Berdamai dengan Terorisme, Waraskah?

Oleh: Kajitow Elkayeni

Atas nama kemanusiaan, saya berduka untuk Siyono. Terduga teroris asal Jawa Tengah yang meninggal dunia. Tapi ada beberapa hal yang mesti dicatat, pertama, kita tidak tahu proses penangkapan terduga. Apakah Siyono melawan? Jika iya, harus dipahami, pasukan khusus itu ahli dalam melumpuhkan target. Dengan satu-dua pukulan telak bisa sangat berbahaya. Perlawanan justru akan mengakibatkan kematian.

Yang ke dua, jikapun Siyono tidak melawan, perlu diketahui, terorisme termasuk kejahatan luar biasa. Densus 88 ketika menangkap terduga teroris, tidak sama dengan reserse menangkap maling ayam. Teroris itu terorganisir dan sangat berbahaya. Kadang teroris itu sudah membekali diri dengan bom yang melekat di tubuhnya. Telat sedikit saja meringkusnya, polisi itu bisa hangus. Padahal mereka juga punya keluarga, gaji mereka konon sama dengan polisi reguler. Jika hitung-hitungan jumlah nyawa. Satu teroris mati jauh lebih ringan dari sepuluh anggota Densus 88.

Ustadz-ustadz televisi dengan mudah membuat sudut pandang seenaknya. Arifin Ilham, Aa Gym, dll, tampil dengan memukau di depan publik sebagai orang bijak. Di satu sisi dengan bahasa yang lembut seperti, ayah-bunda, teguran diberikannya pada Pemerintah. Di sisi lain, teguran itu adalah lampu hijau bagi pengikutnya. Lalu ramai-ramai umat setianya melaknat pasukan anti teror. Di belakangnya ada tuduhan, mereka nyata-nyata memusuhi islam. Untuk itu Densus 88 harus dibubarkan.

Pelacakan terduga teroris bukan dilakukan dengan cara asal tunjuk. Teroris itu punya jaringan, punya target, punya sumber dana. Dengan penelusuran siang-malam, dengan aksi penyamaran total, sel-sel teroris itu akhirnya terendus. Proses pengungkapan pelaku juga melalui jalan yang rumit. Seperti peristiwa Bom Bali itu. Polisi melakukan rekayasa kimia untuk mengetahui nomor rangka (atau mesin) mobil pelaku yang sebelumnya telah sengaja dihapus. Dari sana mereka menghubungkan satu-persatu benang merah dan binggo!

Baru saja kita dikejutkan dengan penyanderaan 10 nelayan Indonesia di Filipina. Pelaku diketahui sebagai kelompok Abu Syayaf. Mereka adalah teroris yang telah barbaiat pada Abu Bakar Albaghdadi, pemimpin tertinggi ISIS. Ada beberapa opsi untuk Pemerintah, pertama melakukan penebusan, yang ke dua menempuh aksi pembebasan ala militer. Tapi ada opsi lain yang agak konyol, meminta bantuan Baasyir. Konon kelompok teroris Abu Syayaf ini sangat menghormati Baasyir.

Opsi pertama mungkin untuk dilakukan. Tapi akibatnya, mereka akan ketagihan. Teroris tak perduli tentang halal-haram. Di waktu lain, jika mereka butuh duit, tinggal menyandera orang-orang Indonesia lagi. Dan kita mirip sapi perah. Opsi yang ke dua memang sangat berisiko. Belum lagi menyoal ijin dari negara tetangga. Mestinya, jika mereka berkomitmen memerangi terorisme, ijin itu akan diberikan. Opsi terakhir adalah yang paling kontradiktif. Melawan terorisme dengan memohon bantuan pada orang dalam lingkaran teroris itu apa waras?

Berdamai dengan terorisme adalah kesalahan terbesar sejak dalam pikiran. Sama seperti tuan rumah yang berdamai dengan maling. Soal kemanusiaan dan keberadaban, ya, kita perlu carikan solusi. Tapi bersimpuh sambil menghiba pada teroris adalah perilaku ketidak-warasan. Talak tiga untuk itu.

Kembali pada Siyono, Muhamadiyah kabarnya melakukan aksi advokasi untuknya. Demi kemanusiaan, bolehlah. Meskipun jika diusut lebih dalam, apa menuntut Densus 88 itu adalah satu-satunya jalan keluar?

Dengan membatasi ruang-gerak Detasemen antiteror, kita secara langsung memberikan ruang bebas pada teroris. Logika ini bisa diaplikasikan untuk KPK. Penegak hukum tak boleh berdamai dengan koruptor. Jika tak ingin digebuk, jangan jadi maling. Jauhi terorisme sejauh-jauhnya. Jangan ikut pengajian menyimpangnya, jangan ikut berpakaian ninja ala mereka, jangan ikut berencana berbuat makar terhadap negara dengan horor khilafah itu. Jutaan orang muslim baik-baik saja meski Densus 88 terus memburu teroris. Hanya beberapa gelintir orang radikal yang merasa kepanasan. Orang-orang yang terindikasi masuk dalam jaringan teroris.

Soal nyawa, kemanusiaan, keberadaban, ya, kita tersentuh. Mereka harus dilindungi jika mereka mau. Jika mereka menolak dengan tetap pada pahamnya, risiko mereka tanggung sendiri. Tapi perlindungan itupun tidak dengan membungkuk dan merendahkan diri. Negara, aparat hukum, harus punya wibawa. Terorisme mesti dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Demi keselamatan ratusan juta nyawa manusia lain. Kalian yang suka demo-demo tentang khilafah, gemar menyebarkan doktrin radikal, siap-siap saja. Burung hantu itu akan datang tiba-tiba menjemputmu!

Kami waras, dan kami menentang terorisme. Tuan rumah tidak boleh berunding dengan maling yang menjarah rumahnya, ini kata Tan Malaka. Pahlawan nasional yang dimusuhi oleh ormas radikal, termasuk FPI itu. Padahal beliau muslim dan konon hafal Quran.

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Friday, April 1, 2016 - 22:30
Kategori Rubrik: