Berempati Pada WNI yang Baru Pulang dari China

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Setelah ramai² menuntut pemerintah memulangkan WNI yg ada di China, begitu mereka dipulangkan malah ditolak. Entah apa yg merasuki kalian wahai warga namdua plusplus

Bisa dipahami kekhawatiran warga Natuna, karena WNI yg baru dijemput dari China itu akan dikarantina terlebih dahulu selama 2 minggu di Natuna. Mereka akan diobservasi kesehatannya, dipastikan sehat, baru diijinkan membaur dg keluarga dan masyarakat.

Warga Natuna pasti khawatir, takut tertular virus mematikan itu. Padahal kan mereka sebelum dipulangkan juga sudah di screening pemerintah China. Ada 3 WNI yg tdk boleh pulang krn sakit, 4 lainnya memilih tdk mau pulang.

Artinya, yang dibolehkan pulang itu dipastikan sehat. Pun tetap harus dipastikan lagi kesehatannya setelah tiba di Indonesia.

Warga namdua plusplus itu memang bikin gemes. Awalnya saja sok peduli, kasihan WNI yg masih ada di China, ngomel² di medsos minta pemerintah mengevakuasi mereka sambil membandingkan dg kesigapan pemerintah negara lain yg sudah lebih awal mengevakuasi warganya yg ada di China.

Begitu dievakuasi, entah kepedulian itu hilang kemana. Mereka seolah jijik dengan saudara²nya yang baru pulang dari China itu. Nggak sudi berbagi tempat, meski nggak satu atap. Bahkan mungkin jarak dari rumahnya kilometeran.

Lebih kacaunya lagi, media sekelas viva ikut memanasi dengan membuat judul berita memakai diksi "dikucilkan". Seoalah ingin menggiring opini kalau para WNI itu disingkirkan atau dibuang.

Gimana kalau mereka dikarantina di kotaku? Kalau diijinkan keluarga, aku malah mau jadi relawan yg bantu ngurus mereka. Asal konsumsi suplemen vitamin, istirahat cukup, pakai masker dan gunakan pakaian khusus selama bersama mereka, sebelum pulang bersihkan badan pakai alkohol, mandi dan minum air hangat.

Intinya, segala sesuatu itu ada caranya kalau kita memang punya niat peduli.

Yang menarik perhatianku itu malah berita di TV sore kemarin. Ketika reporter melakukan laporan pandangan mata di lokasi karantina.

Mereka ditempatkan di sebuah tenda. Mirip tenda dome yang pernah jadi tempat tinggal sementaraku setelah terjadi gempa di yogya. Tenda dome yang aku tempati waktu itu berukuran sekitar 6x5 meter, cukup utk sekeluarga.

Tenda utk karantina ini lebih besar. Ada dua jenis tenda, VIP dan biasa. Tenda VIP ada fasilitas AC nya.

Apa rasanya tinggal di tenda dome? Yg aku rasakan dulu yaitu, panas sekali di siang hari dan dingin sekali di malam hari.

Khawatir aja sih, mereka yg sehat malah jadi sakit dengan kondisi tenda yg seperti itu. Apa tidak ada bangunan permanen yg bisa dipinjamkan pemerintah Natuna utk mereka?

Mudah² kekhawatiranku tidak terjadi

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Monday, February 3, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: