BerIslam Dengan Evidence Based

Karena itu ummat Islam harusnya sangat kuat apetite(selera)-nya terhadap evidence based, bukti ilmiah. Poligami diriset dulu, evidence basednya, cenderung baik atau buruk, atau harus dibatasi, apa regulasinya, kalau regulasi gini efeknya diriset dulu, klo regulasi gitu diriset dulu. Zakat diriset dulu. Bunga bank di riset dulu evidence based nya dibanding bagi hasil. Jangan alergi kalau ternyata bunga bank lebih “menjaga” dibanding sistem bagi hasil (udah banyak riset mulai melihat tentang ini). Pakai cadar diriset dulu evidence basednya. Efektif gak “menjaga” perempuan. Wakaf diriset dulu. Riset dalam artian yang beneran, di-scrutinize dengan metode robust, bukan otak atik gathuk mencocok-cocokkan dengan maunya penafsiran.

Tapi sayangnya tidak. Selera muslim cenderung sangat buruk terhadap evidence based, kalau sudah menyangkut praktek beragama. Alergi banget. Dipengaruhi sistem pengajaran Islam yang cenderung dogmatis, terpatok baku oleh tafsiran fiqih. Jadi semacam benda suci, gimanapun konteks berubah, bentuknya gak mau diteliti ulang, dan akibatnya banyak praktek beragama yang jauh dari maksud utamanya: maqosid menjaga yang 5 (diri/nyawa, akal, keturunan, harta, dan agama/prinsip).

Jadi inget tahun lalu seri ngaji reinterpretasi tafsir gender, gimana tafsiran Islam buaaanyak banget yang akhirnya menindas perempuan (kapan-kapan mau nulis ini).

Nulis ginipun udah bakal dituding kofar kafir, liberal, dsb. Tapi gelombang yang ber-Islam dengan akal sehat juga makin membesar sih, sepanjang metode pendidikan kita bisa makin menguatkan rasionalitas.

#itikaf dengan baca twitter

Sumber : Status Facebook Chitra Retna S

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *