BerIslam Dengan Evidence Based

ilustrasi

Oleh : Chitra Retna S

Seneng baca2 ekonom Islam seperti Timur Kuran yang Iqro: berfikir bebas dan mengedepankan evidence based saat menguliti bagian2 muamalah, seperti waqaf, zakat dll. Beliau banyak meriset tema2 spt gimana waqaf menjadi institusi yang banyak gak sehatnya. Zakat sebagai pilar Islam yang paling gak dipahami dan kurang jelas efeknya ke kemiskinan. Struktur otoritarian Arab sebagai penyebab kemunduran negeri ini.

Ada yang langsung alergi & gelisah dengan cara pandang begitu? Mungkin tandanya kadar "memberhalakan/mensucikan/taken for granted semua hal/simbol Islam" masih cukup kuat. Semua yang "mempertanyakan" sisi-sisi Islam yang mainstream, yang dianggap baku, berasa seperti mempertanyakan keseluruhan eksistensi Islam. Gak bisa itu. Islam suci dan pasti bener sampai ke semua detilnya.

Padahal engga banget ya. Bagian teologis Islam mungkin lebih bersifat mutlak (inipun ada batas2 dimana mempertanyakan untuk mendalami itu sehat dibanding taqlid buta). Tapi bagian muammalah jelas bersifat dinamis, intinya hanya menjaga yang 5 (maqosid syariah) tapi gimana caranya harus selalu dicari pakai Iqro, pakai akal. Dan bedakan antara mempertanyakan Islam dgn mempertanyakan tafsiran Islam, tafsiran itu haruus selalu dipertanyakan, ditantang, justru supaya matang menjaga umat terhadap situasi yang selalu berubah, bukan dibekuin kayak es dari jaman ke jaman. Prinsip Islam abadi, tapi bentuknya harus terus berubah2 karena si konteks (situasi) juga berubah.

Karena itu ummat Islam harusnya sangat kuat apetite(selera)-nya terhadap evidence based, bukti ilmiah. Poligami diriset dulu, evidence basednya, cenderung baik atau buruk, atau harus dibatasi, apa regulasinya, kalau regulasi gini efeknya diriset dulu, klo regulasi gitu diriset dulu. Zakat diriset dulu. Bunga bank di riset dulu evidence based nya dibanding bagi hasil. Jangan alergi kalau ternyata bunga bank lebih "menjaga" dibanding sistem bagi hasil (udah banyak riset mulai melihat tentang ini). Pakai cadar diriset dulu evidence basednya. Efektif gak "menjaga" perempuan. Wakaf diriset dulu. Riset dalam artian yang beneran, di-scrutinize dengan metode robust, bukan otak atik gathuk mencocok-cocokkan dengan maunya penafsiran.

Tapi sayangnya tidak. Selera muslim cenderung sangat buruk terhadap evidence based, kalau sudah menyangkut praktek beragama. Alergi banget. Dipengaruhi sistem pengajaran Islam yang cenderung dogmatis, terpatok baku oleh tafsiran fiqih. Jadi semacam benda suci, gimanapun konteks berubah, bentuknya gak mau diteliti ulang, dan akibatnya banyak praktek beragama yang jauh dari maksud utamanya: maqosid menjaga yang 5 (diri/nyawa, akal, keturunan, harta, dan agama/prinsip).

Jadi inget tahun lalu seri ngaji reinterpretasi tafsir gender, gimana tafsiran Islam buaaanyak banget yang akhirnya menindas perempuan (kapan-kapan mau nulis ini).

Nulis ginipun udah bakal dituding kofar kafir, liberal, dsb. Tapi gelombang yang ber-Islam dengan akal sehat juga makin membesar sih, sepanjang metode pendidikan kita bisa makin menguatkan rasionalitas.

#itikaf dengan baca twitter

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

Friday, May 31, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: