Berdamailah dengan Virus

ilustrasi

Oleh : Irene Indah

Apa saja kalau over ( terlalu ) kayaknya jadi kurang enak. Terlalu kenyang, terlalu benci , terlalu cinta , terlalu bodoh, terlalu pinter dsb. Untung saya ini tidak terlalu bodoh dan tdk terlalu pintar. Yaach pas pasan aja. Saya ingin bahas yang terlalu pintar menurut pemahaman saya.

Respon dunia dlm menghadapi pandemi meski berbeda - beda teknis pelaksanaanya, tapi sering ada seruan yang serentak sama seperti WFH, Stayhome, Berdamailah dengan virus, New Normal Life ( NNL ) dsb. Tetapi sepertinya ada yang menjadi masalah ketika masuk di Indonesia yaitu kalimat BERDAMAILAH DENGAN VIRUS.

Pernyataan ' Berdamailah dengan virus ' dimata orang2 yang terlalu pintar barangkali tidak sesederhana yang saya terima.
Yang saya pahami begini : Dulu dunia menyerukan perlawanan atau perang terhadap si virus. Seiring berjalannya waktu, virusnya ini pelik, rumit. Segala cara dilakukan untuk menghalaunya. Sulit. Sementara kehidupan harus terus berjalan. Pemerintah di negara manapun tidak akan mampu menjaga warganya 24 jam setiap harinya. Protokol kesehatan sudah tidak kurang2 disosialisasikan. Banyak masalah lain yang hrs ditangani Pemerintah dimanapun selain soal virus ini.

Sambil menunggu adanya obat / vaksin, pelan - pelan dunia mengajak memulai NNL. Tak terkecuali di Indonesia. Bersiap NNL , hidup berdamai dengan virus. Ini bukan berarti boleh ada kerumunan dimana2.

Berdamai Dengan Virus yang kutangkap misalnya dalam keluargaku. Bagaimana sekuat tenaga berupaya agar tidak kalah dengan virus. Saya sediakan jamu temulawak, gizi yang lebih baik seperti memperbanyak sayur mayur , ikan , buah , OR dll. Setiap papanya akan pergi bekerja, saya bekali beberapa masker, hand sanitizer, lalu pulang harus langsung mandi keramas, baju dicuci. Anak saya juga sudah saya wanti2, nanti kalau sudah mau masuk kampus lagi , situasinya sudah beda. Kita harus berdamai dengan virus. Buatlah pertahanan diri lebih kuat. Hindari berkerumun2 dsb.

Darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah Muslim dan Katholik. Saya sangat menyayangi keluarga besar saya. Salah satunya bulek ( tante ). Pendidikannya tidaklah tinggi. Setiap lebaran kami berkumpul di rumahnya dalam suasana hangat sambil menikmati opor lezaaat. Kemarin saya pergi ke makam keluarga di desa sekalian mengunjungi bulek tersebut. Kepada beliau saya pamit besok lebaran tidak bisa berkumpul. Bulek dengan bijak menjawab dlm bhs Jawa yang artinya : Tidak apa - apa. Memang keadaan seperti ini. Pokoknya jaga kesehatan dan keselamatan. Saling pengertian, saling mendoakan, Gusti Allah segera memberi jalan terang, lebaran tahun depan kita berkumpul lagi.
Ucapannya itu bagiku adalah pengejawantahan kalimat Berdamai dengan virus ala orang desa.

Bagi saya kalimat BERDAMAI DENGAN...itu mensugesti diri saya bahwasanya saya harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa saya hindari dengan tenang jiwa, dengan sabar dan tawakal.

Saya pernah baca sebuah artikel :

Mengapa banyak orang pintar acap kali kelihatan bodoh. Karena ada kecenderungan dalam diri mereka untuk mempercayai apa yang ingin dipercayai saja. Mereka akan menangkap informasi baru berdasarkan apa apa yang sudah ada di dalam pikirannya, sehingga, sesungguhnya menangkap informasi baru seperti berdamai dengan virus, normal baru dll butuh kelenturan cara berpikir.

Itulah mengapa kalimat " BERDAMAILAH DENGAN VIRUS dan NORMAL BARU " bisa ditafsirkan kemana mana. Sehingga banyak orang gagal menangkap esensi pesan itu.

Entah saya yang memang tidak terlalu pandai atau mereka yang terlalu pintar , atau sebuah kalimat itu tergantung siapa yang mengucapkan dan siapa yang menerima , sehingga sebuah kalimat sederhana saja bisa menimbulkan bermacam reaksi.

Dulu ngajak berperang melawan virus ,sekarang ngajak berdamai. Kalau virusnya tidak mau bagimana?

Sumber : Status Facebook Irene Indah

Saturday, May 23, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: