Berjilbab dan Bawa Salib, Kenapa Tidak?

ilustrasi

Oleh : Chitra Retna

Turun puncak Kelimutu kemarin, sempat beli hiasan gantungan kunci berbentuk salib. Lucu, dari tenun, sekarang bergantungan di tas saya.

Yahh kelebay-an apa lagi, pake salib. Berjilbab kok bawa-bawa salib.

Saya tergerak pakai gantungan kunci salib kecil ini, sebabnya sederhana. Begitu lihat salib itu, saya sontak teringat Ustadz Abdul Shomad dan kontroversinya tentang salib. Kebanyakan orang greget masalah ucapannya tentang salib membawa jin kafir yang dianggap offside pada teman beragama Kristen/Katolik. Tapi bagi saya justru bagian setelah itu (di video ceramahnya) yang menggiriskan hati.

"Lihat salib? Setan. Ada jin kafir. Kalau di rumah sakit ada salib, tutup. Berapa banyak orang Islam yang kafir di ujung hidupnya karena mati dalam keadaan ada salib. Kalau kau tak sanggup mengkafirkan dia waktu hidup, kafirkan waktu mati. Kalau tak sanggup juga, antar ke kuburnya pakai ambulan bertanda salib, tanda kafir. (Jadi) balik dari sini beli pilox, hapus itu tanda salib di ambulans." (UAS)

Kira-kira, generasi muda seperti apa yang Ustadz harapkan, dengan ceramah begini? Generasi yang nyakuin pilox dan sibuk menghapus tanda salib di ambulans? Yang panas setiap lihat simbol palang?

Senada, ceramah Ustadz Ahmad Baequni tentang simbol Masjid Al Shafar: kalau kita sholat di depan lambang mirip satu mata dajjal, artinya kita menyembah dajjal. Ustadzku yang baik, bagaimana menjelaskan pada anak-anak yang bertanya: memang, kalau kita sholat menghadap meja makan, kita menyembah meja makan ya? Di belakangnya meja makan ada tembok, dibelakangnya lagi ada taman, mobil, terus sampai ke ka'bah, apa itu semua kita sembah semata karena posisinya ada di depan kita sholat? Bahkan sholat di depan Ka'bah, apa kita sedang menyembah Ka'bah?

Anak-anak muda ini Ustadz, adalah anak-anak yang kelak kira-kira topik ngajinya di masa mereka akan begini. Apa lebih baik universal approach atau targeting approach ya untuk pelayanan kesehatan itu, mana yang lebih dekat dengan prinsip Islam yang membela dhuafa, gimana kita mengetes mana dari kedua sistem itu yang lebih terbukti membela dhuafa? Kalau ada blackout PLN di Jakarta seperti kemarin, prinsip maqosyd syariah menjaga jiwa dan harta lebih cocok kalau ada kompensasi ke semua pelanggan atau mending buat perbaiki sistem?

Anak-anak ini akan memahami dajjal itu adalah sistem-sistem yang gagal menjaga manusia. Bukan tanda palang. Dan mereka memahami dajjal alias sistem yang buruk akan muncul & membesar setiap kali kita melakukan satu dan satu saja sebabnya: otak tidak dipakai berfikir rasional. Mereka 'mengaji' artificial intelegence, internet of thing, game theory, big data dst, lalu tanpa perlu embel-embel identitas mereka bekerja menghindarkan dajjal (sitem yang buruk) agar akal, jiwa, keturunan, keyakinan & harta manusia, semua manusia tanpa terkecuali, terjaga, sesuai titipan maqosyd syariah.

Mereka gak akan bawa-bawa pilox di saku, Ustadku yang baik. Gak ada waktu untuk hal gak masuk akal seperti itu.

Jadi saya pasang gantungan kunci salib ini semata sebagai penanda mimpi saja. Bahwa dalam perang discourse (tentang Islam) seperti ini (perang ide yang wajar dan sehat), semoga akan makin banyak muncul generasi yang 'keluar dari simbol', Islam yang rasional, berpikir, damai, menjaga semua orang tanpa kecuali, khususnya dhuafa/tertindas, siapapun yang tertindas itu.

Saya yakin gak ada jin kafir ikut dalam tanda salib di tas saya ini. Yang ikut cuma ingatan Kelimutu, ibu-ibu meronce tenun berjualan untuk keluarganya, dan Soekarno muda dalam pengasingan memimpikan keberagaman yang sejahtera waktu menuruni Kelimutu setiap pagi.

Sumber : Status Facebook Chitra Retna

Tuesday, September 3, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: