Berhijab Kena Aids

ilustrasi

Oleh : Siti Maryamah

Lagi rame soal perempuan berjilbab banyak yang kena AIDS ya. Klop deh. Media suka bikin judul bombastis, dibikin misleading untuk gaet rating. Pembaca suka judul provokatif. Dibaca judulnya tok. Ya klop lah buat bikin rame.

Fakta bahwa ibu rumah tangga baik-baik itu menduduki peringkat kedua dalam jumlah penderita AIDS, sudah lama ada. Saya pernah menulisnya, tahun berapa lupa. Ini saya copas, soalnya kalo dalam bentuk link, biasanya gak dibaca, hehehe.

Ini topiknya tukang warung sok intelek, jadi posting ginian. *pasang kacamata 

AIDS DAN RELASI TIMPANG GENDER.

Tanggal 1 Desember nanti, Dunia memperingati Hari AIDS . Peringatan ini adalah momentum untuk mengingatkan umat manusia akan bahaya penyakit yang disebabkan oleh perilaku seksual menyimpang ini.

Bagi kaum perempuan, ada fakta yang sangat memprihatinkan bahwa secara nasional, ibu rumah tangga (IRT) menempati peringkat dua dalam jumlah penderita, setelah wiraswasta.

Data Kementrian Kesehatan menyebutkan bahwa secara kumulatif kasus AIDS di Indonesia sampai Juni 2013 tercatat sebanyak 43.667 orang, dengan komposisi 24.177 laki-laki (55,4%) , 12.593 perempuan (28,8%) dan 6.897 (15,8%) tidak melaporkan jenis kelamin. Sementara untuk kasus HIV sejak tahun 1987 hingga 2013 tercatat 108.600 kasus. Ini merupakan lonjakan, karena data tahun 2012 untuk HIV tercatat 86.762 kasus dan AIDS 32.103 kasus.

Sementara itu, secara umur persentase kumulatif kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 20-29 tahun (35,0%), kemudian diikuti kelompok umur 30-39 tahun (28,2%), 40-49 tahun (10%), 15-19 (3,2%), dan 50-59 tahun(3,0%).

Dari komposisi profesi, jumlah kasus AIDS tertinggi adalah WIRASWASTA (5.131), diikuti IBU RUMAH TANGGA (5.006), tenaga non-profesional/karyawan(4.521), buruh kasar (1.746), penjaja seks (1.712), petani/peternak/nelayan(1.663), dan anak sekolah/mahasiswa (1.089).

Faktor risiko penularan terbanyak melalui heteroseksual (59,9%), penggunaan jarum suntik (17,9%), diikuti penularan melalui perinatal (2,7%), dan homoseksual (2,4%).

AIDS DAN BAHAYANYA

AIDS (Acquired ImmuneDefiency Syndrome) adalah serangkaian gejala (sindrom) yang disebabkan oleh rusaknya sistem kekebalan tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh rusak, maka penderita akan mudah terkena infeksi oportunistik yang ringan sekalipun, dan mudah pula terserang tumor. Penyakit ini disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Sejak diketahui pertama kali di Afrika pada tahun 1981, AIDS diperkirakan telah membunuh lebih dari 25 juta orang di seluruh dunia. Sementara penyebaran AIDS di tanah air telah menjangkau 348 (70%) dari 497 kabupaten/ kota di seluruh Indonesia.

Penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Perlu waktu bertahun-tahun bagi virus HIV untuk berkembang menjadi AIDS. Kelompok yang rentan terhadap penyakit ini adalah mereka yang suka bergonta-ganti pasangan seks dan para pemakai narkoba yang menggunakan jarum suntik secara bergantian.

Data bahwa ibu rumah tangga (IRT) ada di peringkat dua jumlah penderita AIDS tentu memprihatinkan, mengingat bahwa dilihat dari faktor resiko, IRT seharusnya bukan merupakan kelompok rentan HIV/AIDS. Sementara sub populasi penjaja seks, sebagai kelompok dengan perilaku seks paling beresiko terhadap AIDS, justru hanya menduduki ranking lima.

Jika temuan bahwa wiraswasta dan IRT mendominasi jumlah penderita AIDS, sedangkan modus penularan yang paling dominan adalah hubungan heteroseksual, maka bisa diperkirakan IRT ODHA (Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS) adalah istri dari wiraswasta ODHA. Jangan lupa pula, bahwa data penderita AIDS laksana fenomena gunung es yang permukaannya hanyalah sebagian kecil dari fenomena sebenarnya. Bisa diperkirakan, jumlah penderita sebenarnya lebih besar dari yang terdata.Menyedihkan.

RELASI TIMPANG GENDER

Jual beli layanan seks adalah salah satu pemicu merebaknya AIDS. Hubungan seks semacam ini menurut agama disebut zina dan termasuk salah satu dosa besar. Ironisnya, untuk dosa seserius ini, masyarakat kita biasa membahasakannya sebagai “jajan”. Kata jajan berkonotasi sesuatu yang ringan, menyenangkan, iseng, pendeknya fun! Sangat mungkin diksi seperti ini berkontribusi pada gampangnya orang memutuskan untuk berzina dengan PSK. Toh ini cuma jajan.

Akibat politik bahasa semacam ini sungguh serius. Masyarakat menjadi permisif terhadap perilaku zina pemicu AIDS. Lebih parah lagi, sanksi sosial bagi laki-laki pembeli seks nyaris tidak ada, sementara perempuan penjaja atau pembeli seks diberi stigma negatif. Padahal mestinya semua pezina selayaknya diberi stigma negatif. Ini adalah salah satu bias gender, di mana perempuan selalu dijadikan obyek seksual dan dituntut untuk lebih moralis, daripada laki-laki. Padahal takkan ada PSK kalau tidak ada pengguna jasanya!

PRAKSIS AGAMA BIAS GENDER

Jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar dan menyeluruh sesungguhnya agama akan menciptakan keadilan hakiki. Sayangnya, karena berbagai hal, praksis agama dalam kehidupan nyata kadang tidak mencerminkan hal itu.

Jika kita amati, dalam kajian agama di media maupun di masyarakat, pembahasan soal kewajiban istri melayani suami dalam urusan seks, jauh lebih sering didengungkan daripada kewajiban suami (dan istri) untuk menjaga pandangan dan kemaluan. Ditekankan, adalah dosa jika seorang istri menolak ajakan suami untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Maka, meski sang istri mencurigai atau bahkan tahu bahwa suaminya rawan AIDS, ia tak berdaya menolak kewajiban agama itu.

Padahal dalam ushul fiqh, ada satu kaidah bahwa menolak mafsadat (kerusakan) itulebih diutamakan daripada memperoleh maslahat (kebaikan). Dalam kasus hubungan seks dengan suami ODHA, maka upaya istri untuk tidak tertular (menolak mafsadat), menurut hemat penulis, seharusnya lebih didahulukan daripada pahala melayani suami (mendapat maslahat). Haram pula hukumnya, menjatuhkan diri sendiri dan orang lain dalam kebinasaan (tertular AIDS). Ini jarang dibahas. Sayang sekali.

Mestinya jika hukum agama digunakan untuk menekankan kewajiban istri melayani kebutuhan biologis suami, maka mestinya hukum agama jugalah yang digunakan untuk menghakimi perilaku zina suami. Jangan gunakan standar ganda. Jika istri yang menolak melayani suami dianggap berdosa, maka suami yang berzina dengan PSK jauh lebih berdosa. Kita tahu apa hukum agama untuk para pezina muhson (sudah berkeluarga) itu. Rajam sampai mati!

Sumber : Status Facebook Siti Maryamah

Tuesday, November 26, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: