Berita dari Kampung Halaman

 

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Saya berharap Pilpres dan Pileg 2019 ini cepat berlangsung dan semua kehebohan ini segera selesai. Sebab, pesta demokrasi ini sudah merusak pemandangan kampung saya. Seharusnya saya melihat hamparan sawah yang indah, padi yang menguning, hutan desa yang menghijau, suasana kabut pagi yang mistis, senja yang romantis, langit keemasan, jelang matahari terbenam, udara sejuk khas pedesaan. 

Tapi semua kini terhalang oleh baliho baliho caleg dan alat alat peraga kampanye. Pilpres kali ini menguras emosi saya. Juga emosi warga di kampung kami. Untunglah sekeluarga besar sudah satu suara. "Saya pilih Jokowi. Anak anak kecil belum bisa ngomong sudah punya hape di zaman Jokowi. Jalanan beraspal sampai ke pelosok karena Jokowi, " kata Bude saya. 

 

"Dulu saya pilih Prabowo. Tapi sekarang saya sengit sama pendukungnya. Saya sengit sama Fahri Hamzah, Riziek (Shihab), (Ahmad) Dhani, " kata putra sulungnya. 

Mbakyu saya yang pensiunan fanatik Golkar. Karena dia pensiunan PNS jadul. Katanya di zaman Golkar semua enak. Dia senang Golkar sudah dukung Jokowi. 

Saya cek kawan kawan kecil saya sambil lalu - sembari nanya kondisi desa. Dan mereka pro Jokowi . Di kampung saya pilpres lalu dimenangkan Jokowi dan ootimis akan menang lagi kali ini. Saya tak ada masalah .

Secara kedaerahan sebenarnya Banyumas Pro Prabowo - karena Sumitro Djojohadikusumo asal Banyumas dan Kebumen. Tapi Prabowo bukan Sumitro. Bukan sama sekali, meski bapak anak itu saling menyayangi. 

Saya mencemaskan kondisi masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia pada umumnya yang sudah terbelah akibat pilpres 2019 ini. Politisi busuk telah menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan - khususnya sejak Pilgus DKI Jakarta lalu. Ada yang sengaja mengumbar kebencian - menyebarkan isu SARA, meniru gaya pemilu di Tunisia yang menggunakan tempat ibadah untuk memgobarkan kebencian, menyebabkan perpecahan di antara anak bangsa.

Ada golongan yang merasa paling suci, paling beragama dan menistakan sesamanya yang berbeda pilihan - warga seagama dan juga tega menista agama lain . Utamanya kaum minoritas. Sungguh kejam. Dzalim. 

Bibit perpecahan ini sangat membahayakan. Kekuasaan yang membutakan mata membuat sekelompok yang telah gagal - terus memaksakan ambisinya. Rezim pencuri di masa lalu ingin berkuasa lagi dengan mamanipulasi rakyat dan ingin menguras kembali kekayaan bangsa ini.

Saya ingin pilpres ini dimenangkan oleh capres dari rakyat jelata - bukan anak penggede - yang menjual nama rakyat. Bukan keturunan keluarga elit yang menumpuk kekuasaan dan kekayaan dari rezim otoriter masa lalu.

Bukan jendral pecatan, bukan pengusaha yang tidak bisa menggaji karyawannya dengan baik - sehingga didemo karyawannya sendiri - dan perusahaannya terlibat utang triliunan di bank. 

Bukan politisi yang didukung kelompok militan radikal - bukan tokoh yang keluarganya bercerai berai - bukan figur yang agama dan spiritualnya tak jelas - yang ditokohkan oleh para politisi berkasus - untuk menutupi kejahatannya. 

Saya ingin kampung saya indah lagi. Saya ingin melihat burung burung bangau beterbangan di sawah, di senja indah, dengan air mengalir di sungai sungi kecil di antaranya . Saya ingin suasana pedesaan seperti dulu. Di zaman kanak kanak yang sangat nostalgis. ***

Sumber: Facebook Dimas Supriyanto

Sunday, April 7, 2019 - 08:30
Kategori Rubrik: