Berdebat Ga Andalkan Kata Ustadz Saya

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat
Kata Ustadz Saya . . . 
Salah satu kelemahan teman-teman sesama lulusan LIPIA adalah suka baper alias bawa perasaan. Maksudnya bukan suka curhat macam emak-emak. Tapi kalau berdalil dalam masalah fiqih suka bawa-bawa nama ustadz pujaannya.

Saya kenal sih ustadz pujaannya. Kan ustadznya mereka ustadz saya juga. Soalnya kita cuma beda angkatan. 
Tapi kan konyol banget jadinya. Masak ketika berhujjah tentang hukum suatu masalah, dalilnya cuma :  Kata ustadz saya . . . 

Wajar dong kalau saya terpingkal-pingkal. Kuliah sudah 4 tahun, S-1 jurusan Perbandingan Mazhab, tapi gaya bicara masih mirip anak aliyah. Berdalil pakai jurus : 'Kata ustadz saya. . . '

Lha itu kitab Bidayatul Mujtahid dibaca buat apaan? Belajar empat mazhab delapan semester sampai dibela-belain puasa Senin Kamis,  ujung-ujungnya dalilnya segitu doang : Kata ustadz saya . . . 

Ini yang kadang bikin saya pusing sendiri. Bagaimana mengubah maindset yang sudah terlanjur jadi karang gigi ini. Tidak cukup hanya gosok gigi yang rajin. 

Kudu scalling alias prosedur non-operasi yang dilakukan untuk membersihkan dan menghilangkan plak dan karang (tartar) pada gigi. 
Disitulah saya melihat lulusan LIPIA masih kudu dipoles lagi. Tidak cukup hanya mengandalkan kuliah 8 semester pakai bahasa Arab. Tapi format berpikirnya kudu diubah total. 

Memang sih ustadz pujaannya itu hebat, doktor, syaikh dan seterusnya, Arab pula.  Kan kalau punya ustadz orang Arab, kelihatannya keren banget gitu. 
Tapi ya nggak bisa juga dihadap-hadapkan dengan Imam An-Nawawi (w. 676 H), Zakaria Al-Anshari (w. 926 H), Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H), Al-Khatib As-Syirbini (w. 977 H), Ar-Ramli (w. 1004 H). 

Beda kelas banget soalnya. Dan satu lagi, ustadz Arab pujaan hatinya itu biar bagaimana pun bukan kelas mujtahid, tapi masih muqallid total. Sehingga perkataannya bisa dipakai dan bisa saja diabaikan. 
Sekelas mujtahid saja juga tidak harus selalu dibelain melulu. Apalagi bukan mujtahid. 
Oke lah, namanya juga pujaan hati. Tapi kalau pun sang pujaan hati mau dibawa-bawa dan dikutip, sopan-sopannya kan tetap saja kudu nyebutin dulu para ulama klasik. apa pandangan mereka, dan bagaimana ibaroh yang mereka sampaikan.

Jangan ujug-ujug : Kata ustadz saya . . .
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Monday, March 8, 2021 - 09:00
Kategori Rubrik: