Berdamai dengan Covid-19?

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

“Masak kita disuruh berdamai dengan Covid 19. Sudah jelas dan nyata, berdamai itu menunjukkan kondisi hidup berdampingan secara normal. Tanpa merusak satu dengan yang lain. Sementara Covid 19 itu, terang benderang adalah musuh kita .... harus dienyahkan ... kok malah disuruh berdamai ...... nggak salah tuh Jokowi ?”. Setidaknya demikian komentar yang bertebaran di media sosial. Juga komentar (bisa jadi : menertawakan) beberapa orang kawan. 

Bila dicari makna berdamai dalam KKBI, bisa jadi, komentar-komentar di atas bisa dipahami. Tapi kata tak selalu literal-tekstual. Ia terikat konteks. Pemahamannya bisa “melebar” ketika kita memahami tujuan dan latar dikeluarkannya sebuah kata. “Jangan cari arti kata, tapi pahami bagaimana kata itu difungsikan”, demikian asumsi dasar dalam tradisi hermeneutika. 

 

Beberapa hari yang lalu, WHO melalui salah seorang pimpinannya mengatakan bahwa Wabah Virus Corona (Covid 19) akan tetap ada dalam waktu yang cukup lama. Vaksin anti virus diasumsikan belum bisa digunakan dalam waktu dekat. Vaksin menjadi satu-satunya jalan keluar menghadapi virus ini. Tapi menemukan dan memproduksinya, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh riset berkelanjutan secara intensif. Butuh uji coba berkala hingga akhirnya dianggap layak. “Paling, sekitar empat tahun ke depan kita bisa melihat dan mengetahui bagaimana cara mengatasi wabah ini !”, demikian kata Swaminathan, pejabat WHO itu(13/05/2020). 

Melihat kondisi seperti ini, maka kita harus realistis. Kita harus memandang diri kita lebih dahulu. Antisipasi internal. Antispasi itu berasal dari bagaimana kita menyikapi keberadaan Covid 19. "Ada kemungkinan masih bisa naik lagi atau turun lagi, naik sedikit lagi, dan turun lagi dan seterusnya. Artinya, sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan," kata Jokowi dalam video yang diunggah Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden pada Kamis, 7 Mei 2020. Jokowi sebelumnya mengatakan pemerintah terus berupaya keras dan berharap puncak pandemi Covid-19 akan segera turun. Namun, beberapa ahli mengatakan ketika kasusnya sudah turun tidak berarti langsung landai atau langsung nol, melainkan masih bisa fluktuatif.

Tak selamanya kita diselimuti ketakutan. Kehidupan harus berjalan. Roda ekonomi harus berputar. Karena itu, tak ada jalan lain, kita ke depan, harus terbiasa menghadapi Covid 19. Harus terbiasa hidup mengikuti alur dan arahan protokol kesehatan yang selama ini kita abaikan, bahkan di beberapa kesempatan, seringkali justru kita ketawakan. 

Saya jadi ingat dengan salah satu tulisan beberapa tahun yang lalu tentang gempa. Tentang berdamai dengan gempa. Tepatnya, bersahabat dengan gempa. 
Berikut :
Di akhir September 2009 yang lalu, saya pernah menulis beberapa buah catatan di sebuah harian lokal. Tentang gempa. Saya bukan ahli gempa (bahkan istilah Richter tersebut sampai hari ni saya tak tahu sejarahnya) dan sangat bodoh tentang seluk beluk gempa. Bagi saya gempa ibarat "hujan”. Sunnatullah. . Persoalannya sekarang adalah gempa merupakan salah satu fenomena alam yang "sulit" bahkan hampir tidak bisa diprediksi, kapan ia datang sebagaimana halnya hujan, begitu mudah diprediksi dan memiliki tingkat validitas prediksi cukup tinggi. Gempa tidak. Tapi ia tetap fenomena (baca: sunnatullah) yang sejak nabi Adam hingga sekarang (dipastikan) telah ada. 

Oleh karena itu, prediksi-prediksi saintifik tentang gempa yang banyak bermunculan belakangan ini justru terkadang "melawan arus" metodologis keilmuan "pergempaan". Sejak gempa sering "berkunjung" ke Indonesia, hampir semua pakar Gempa mengatakan bahwa gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diketahui kapan dan dimana datangnya. Akan tetapi, tetap saja ada pernyataan-pernyataan (baik dari para ahli gempa, ahli nujum, dukun selebrities dan seterusnya) yang mengeluarkan komentar seakan-akan gempa seperti hujan yang bisa diprediksi. Kita masih ingat, bagaimana prediksi seorang ahli "nujum/paranormal" Brazil yang mengatakan bahwa pantai barat Sumatera Barat akan dihantam tsunami pasca tsunami Aceh ...... dan itu tidak akan lama. Lucunya, ia (konon) memprediksi akan terjadi pada hitungan bulan. Nyatanya, tak terjadi. Dan, kita banyak juga mendengar analisis "supranatural" lainnya yang tetap menganggap bahwa tsunami akan singgah di Sumatera Barat. Pasca gempa 30 September 2009 yang lalu, ditengah suasana panik luar biasa masyarakat Sumatera Barat, muncul lagi isu tentang potensi gempa yang lebih besar ..... dengan menggunakan dalil keilmuan “entah apa”. 
Berikut narasinya, sebagaimana yang saya kutip dari www.vivanews.com :
__________________________________
Kota Padang dan sekitarnya kini tengah tidur di atas bom waktu. Ancaman gempa susulan sebesar 8,8 skala ritcher (SR) mengancam. Potensi tsunami pun meruyak. Demikian analisis Direktur Obervasi Bumi dari Nanyang Technological University Singapura, Kerry Sieh, seperti dimuat The Strait Times edisi Rabu 14 Oktober 2009. Menurutnya, banyak pergerakan tektonik di muka bumi ini. “Tetapi tidak ada yang seaktif Padang dalam beberapa dekade terakhir,”katanya. Gempa 7,6 SR yang menghantam Padang dua pekan lalu dan menewaskan seribu lebih manusia, menurut Kerrry, hanyalah pembukaan dari gempa yang lebih dashyat. “Tidak ada satu tempat di bumi yang melepaskan begitu banyak aktivitas seismik selama dekade terakhir selain wilayah Sumatera Barat,”katanya, Ia dan rekannya peneliti Indonesia kini tengah meneliti wilayah dengan radius 400 km di pulau Mentawai, Sumetara Barat. Ia memprediksi akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan 8,8 SR dan berpotensi tsunami seperti halnya tsunami tahun 2004 di Aceh. Gempa ini diduga akan terjadi tak lama lagi. Dia dan timnya juga tengah meneliti Sunda megathrust. Ia dan timnya menemukan gempa yang disebabkan oleh Sunda megathrust terjadi dalam siklus 200 tahunan sekali. Yakni pada tahun 1300, 1600 dan 1800.

Tanpa menafikan dalil sebuah disiplin ilmu, tapi yang jelas, pernyataan para ahli yang meng-klaim akan terjadi potensi gempa luar biasa (berikut tsunamy) di Kota Padang dan sekitarnya, jelas "berlawanan" dengan dasar keilmuan yang baku dan menjadi mainstream dasar epistimologik dalam ilmu "pergempaan" ........... yaitu gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diprediksi. Tapi, simpulan para ahli tersebut tetap menjadi sebuah ikhtiar dari anak manusia dalam mengingat anak manusia yang lain, agar hati-hati dengan fenomena alam. Mungkin alam sudah mulai bosan (meminjam ungkapan Ebiet G. Ade). 

Oleh karena itu, bersahabatlah dengan alam. Bangunlah bangunan yang bersahabat dengan perhitungan yang mengikuti hukum alam. Jangan membohongi hukum alam. Kita masih ingat, tsunamy Aceh memberikan pelajaran paling berharga bagi peradaban ummat manusia. Bila konstruksi infrastruktur bangunan mengikuti hukum alam dan tidak mudah memberikan izin dalam membangun infrastruktur yang dimana mobilitas masyarakat pada infrastruktur tersebut cuukup besar, kemungkinan korban tsunamy di Aceh bisa diminimalisir. Seandainya bangunan di Kota Padang (baca Pemerintah Daerah) "lebih memperhatikan" tata dan sistem bangunan-infrastruktur dengan baik, rigid, sistematik dan patuh pada sistem yang telah ditetapkan berdasarkan kepatutan alam, niscaya bangunan-bangunan kota Padang dan sekitarnya, pada waktu 30 September 2009 yang lalu, tidak menjadi penyumbang terbesar kematian anak bangsa. Ketika tsunamy Aceh terjadi, negara Malaysia (khususnya daerah Pulau Pinang) termasuk daerah yang dilanda imbas tsunamy cukup besar, tapi mengapa korban tidak banyak yang berjatuhan ?. Sistem telah terbangun dengan baik, bangunan-bangunan kokoh dan seterusnya. 

Mengapa Jepang yang "marasai" kena gempa - bahkan tsunamy-pun menjadi hak paten Jepang - bisa "bersahabat" dengan gempa ? Mengapa orang Belanda bisa menjadi negara yang rata-rata berada 1 meter dibawah permukaan laut, sehingga masyarakat mereka memiliki kebiasaan memegang batang hidung ketika bicara (entah ada hubungannya entah tidak, saya tak tahu)?. Lalu mengapa, banyak rumah-rumah di komplek perumahan - setidaknya itu yang saya saksikan - di Kota Padang, banyak ambruk ? Mengapa banyak gedung-gedung yang rontok ? Adakah yang salah dalam proses membangunnya ? atau, pemerintah yang berhak mengurus kepentingan hajat hidup warganya, setidaknya mengayomi, tidak memperhatikan ketentuan/sistem yang harus ditetapkan secara tegas kepada warganya, terutama yang berkaitan dengan "prosedur pembangunan-infrastruktur" ?. 
Saya hanya membayangkan, tahun-tahun ke depan, bangunan menjulang tetap ada di Kota Padang, tapi kokoh dan telah teruji dengan sistem yang telah ditetapkan. Saya juga membayangkan, tidak ada lagi perumahan murah yang dibangun dengan "acak-acak" dan bisa bolong ketika anak kita menendang dindingnya. Ke depan, perumahan yang saya bayangkan di Kota Padang, adalah perumahan murah nan mungil lagi kuat serta bersahabat dengan alam ............ dan suatu hari saya membayangkan pula akan membaca headline sebuah media massa Kota Padang : "Sebuah Komplek Perumahan Murah Untuk Rakyat Miskin Dirobohkan atas Suruhan Pemerintah Daerah Karena Belum Lulus Standarisasi Gempa". Besoknya, saya juga membaca headline pada media lain : "Seorang Developer dicabut izin usahanya karena Perumahan yang dibangunnya banyak yang retak" ........... 
Selanjutnya, mau tidak mau, gempa selalu akan datang, tapi entah kapan dan dimana, hanya Allah yang tahu. Karena itu, bersahabat dengan gempa sudah harus mulai difikirkan oleh ummat manusia. Karena memang, sebagaimana halnya hujan-angin-puting beliung dan gempa itu ada di bumi. Saya tidak tahu, apakah ada "bumi" lain yang tidak pernah dikunjungi oleh gempa. Kalau memang ada, rasanya ingin kita membelinya 

Berkaitan dengan Covid 19, maka ke depan, kita harus tetap mempraktekkan hidup “sehat”. Senantiasa pakai masker. Menjaga imunitas tubuh dengan baik. Pemerintah harus lebih fokus memperhatikan kesehatan rakyatnya .... dan seterusnya. 

“Lalu, anti virus ini, kapan ditemukan ?”
Kita berharap pada Tuhan, dan ikhtiar para ilmuan 

Wallahu a'lam bisshawab

 

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Tuesday, May 19, 2020 - 05:00
Kategori Rubrik: