Berebut Franchise Tuhan dalam Pilkada

Oleh: Eko Kuntadhi
 

Selain berebut suara pemilih DKI Jakarta, Cagub Anies dan Agus sepertinya sedang berebut dukungan Tuhan juga. Agus yang sedang kelabakan karena dukungannya merosot tajam, rupanya sadar, tidak bisa bermain politik bermuka dua.

Kesan yang tertangkap di publik, di belakang layar SBY berdekatan dengan kelompok Islam garis keras yang hobi menjajakan Tuhan kemana-mana. Tapi di hadapan publik SBY seolah menuding kelompok tersebut sebagai salah satu masalah bagi NKRI. Posisi yang sama juga diperlihatkan Agus dalam berbagai komentarnya.

 

Berbeda dengan Anies. Dia terang-terangan mendatangi markas FPI dan semakin menunjukan keberpihakkan pada kelompok ini. Dalam wawancara di acara Mata Najwa, Anies juga terang-terangan mengharamkan memilih pemimpin non-muslim. Sebuah sikap yang bertolak belakang dengan idenya merajut tenun kebangsaan. Rupanya, dia masa bodo dengan tenun kebangsaan, yang penting menang Pilkada.

Jadi statemen keluar karena momen Pilkada saja. Anies sedang berusaha mendapatkan lisensi Tuhan untuk kampanyenya.

Nah, posisioning Anies yang lebih jelas ini, diperkirakan yang membuat sebagian pendukung Agus pindah ke Anies,

Sadar suara 'Tuhan' telah diambil Anies, Agus berusaha merebut kembali. Dalam acara kampanye di Blok S, kemarin, salah saorang ustad pendukungya melakukan baiat agar semua peserta tidak mengalihkan dukungan kepada kandidat lain. Agus mau mengambil lisensi dari Tuhan agar memang Pilkada.

Tampaknya 'Tuhan' sedang diperebutkan oleh Anies dan Agus. Untuk merebut suara Tuhan, Anies sering menggunakan masjid sebagai ajang sosialisasinya. Padahal UU melarang kampanye di rumah ibadah. Ah, jangankan cuma UU Pemilu, wong HTI yang mau dirikan khilafah juga dirangkulnya.

Bisa dipahami jika dalam beberapa survei para pendukung Agus mengalihkan dukungan ke Anies. Apalagi sekarang gerombolan FPI dan HTI berdiri di belakang Aniers. Plus dukungan PKS.

Tampaknya tim Agus dan Anies beranggapan Tuhan membuka franchise sehingga brand-nya bisa digunakan untuk jualan dalam Pilkada. Sekarang mereka sedang berebut mendapat lisensi dari Tuhan untuk memasarkan dirinya.

Biasanya, mereka yang tidak mampu menjual gagasan atau menunjukan prestasi, lebih suka mengajak Tuhan dalam kampanye. Masalahnya, siapakah diantara keduanya yang paling berhak mendapatkan lisensi dari Tuhan?

Kita kuatir, suatu saat nanti akan ada saling gugat di pengadilan : siapa yang paling berhak menunggangi Tuhan untuk kampanye.

(www.ekokuntadhi.com)

Friday, February 10, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: