Berguru pada Tere Liye

Oleh: Kajitow Elkayeni

Heboh. Begitulah dunia maya ketika satu hal mengejutkan terekspose ke ranah publik. Kali ini penulis novel pop bernama Tere Liye menjadi sasaran bully. Bukan karena bukunya yang ngantri di rak-rak Gramedia, tapi karena sinisme yang ditulisnya dengan logika ruwet. Tere barangkali tidak rugi apa-apa. Para pembaca fanatiknya tak akan berkurang. Pendiriannya juga tak kan tergoyahkan, tak perduli sebanyak apapun cibiran datang. Dengan maqom setinggi Tere, kurcaci-kurcaci Facebook itu ada apanya?

Orang-orang iri yang menganggap cara berpikir Tere Liye buruk, mestinya belajar banyak darinya. Tere adalah master dalam beberapa hal yang sifatnya rahasia. Hanya pemilik ilmu laduni saja yang bisa menguasainya. Ia meretas jalan yang hanya mungkin terjadi di Indonesia. Ia adalah "orang terpilih" seperti Neo dalam film The Matrix. Orang-orang hasud itu mesti berguru jurus-jurus pamungkas yang hanya bisa dipahami oleh orang cerdas.

Pertama, orang-orang harus belajar cara menyembunyikan identitas. Khusus agen BIN yang gagal, Banyu Biru, segera daftar jadi muridnya untuk menguasai trik penyamaran ini. Meskipun nama Tere Liye sudah bukan hal yang asing, tapi identitasnya sebagai laki-laki baru terkuak beberapa tahun ini. Ajib. Dengan jurus rahasia panglimunan, penyamarannya berhasil mengelabui jomblo kurang piknik.

Mereka berhalusinasi tentang sosok perempuan cantik dan cerdas, yang selalu mengumbar kisah cinta yang membius dalam bukunya. Juga motivasi indah dalam status medsosnya. Tere, adalah nama feminin yang dengan cepat mengingatkan sosok penyanyi dengan suara melengking. Dengan rapat informasi rahasia ini dijaga baik-baik. Tapi sayang, imajinasi jomblo itu mesti hangus, karena Tere yang mereka jadikan kiblat berhayal itu adalah laki-laki. Nasibmu mblo.

Ke dua, Tere berhasil membuat argumen yang mencengangkan dengan modal tanpa berpikir. Para pemikir dunia mesti sungkem sehabis membaca statusnya. Misalnya terkait rokok, Tere sanggup mematahkan penalaran normal berdasarkan data hoaks. Karyawan rokok, termasuk perokok dibandingkan penghasilannya dengan pemilik pabrik rokok. Begitu juga mengenai sejarah "kiri" di Indonesia. Tere bahkan terlihat tidak sempat membuka Wikipedia. Ia tak tahu Tan Malaka, pahlawan nasional itu adalah seorang komunis tulen, plus jomblo stadium lanjut!

Tere mungkin akan pingsan jika tahu Soekarno (juga tokoh kemerdekaan lain) adalah pemuja Marx yang fanatik. Atau justru dia akan menghapus sejarah, sebagaimana mengapus status-statusnya itu.

Ke tiga, masyarakat, khususnya penulis harus bersujud di kaki Tere. AS. Laksana yang tulisannya tergolong cerdas itu saja tidak mampu menyainginya. Pasalnya, Tere bisa menjual tulisan buruk secara masif dan terstruktur. Bagaimana jadinya kalau dia serius menulis? Tulisan buruknya saja laris manis tanjung kimpul. Di Gramedia itu buku Tere Liye mendominasi. Ia berhasil memikat pembaca yang you-know-what-i-meanlah dengan cara tak terduga.

Dan kabar yang paling mengejutkan tentu soal kumpulan puisinya yang baru saja diterbitkan, Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta. Sapardi Djoko Damono harus menangis haru. Buku penulis puisi Hujan Bulan Juni itu terpaksa diobral dan dijadikan bubur karena tak laku. Tapi Tere, Seperti halnya Denny JA, mampu membuat terobosan. Mereka telah mengubah sejarah. Mereka membuat puisi jelek dan memaksa dunia mengakuinya. Jika puisi bagus tak laku di pasaran, maka sederhanakan puisimu, karena pembacamu belum sampai ke sana. Begitu barangkali intinya.

Maju terus Tere, karena jomblo kurang piknik dan pembaca hasil karbitan sinetron ada di belakangmu!

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, March 2, 2016 - 16:15
Kategori Rubrik: