Berhentilah Membela Indonesia, Nez

ilustrasi

Oleh : Lalu Agus Firad Wirawan

Nasihatku pada Adik cantik nan pintar, Agnes Monica
dimanapun kamu berada...

Salam sukses selalu dariku adinda!
4 hari terakhir adalah milikmu, Nes! Betapa tidak? Kau telah menyita perhatian nyaris 100% Netizen Indonesia! Entah itu di negeri Facebookiyah, Instagramiyah, Twitteriyah maupun Youtubiyah dan WAGiyah, semua orang membicarakanmu gara-gara sebuah kalimat pendek dalam rangkaian beratus alenia wawancaramu di TV Mamarika itu.
Ibarat kata pepatah, akibat nila sepentil, rusak toked sebaskom!
Hanya gara-gara satu kalimatmu yang mengakui dirimu memang tak punya darah pribumi Indonesia itu saja kau langsung dimaki orang sekebon!
Padahal dalam untaian lengkap wawancaramu, kalaulah mereka sedikit agak rajin membaca dan menelaah maksud yang tersirat dalam jawaban-jawabanmu itu tentu ceritanya akan berbeda, entahlah kalau orang yang pertama memelintir katakatamu itu memang punya maksud untuk mencari celah guna menjatuhkan citramu pada bangsa yang kau sangat cintai ini...

Nes,
Kali ini aku tak akan membahas masalahmu itu lebih panjang sayang, meski kutahu masih banyak yang bisa dikupas dari semangat nasionalismemu sebagai anak NON-PRIBUMI tapi masih saja harus menyandang gelar Aseng Keresten Nasaroni Kapeer Ratnadoollah!
Ini tulisan tentang nasib minoritas di negeri yang bangsanya masih gagap berdemokrasi, ini tentang mirisnya nasib saudara-saudaramu yang jumlahnya kurang dari 15% bangsa Indonesia yang konon katanya ber-Bhineka Tunggal Ika...

Agnes,
Mungkin aku adalah satu dari sedikit saja kakak-kakakmu yang sangat menghargai sekaligus bangga dengan kalimat-kalimat manis yang terucap sebagai buah pikiran serta pandanganmu terhadap Indonesia dalam wawancara itu.
Aku sangat terpesona pada kejujuranmu yang mengaku tak punya darah Indonesia tapi sangat bersyukur diberi kesempatan untuk hidup, tinggal, dididik dan berkembang bebas ditengah masyarakat pribumi yang mayoritas secara etis dan agama! Kau jelas sekali mengatakan "meski hidup ditengah masyarakat Muslim, kau diberi kesempatan untuk mengembangkan semua bakat senimu!", sebagai seorang Muslim tentu aku sangat tersanjung Nes!

Tapi Nes... itu cuma sesaat saja ternyata, karena beberapa jam sejak euforia itu melanda benakku, ribuan realita menyedihkan langsung menyeruak dan serta merta menghapus pesona kalimat-kalimat pujianmu itu!
Teringat betapa saudara-saudaramu di seluruh pelosok negeri hingga hari ini masih tak berani bermimpi tentang indahnya Bhineka Tunggal Ika yang kau kampanyekan dengan bangga!
Hitung saja berapa ratus jumlah rumah ibadah yang hingga kini belum bisa dibangun akibat penolakan masyarakat mayoritas yang menganggap diri paling kuat, berkuasa dan serba boleh!

Ingatlah berapa ribu peristiwa penistaan terhadap agama minoritas dan pemeluknya dilakukan di negeri kita yang katanya Pancasilais ini, Nes!

Saksikan betapa latahnya orang-orang yang dikenal sebagai tokoh agama terang-terangan mengeluarkan pernyataan intoleran dari mulai melarang ucapan Selamat Natal hingga mengharamkan segala jenis silaturahmi di hari raya agama minoritas termasuk agamamu Nes!

Lihatlah betapa entengnya para pejabat negara mencanangkan program ramah wisatawan Muslim di daerah non Muslim tanpa mau menelisik apakah daerah non-Muslim itu selama ini memang tak ramah Muslim atau malah sebaliknya dimana daerah Muslim sangat tak ramah non-Muslim!

Apakah ratusan berita pembubaran ibadat pemeluk agama minoritas tak sampai di layar gadgetmu, adinda?

Nes, kamu mungkin tak pernah mendengar kabar pembubaran upacara agama ummat Hindu di Jogja kan? Atau pelarangan ibadah di sebuah Pura di Lombok oleh Bupatinya sendiri? Ah Nes, sesekali akseslah situs-situs berita online yang terdaftar di Indonesia, agar sedikit terbuka wawasanmu dan tak serta merta mengatakan kau diperlakukan sangat baik oleh masyarakat ini walaupun kau sendiri "tak punya darah asli Indonesia alias NON-PRIBUMI Asing (Jerman) campur 2 Aseng (China & Jepang)!!!

Sebagian orang di Amerika mungkin akan terpesona dengan gambaranmu tentang keramah-tamahan orang kita, Nes...
Tapi aku yakin, rakyat negeri Paman Donald itu tak bodoh-bodoh amat, sebagian lainnya pastilah sudah paham apa dan bagaimana sejatinya keadaan terkini di Indonesia.
Mereka pasti mendengar dengan sangat terang dan jelas bahwa di negeri yang bertajuk BHINEKA TUNGGAL IKA ini masih terjadi dikotomi PRI dan NON-PRI, Muslim dan Non-Muslim, Mayoritas dan Minoritas!

Mereka juga pasti sudah sangat paham apa yang terjadi terhadap seorang Meliana, perempuan keturunan Tionghwa yang dihukum 18 bulan hanya karena mengeluhkan kerasnya suara Masjid saat ia sedang sakit! Belum lagi peristiwa runtutannya yang memakan korban rumah ibadah non-Muslim dibakar!
Mereka tahu apa yang menimpa Ahok, pria aseng kapir yang hanya karena berita pelintiran yang direkayasa harus rela kehilangan karier politik dan mendekam dipenjara! Menghapus segala kebaikan yang selama ini ia curahkan tanpa batas pada rakyat yang ia layani!

Mereka mengerti sekali kalau Tionghwa Indonesia yang lebih sering disebut Cina kapir itu sejak lama mengemban "tugas kemasyarakatan" jadi ATM-nya pejabat korup, begundal penguasa hingga preman pasar!
Mereka juga paham bahwa setiap ada kerusuhan sosial maka paling enak menuduh Tionghwa sebagai kambing hitam yang harus rela dijadikan korban dari mulai pembakaran hingga pemerkosaan!

Seluruh dunia tahu itu Nes!
Jadi berhentilah terlalu menyanjung-nyanjung dengan BHINEKA TUNGGAL IKA itu!
Aku tahu dan faham betul kamu ingin mengangkat citra Indonesia setinggi-tinggi yang mampu kamu lakukan untuk membalas jasa bangsa ini yang menurutmu sudah teramat baik pada "orang tanpa darah asli Indonesia" sepertimu, tapi masalahnya dalam bangsa ini masih teramat banyak orang-orang yang tak suka pada kebaikan seperti itu!

Lainkali, Nes...
Kalau ada wawancara sejenis, cobalah bersikap seperti Gubernur Jakarta keturunan Arab Anies Baswedan itu, sebut saja dirimu PRIBUMI meski kau keturunan Tionghwa aseng! Bersikaplah seperti Lieus Sungkarisma yang dengan bangganya memakai kalimat Tauhid agar dapat simpati kaum monaslimin dan bebas mencacimaki Ahok! Dan kalau mau lebih ekstrim lagi jadilah mualaf seperti Felix Siaw agar bisa bebas menghujat Pancasila dan melaknat Jokowi!

Sumber : Status Facebook Lalu Agus Firad Wirawan

Friday, November 29, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: