Berdamai dengan Corona

ilustrasi

Oleh : R Budi Sarwono

Kita ribut, ketika ada seruan supaya berdamai dengan Corona. “Loh kalau Corona-nya ndak mau, njuk bijimana?” begitu salah satu kalimat yang ingar bingar itu.

Nampaknya para politisi kita terlalu kelelahan, hingga tak memahami bahwa --menurut para ahli bahasa--kata benda bisa bersilih rupa. Ketika Bung Karno mengatakan : “Inggris kita Linggis, Amerika kita setrika”, saat itu Bung Karno sedang mengajak masyarakat menolak neokolonialisme, bukan menyuruh pabrik linggis dan setrika meningkatkan produksinya. Demikian juga ketika bung Karno menyerukan “Ganyang Malaysia”, bukan berarti mengajak masyarakat pergi ke Malaysia untuk melakukan kanibalisme kepada mereka.

Tahun 2010 ketika Merapi Meletus, banyak penyintas laki laki yang dengan sadar dan hati hati, meninggalkan pengungsian pulang ke desa untuk memberi makan ternaknya. Saat itu mereka Berdamai dengan Merapi. Frasa berdamai dengan Merapi tidak berarti pergi ke Kali Gendol, lalu menjemput wedhus gembel yang sewaktu waktu turun dari puncak, mboten.

Kata linggis, setrika, Malaysia, dan Merapi adalah kata benda yang bersalin rupa. Demikian pula kata Corona dalam kalimat berdamai dengan Corona. Kata linggis dan setrika mengalami denominalisasi (nomina = kata benda), yakni pengubahan bentuk kata benda menjadi kata kerja. Sedang Merapi dan Corona bersilih rupa sebagai penggambaran keadaan tertentu. Sifatnya sebagai kata benda pada kata kata tersebut hilang dan artinya berkembang menjadi lebih luas. Kata Corona dalam kalimat itu hadir untuk mewakili pandemi yang dihadirkan oleh virus Corona.

Jadi, berdamai dengan Corona bukan njuk berarti dekat dekat dengan pasien positif Corona, atau seenaknya pergi ke kerumunan kerumunan masa, atau keluar rumah tanpa masker. Berdamai dengan corona itu tetap sadar bahwa virus itu masih ada, tetapi hidup tetap harus terus berlanjut, maka berdamai dengan Corona mengajarkan sikap hati hati, jaga kebersihan, mematuhi protocol Kesehatan dan menjauhi sikap hidup sembrono. Ah mungkin para politisi itu tidak sedang salah paham, tapi salah pikir.

Sumber : Status facebook R Budi Sarwono

Thursday, May 28, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: