Berhati-hati Dalam Menjelaskan Sejarah Nabi

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Membahasakan sosok Nabi sebagaimana manusia seperti kita memang sangat rawan. Contoh ada seorang kawan yang jika menuliskan nama nabi atau bahkan Allah, ia merasa perlu menggunakan huruf kapital secara penuh sebagai tanda ia benar memuliakan. Tidak salah tapi kemudian mereka yang menuliskan dengan menggunakan huruf kecil juga bisa jadi bukan karena berniat menghinakan. Bisa jadi tersebab tidak terlalu paham kaidah literasi, atau hal lainnya.

Ada yang merasa cara memuliakan para utusan Allah ini sebaiknya dengan jalan dakwah dan menguasai isi kitab supaya bisa menyebarluaskannya secara detail dan terang. Ada pula yang memilih jalan sembunyi-sembunyi meneladani Nabi dan Rasul lewat berbuat baik, berbakti kepada orang tua, memuliakan wanita atau menjadi seorang dermawan. Dua-duanya sama baiknya sepanjang membawa manfaat yang baik. Jalan mencintai Allah sungguh terbentang luas dan manusia diberi keleluasaan untuk memilih.

Hal yang lebih penting menurut saya ketika terjadi kesalahpahaman dalam proses memuliakan ini adalah reaksi kita sendiri menyikapi hal-hal semacam di atas. Masing-masing orang memiliki cara sendiri bahkan ada yang unik yang tidak masuk ke pemahaman kita. Nanti menjadi masalah ketika kita menyangkutpautkan cara memuliakan manusia-manusia semacam Nabi dan Rasul di ranah adab, tetapi kita sendiri lupa menunjukkan adab pada saat bereaksi. Seperti kalimat pepatah; tong kosong nyaring bunyinya.

Kita menganggap orang lain melakukan penghinaan dan kemudian membalas dengan penghinaan. Bahkan kadang lebih besar dan berat takarannya.

Saya akan selalu belajar mengingat pesan seseorang yang saya hormati ini; tunjukkan keindahan Islam lewat akhlak dan adab. Niscaya orang-orang pun yang bukan muslim akan memahami dan menghormati. Bagaimana kita tidakmengotori wajah Islam dengan ego kita dan adab yang buruk.

Jika pun ada kekeliruan yang orang lain perbuat sebagai manusia dan pengikut Nabi serta Rasul yang mulia, sudah sepatutnya orang lain itu meminta maaf dan menyadari bahwa kekurangan itu datangnya dari kita manusia-manusia yang belum sanggup mencapai kemuliaan setara Nabi dan Rasul.

Tapi, kira-kira apakah Nabi dan Rasul benar bersetuju kita marah dan tersinggung secara berlebihan dan tergiring melupakan teladan-teladan mereka yang antara lainnya adalah menjaga adab, memaafkan lebih sering dan tetap bersetia menjaga ukhuwah antar sesama manusia?

Ujian menjadi manusia biasa yang berharap kemuliaan sungguhlah berat.

Wallahuallam.

Sumber : Status facebook Mimi Hilzah

Wednesday, December 4, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: