Berebut Vaksin

ilustrasi
Oleh : Erta Priadi Wirawijaya
Semua negara saat ini berebut Vaksin. Yang gila-gilaan nyetok Canada, UK, New Zealand, Australia. Mereka menyetok vaksin hingga 2x kebutuhannya.
Kenapa nyetok banyak? Ga ada yang tahu efek protektif vaksin bertahan berapa lama. Bisa 6 bulan, bisa juga sesuai harapan setidaknya bertahan 2 tahun. Mungkin iya bertahan seumur hidup, tapi hal itu harus di antisipasi dengan menyetok vaksin sebanyak-banyaknya hingga 2-3 tahun kedepan.
Vaksinasi mungkin iya berbiaya tinggi, mungkin iya menguntungkan beberapa perusahaan farmasi tertentu. Tapi semua negara ini juga tahu bahwa vaksin memungkinkan mereka hidup normal (kalau ngga mendekati normal), mencegah kesakitan dan kematian akibat COVID19. Harapannya kalau sudah di vaksinasi ekonomi bisa jalan, mau pariwisata lebih aman, sekolah dibuka tenang, dll...
Hari ini 25,8 juta orang di berbagai belahan dunia sudah di Vaksinasi COVID19. Dari segi jumlah orang yang di Vaksin China memimpin dengan 9 juta orang, disusul oleh Amerika Serikat dengan 8 juta orang, Inggris dengan 2 juta orang. Tapi dari segi proporsi jumlah penduduk yang menang Israel, yang sudah melakukan vaksinasi untuk 20% penduduknya disusul oleh Uni Emirat Arab yang sudah melakukan vaksinasi untuk 10% penduduknya.
Kalau ditanya vaksin apa yang digunakan? China menggunakan Vaksin Inaktif buatan Sinopharm, yang katanya manjur mencegah timbulnya sakit COVID19 yang bergejala hingga 79%. Kalau ditanya kenapa menggunakan vaksin Inaktif? Pemerintah China bilang tidak mau ambil risiko atau gambling karena vaksin Inaktif adalah teknologi pembuatan vaksin yang sudah terbukti dan teruji selama puluhan tahun. Vaksin Sinopharm ini juga digunakan luas di Uni Emirat Arab. Vaksin Sinopharm & Sinovac ini sama-sama vaksin Inaktif, jadi soal tingkat keamanan dan efektifitas tidak akan berbeda jauh.
Negara lainnya seperti Amerika Serikat, UK, Israel dan sebagian besar negara Eropa menggunakan vaksin mRNA buatan Pfizer. Efektivitas vaksin mRNA memang terbukti tinggi, setidaknya setelah uji klinis beberapa bulan. Tapi keamanan jangka panjang belum teruji karena ini adalah Vaksin mRNA pertama di dunia.
Kita lihat saja nanti mana yang lebih berhasil, saya sendiri merasa efek protektif vaksin inaktif di kisaran 78-79% cukup baik. Jauh lebih baik dari vaksin flu yang banyak beredar saat ini di kisaran 50%. Poin pentingnya bisa mencegah timbulnya kasus sedang berat yang perlu dirawat. Jadi bisa membantu mengurangi beban RS yang saat ini banyak kewalahan karena harus merawat pasien COVID19 dan menurunkan angka kematian.
Kita doakan saja semua yang divaksin baik itu menggunakan vaksin Inaktif, RNA atau Adenovirus mendapat kekebalan yang diharapkan dan aman, karena kalau berhasil ya semakin cepat kita mengatasi pandemi ini, semakin cepat ekonomi jalan kembali, semakin sedikit orang yang sakit dan menjadi korban COVID19.
Sumber : Status facebook Erta Priadi Wirawijaya
Tuesday, January 12, 2021 - 09:45
Kategori Rubrik: