasuk penghuni Neraka [Jilbaabul mar-atil muslimah”, hal. 232].

Sedang tabarruj sendiri juga nyata-nyata dilarang dalam al-qur'an:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarruj orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

التبرُّج: إِظهار الزِّينة وما يُستدعى به شهوةُ الرجل

“Tabarruj: menampakkan bagian yang indah (aurat) dan segala yang mengundang syahwat lelaki (perhiasannya).” [Zadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, 3/461].

***

Sesungguhnya syaithan masuk lewat 2 pintu: syahwat dan syubhat (kerancuan pemahaman dalam agama).

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan (syubhat)” (H.R Ahmad).

Fitnah syubhat ditangkal dengan keyakinan (di atas ilmu yang benar, pemahaman tentang definisi jilbab yang benar), adapun fitnah syahwat ditangkal dengan kesabaran. Oleh karena itu Allah Ta’ala menjadikan kepemimpinan agama bergantung kepada dua perkara ini (sabar dan yakin atas ilmu). Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar dan meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As Sajdah 24).

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Saturday, February 8, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: