Berduka untuk Paris VS Perdamaian Dunia

Ilustrasi

Inilah era globalisasi. Berita-berita seputar Paris menjadi headline di semua media, bahkan di media sosial. Orang berbondong-bondong mengeluarkan pandangan mereka. Ada yang menunjukkan rasa amarah dan mengutuki para pelaku pengeboman itu. Ada pula yang tenggelam dalam duka dan menunjukkan dukungan lewat doa dan pemasangan foto bendera Perancis di profile picture mereka. Di tengah perhatian yang diberikan kepada teror Paris, muncul sebuah respon yang berbeda yang kemudian mendapat dukungan yang tidak sedikit. Sebagian orang mulai membagikan berita tentang berbagai penderitaan yang sedang terjadi di berbagai daerah di dunia ini, bahkan di dalam negara Indonesia sendiri. Orang yang berduka untuk Beirut mengingatkan kita tentang pengeboman itu. Teman yang lain memperlihatkan kondisi konflik di Israel dan Palestina.

Berbagai berita tentang penderitaan diangkat dengan harapan bahwa kedukaan kita tidak dipusatkan hanya kepada satu tempat. Teman-teman dengan hati besar ini ingin mengajak kita untuk berdoa dan berharap untuk terciptanya perdamaian di seluruh dunia. Dan itu tidaklah salah. Dan saya yakin bahwa teman-teman yang sedang berduka untuk Parispun ingin agar perdamaian dunia tercipta. Tetapi dalam usaha mengarahkan orang kepada gambaran yang lebih luas, sesuatu terjadi. Tanpa sadar, kalimat-kalimat yang muncul seakan ingin berkata bahwa kalau kalian bisa berduka untuk Paris, maka jangan lupa donk berduka juga untuk ini dan itu. Tanpa disadar, muncul tuduhan halus yang berkata bahwa kedukaan mereka terlalu kecil, terlalu terpusat pada satu masalah kecil diantara banyak masalah besar.

Dan postingan seperti itu sangat mengusik teman-teman yang sedang berduka ini. Banyak dari mereka yang memilih untuk diam. Jewel, salah satu teman saya, memilih untuk bersuara dan menulis demikian dalam FBnya: Coba bayangkan bila kamu sedang dalam perjalanan ke penguburan temanmu.

Dan coba bayangkan bila ada seseorang yang mendatangi kamu dan berkata: “Tahukah kamu bahwa kemarin ada lima orang yang meninggal dan mereka juga dikuburkan hari ini dan mereka tidak punya warna kulit yang sama denganmu?

Karena itu, kamu janganlah menarik perhatian hanya kepada penguburan temanmu. Kamu hanya peduli ketika orang yang mirip denganmu meninggal.” Ya, itulah yang terjadi di dunia Facebook hari ini. Itulah gambaran yang muncul dari posting “saingan” terhadap berita duka untuk Paris. Tidaklah salah bila orang lain berduka untuk Paris. Tetapi marilah kita berhenti untuk berlomba menjadi “lebih mulia.” Dan marilah kita berhenti merendahkan dan memberikan kritik kepada orang yang sedang berduka. Teman di New Zealand ini kemudian menutup komentarnya dengan berkata bahwa buat dia, Paris adalah seorang teman dan karena itulah ia berduka.

Mungkin sebagian besar kita akan berkata bahwa bukan kemuliaanlah yang dicari, tetapi keadilan. Kita merasa tidak adil bila dunia hanya berduka untuk Paris, sedangkan banyak tempat dan banyak orang lain memerlukan perhatian yang sama. Kita merasa tidak adil ketika kekerasan terhadap wanita dan anak-anak yang terjadi setiap hari di berbagai penjuru dunia tidak mendapat tanggapan yang sama dari dunia.

Mengapa kejadian di Paris seakan mendapat tempat yang lebih special dibanding penderitaan di tempat lain? Mengapa begitu banyak dukungan yang diberikan kepada mereka sedangkan tempat lain juga sedang meneriakkan permintaan minta tolong? Atau coba kita amati peristiwa yang lebih sering terjadi di sekitar kita.

Pernahkah kita merasa tidak adil bila hanya satu anak yang dibelikan hadiah, sementara yang lain tidak?

Apakah kita merasa tidak pantas bila kita memuji seorang pegawai karena kita kebetulan melihat perbuatannya sementara mengabaikan karyawan lain yang mungkin juga bersumbangsih terhadap perusahaan? Atau seorang pelatih yang berkata bahwa bila saya mengijinkan kamu untuk tidak ikut latihan, itu berarti saya harus mengijinkan murid yang lain untuk tidak berlatih juga? Bila saya membantu kamu, itu berarti saya harus membantu yang lainnya juga? Sebagaimana kita melihat teror di Paris memunculkan respon yang menciptakan dilema, demikian juga kejadian-kejadian yang kita hadapi sehari-harinya memiliki dilema yang mirip. Entah itu dalam hal memimpin diri sendiri, menjadi orangtua terhadap anak-anak, atau mengepalai ribuan karyawan, tuntutan untuk mempertimbangkan banyak hal seringkali menyebabkan kita mengambil salah satu dari kedua titik ekstrim ini. Karena ingin menunjukkan perlakuan yang sama dan tidak ingin dikatakan sebagai pemimpin yang pilih kasih, maka kita menjadi sangat berhati-hati dalam melangkah. Dan tanpa disadar, kita jatuh kepada salah satu dari dua titik ekstrim ini.

1. Kita memilih untuk memperhatikan semua hal Ketika kita melihat ada mainan yang cocok untuk anak yang sulung, maka kita bukan hanya membelikan satu mainan saja, tetapi kita membelikan untuk semua anak. Ketika ada pertandingan, maka kita berusaha agar semua anak mendapatkan medali. Dan karena kita menghadiri pernikahan dari salah satu staff, maka kita memutuskan untuk menghadiri pernikahan dari semua staff yang ada. Pada posisi ini, seorang pemimpin akan berusaha untuk menjadi adil dengan melakukan hal yang sama kepada semua orang.

2. Kita memilih untuk mengabaikan semua hal Titik yang lain dari usaha untuk menciptakan keadilan bagi semua orang adalah dengan menjaga jarak dari semua orang. Di posisi ini, seorang pemimpin akan terasa jauh dari mereka yang dipimpinnya. Orang-orang akan menganggap orang yang seperti ini sebagai orang yang dingin dan tidak peduli. Tetapi demi keadilan buat semua bawahannya, sikap ini dipilih.

Seperti yang kita sadari, kedua pilihan tersebut tidaklah sehat. Tetapi kalau kita ingin mencari keadilan, bukankah pilihan itu yang tersedia buat kita? Saat ini, saya ingin menawarkan sebuah alternatif terhadap perbuatan yang adil. Bagaimana kalau kita mengajukan pertanyaan yang sedikit berbeda. Bagaimana kalau seseorang tidak bertanya: Perbuatan manakah yang paling adil?

Tetapi Perbuatan baik apakah yang bisa saya lakukan? Merupakan hal yang mulia bila kita ingin memperhatikan semua orang. Saya angkat topi buat teman-teman yang punya semangat untuk menciptakan perdamaian dunia. Itu hal yang mulia dan patut dikejar.

Tetapi buat sebagian besar kita yang sibuk ditengah pekerjaan dan tugas yang menumpuk, sulit untuk terus-terusan peduli dan berpartisipasi dengan aktif terhadap usaha itu. Buat sebagian besar kita, merupakan hal yang mustahil untuk berteman dengan semua orang dan memperlakukan mereka dengan sama. Kita akan tertarik kepada beberapa tipe orang lebih daripada yang lainnya. Kita akan lebih mudah berelasi dengan beberapa orang dibanding orang yang lain. Kita akan mengetahui bahwa hadiah ini lebih cocok untuk anak sulung daripada anak bungsu. Kita dengan mudah sadar bahwa memperlakukan semua orang dengan sama tidaklah mungkin.

Lagian, bukankah orangtua kita sejak kecil berkata bahwa hidup ini tidak adil? Perbuatan baik apakah yang bisa saya lakukan? Bila pertanyaan ini kita ajukan, maka kita akan dengan segera melihat kondisi yang ada dengan pandangan yang berbeda. Ketika kita memilih untuk bertindak, maka kita akan bertindak berdasarkan apa yang bisa saya berikan kepada orang lain. Dalam hubungan dengan kejadian di Paris, kebanyakan orang yang mengganti profile picturenya merasa bahwa itulah perbuatan baik yang bisa mereka lakukan. Setelah mereka melihat atau membaca berita tersebut, hati mereka terluka. Duka itu menggerakkan mereka untuk berdoa dan mendorong mereka untuk melakukan sesuatu.

Dengan memasang bendera Perancis, mereka menyatakan dukungan kepada para korban yang berada nun jauh di sana. Marilah kita hargai cara mereka itu. Bila ada diantara kita yang berbeban dengan Beirut, atau perbudakan atau penjajahan, maka marilah kita mengekspresikannya dengan hormat. Temukanlah perbuatan baik apa yang bisa kita lakukan sehubungan dengan beban kita itu dan marilah kita memusatkan energi kita untuk menciptakan perbedaan di sana. Perbuatan baik apakah yang bisa saya lakukan? Ketika kita menjawab pertanyaan tersebut dengan sungguh-sungguh, maka kita bisa mengubah dunia ini menjadi lebih baik.

Yang pasti, pertanyaan tersebut akan mengubah dunia seseorang menjadi lebih baik. Bahkan, tindakanmu itu mungkin pula akan mengubah duniamu. Jadi, perbuatan baik apakah yang bisa saya lakukan hari ini? Pergi dan lakukanlah itu. Niscaya hari ini akan lebih baik dari hari kemarin.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/warungpemimpin/berduka-untuk-paris-vs-perdamai...

Tuesday, November 17, 2015 - 06:45
Kategori Rubrik: