Bercerminlah kepada Jokowi

Oleh: Iyyas Subiakto
Kehadirannya bukan sekedar memperbaiki yg rusak atau yg sengaja di rusak. Dia hadir sebagai bola salju kebaikan, yg sekarang sedang di hadang para pecundang.
Dia hadir sebagai panutan atau tempat bercermin para manusia yg salah kelamin. Gangguang demi gangguan yg sengaja di hadirkan adalah produk para manusia yg salah jalan, hanya saja kita lama dibuat terkesima oleh cara mereka membual yg mempesona tapi isinya amoral dan brutal terhadap bangsanya.
 
Penjegalan kepada Jokowi sudah sejak awal kemunculannya dgn segala cara, sponsor dan pemerakarsanya, orangnya dan kelompoknya sama, mereka punya jaringan dan dana. Tak usah disebut kedudukan dan titelnya, tapi lihat prilakunya.
Munculnya deklarasi KAMI ditengah pandemi sudah menampakkan kerendahan moral yg fatal, terus apa relevansinya dgn penyelamatan Indonesia. Justru di tengah kesedihan, mereka bergerak kesetanan mau meluluhlantakkan pemerintahan dgn harapan Jokowi bisa di jatuhkan, sayang Tuhan masih terlalu jeli melihat setan yg gentayangan ngaku orang kayangan.
Demo UUCK disusupi dan dikendalikan, info kepolisian dan penangkapan 8 orang dari pengurus KAMI adalah bukti otentik bahwa mereka memang sedang memantik kerusuhan dgn tujuan menjatuhkan pemerintahan, sayang caranya kampungan, mudah ketauan, kelas perebutan kekuasaan kok pakai cara petak umpet pinggir jalan. Hei kamu ketauan, gaya ngehek otak pendek. Tapi tetap sdh ada
Andai saja mereka sedikit cerdas, sedikit saja ya, mereka belajarlah dgn Jokowi, dia tenang, sabar, yakin, dan tegas. Tapi semua akumulasi itu dibangun dgn jiwa yg luhur, jujur, bukan asal meluncur, akhirnya hancur.
Latar belakang semua deklarator bisa di telisik, nyaris tak seorangpun yg berjiwa patriotik, lha bagaimana jadinya negara diurus oleh orang yg berjiwa belantik, makanya saat demo Jokowi terbang ke Kalbar ngeliat itik. Ya itik bisa bertelur daripada orang-orang tua yg cuma bertelur kendur dan ngelantur.
Sekarang ada dua partai yg terang-terangan sbg representasi orba sedang main drama, mau buat tema baru tapi narasinya lama, caranya saja sudah ke baca bahwa mereka muaranya sama, kiblatnya Cendana. Terus mau jualan kebaikan atau pembelaan terhadap kaum bawahan. Boro-boro membela, ngerti saja jauh dari pikirannya, bagaimana dia mengerti kaum bawah, sedang mereka hidup sbg priayi, yg gak pernah nga-ji alias ngasah jiwo, nyelondo.
Jokowi sebagai cermin kebaikan yg utuh sangat mudah di tauladani, sayang para pecundang aliran Ibnu Mulzam ini tak mungkin tergerak merubah akhlak, karena tabiat itu sudah berkerak menjadi dasar mereka bergerak. Ya bergerak dgn landasan akhlak yg rusak, outputnya pasti malak.
Mari kita berpegang kepada khitoh Nawa Cita agar Indonesia tetap pada ruh dasarnya, ruh kebangsaan, Kebhinekaan dan Pancasila. Bukan ruh belingsatan yg di kelola para bajingan.
DON'T USE YOUR ENERGY TO WORRY, USE IT TO BELIEVE.
Saturday, October 17, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: