Berita dari Jerman

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Tulisan dibawah ini bersumber dari tuturan Anak Lanang kami via percakapan ragam tulis atau bicara, via WA.

Anak Lanang sudah lebih dari 3 tahun mukim disana. Kuliah di kota kecil Rüsselheim, dekat Frankfurt. Tentu saja sudah lancar ngomong bahasa Jerman, dan baca2 koran Jerman.

Pernah jadi ketua PPI, Persatuan Pelajar Indonesia, Frankfurt dan sekitarnya. Sekarang jadi Ketua semacam DPR nya PPI Jerman. Selain itu juga Ketua Komisi Kepemudaan PPI Dunia.

Disamping itu Anak Lanang ikut juga PPMI, Organisasi Mahasiswa 'underbow' NU, juga sekalian nimbrung di NU, Nahdlotul Ulama. Semua Cabang Istimewa Jerman.

Biar ngerti semua dulu. Semua yang dituturkan bukan berita dan data berkelas 'abal2' . . .

Apartemennya persis di belakang kampus. Di sebelah kiri ada toko bunga. Tampilannya cantik berpagar kawat rendah, dengan kanan-kiri dan belakang ada semacam kebun bibitnya.

Sebelah kanan, dipisah jalan setapak, terdapat sebuah Apotik Besar. Keluar pintu Apartemen 3 lantainya, Anak Lanang mengarah ke kanan tembus area Kampus. Ke kiri sampai di jalan. Depan Apotik ada halte bis. Di seberangnya juga. Sebelah Apotik ada pangkalan taksi. Ada beberapa cafe disitu. Jual kebab, jual pizza, kopi, dan lain-lain.

Depan apotik ada klinik. Jangan dibayangkan seperti klinik disini, disana gede. Kayak rumah-sakit. Apa disana nyebut rumah-sakit itu klinik, saya kurang ngerti.

Kalau belanja ke supermarket. Ada dua. Cukup jalan kaki. Keduanya supermarket besar dan terkenal. Lengkap.

Kenapa perlu saya tulis ini ? Biar tahu, semua yang dituturkan Anak Lanang, tentang keadaan lokasi2 utama itu, bukan kelas 'katanya2'. Tapi benar laporan pandangan mata. Saksi mata . . .

"Ndak, Pak. Baru Bayern dan Saarland," jawab Anak Lanang atas pertanyaan saya tentang lockdown. Tanggal 26 Maret 2020. Saya tidak melanjutkan bentuk lockdown-nya . . .

Jerman terdiri dari 16 propinsi, lebih tepat negara bagian, masing-masing punya 'pemerintahan' sendiri. Bayern dan Saarland tadi salah dua-nya. Ada bentuk 'semacam' kabinet yang urus macem2.

Tiga Kota Besar, Berlin, Bremen, dan Hamburg, punya kelas sebagai Negara Bagian. Sehingga Bremen pun menjadi Negara Bagian terkecil, seluas 430 kilometer persegi. Sedikit lebih besar dari kota Surabaya . . .

Apartemen Anak Lanang ada di 'propinsi' Hessen. Tak ada perintah 'lockdown' disitu. Namun karena ada kebijakan yang persis seperti Indonesia terapkan, seperti 'jaga jarak, jangan keluar jika tidak terlalu perlu, dan lain-lain, sebabkan kota, minimal area sekitar Anak Lanang mukim jadi sangat sepi . . .

Apotik dan klinik jadi sepi. Bis masih ada. Namun nyaris tak ada penumpang. Yang lebih menyedihkan, lapor Anak Lanang, tak ada lagi taksi yang mangkal dekat situ. Toko bunga, cafe kebab, pizza, semua tutup . . .

Tak ada orang bepergian jauh yang butuh taksi. Seperti kami sekeluarga selalu memakainya menuju bandara, saat pulang ke Indo dengan banyak koper. Tak ada lagi juga yang sempat beli bunga, pizza atau kebab. Semua tutup . . .

Supermarket besar disana ternyata terjadi aksi borong juga. Terutama tisu toilet. Disana orang setelah buang air besar atau kecil, bersihkan dengan tisu toilet. Tidak dengan air seperti kita.

Ada sempat sepi stok barang2 di supermarket itu. Diiisi segera kosong. Diisi lagi kosong lagi. Lalu muncul aturan pembatasan jumlah pembelian. Semisal satu orang cuma boleh beli sekian gulung tisu, atau sekian kilo daging.

Masalah belum selesai. Dengan ada aturan itu pun para orang tua, yang tentu saja bergerak lebih lamban, sering ndak kebagian barang. Disana harapan hidup lebih tinggi jadi banyak orang2 tua yang hidup sendiri.

Lalu muncul aturan lagi. Ada jam2 tertentu yang hanya orang tua saja boleh berbelanja. Apakah pemerintah ndak siap, aturan muncul terlambat ? Dalam urusan Pandemi kali ini, tak ada siapa pun yang siap, tak ada satu aturan pun boleh disebut terlambat . . .

Kemaren sore Anak Laporkan, Menteri Keuangan negara bagian dia tinggal, Hessen, ditemukan wafat di kereta. Dalam toilet. Menurut polisi beliau diduga bunuh diri . . .

Mungkin beliau tak tahan melihat kondisi negerinya yang dilanda wabah Corona. Data terakhir sejumlah 62 ribu lebih terpapar virus, telah 541 meninggal. Ini setara 0,87 persen kasus. Padahal jumlah penduduk Jerman 'cuma' sekitar 83 juta orang. Luasnya pun 'cuma' sekitar 3 kali pulau Jawa. Tak ada laut yang memisah-pisah . . .

Mungkin beliau tak tahan melihat dari jendela kereta atau saat berjalan kaki menuju kantor atau sebaliknya saat pulang ke rumah, ada banyak toko atau tempat2 usaha pada tutup. Ada ratusan sepanjang jalan yang dilaluinya. Apakah ekonomi segera pulih, sehingga mereka bisa buka usaha lagi . . .

Beliau pun akhirnya tak tahan menanggung beban. Memilih menyingkir dari semua yang dilihat dan dipikirnya, membunuh dirinya sendiri . . .

Anak Lanang disana benar-benar membuat kami berdua bangga. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dia taati aturan untuk tinggal diam saja dalam kamarnya. Jika terpaksa keluar untuk belanja dua taati aturan jaga jarak. Kumpul teman2pun cukup via web atau skye, atau cukup nulis dan bicara di WA.

 

Seperti galibnya Orang Jawa, meski Bapaknya suka 'Joncak-jancuk', dua tetap 'ugêmi' tepo-sliro. Menempatkan dirinya sebagai orang lain. Dia ndak ikut-ikutan mborong bahan makanan.

Mungkin dia teringat orang2 tua yang selalu terlambat ikut antrean. Atau para teman Indo-nya yang lagi kesulitan. Ada banyak anak-anak 'kita' disana, disamping kuliah, terpaksa membanting tulang bekerja. Untuk bayar kos dan untuk makan.

Mereka bukan anak orang kaya, hanya semangat dan tekad yang menjadi bekal utama, untuk tuntut ilmu jauh dari rumah. Ada yang jaga toko, jaga anak orang yang ditinggal kerja ibu-bapaknya, ada pula yang jadi kuli bangunan. Sekarang kerjaan itu nyaris tak ada lagi . . .

Kita lihat negara sepintar dan sekaya Jerman pun kesulitan hadapi Corona. Tak ada pilihan lain, ini waktunya bagi kita rapatkan barisan untuk 'perang' melawan bencana ini.

Tak ada yang siap, tak ada kata terlambat. Ini bukan pertaruhan politik, ini perjuangan kemanusiaan.

Kurangi nyinyir, kritik yang ndak membangun, kata2 yang hancurkan semangat. Jangan cuma cari panggung, seperti yang kemaren2. Bergaya seperti koboi. Dulu tunggangi agama, sekarang tunggangi wabah.

Bantu sesama. Jika tak mampu atau bahkan tak mau, cobalah diam saja sesaat, itu sudah sangat bermanfaat. Karena tak ada jaminan korban berikutnya bukan kita, bukan orang tua kita, bukan saudara kita, bukan pula kerabat atau sahabat kita. Tak ada yang mampu pastikan . . .

Waktunya kita kita bersatu, menjaga adab, taati aturan . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Tuesday, March 31, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: