Berbicara Dalam Bahasa Arab

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Dilihat dari riwayat belajar bahasa Arab, sebenarnya saya tidak pernah mondok di pesantren modern sebagaimana umumnya para santri. Sekolah saya sejak kecil SMP dan SMA umum. Bedanya hanya ketika kecil pagi sekolah SD, sorenya saya sekolah juga di MADRASAH IBTIDAIYAH.

Madasah Ibtidaiyah yang saya ikuti dulu jauh berbeda dengan yang sekarang ini. Kurikulumnya unik, semuanya pelajarannya pakai bahasa Arab, kecuali hanya bahasa komunikasinya pakai Bahasa Indonesia.

Di Madrasah Ibtidaiyah itulah saya ketika kecil sudah hafal luar kepala Matan Aqidatul Awam, Mahfuzhat, Al-Quran Juz 30, Ilmu Tajwid Al-Quran dan Tahsin, serta berbagai paket pelajaran bahasa Arab seperti Nahwu, Sharaf, Imla', Insya', Qiroah, Khat dan Nagham.

Belajar Sirah Nabawiyah pakai Khulashah Nuril Yaqin dan juga Al-Barzanji Natsar dan Nadzam, belajar Fiqih pakai Matan Al-Ghayah wa At-Taqrib. Termasuk hafalan hadits dan adab.

Itu modalnya sebagai dasar sejak masih SD. Dengan modal segitu, saya tidak melanjutkan ke Tsanawiyah atau Aliyah, tapi langsung masuk LIPIA Jakarta. Semua ilmu yang disyaratkan sudah saya miliki kecuali satu, saya tidak bisa bicara dalam bahasa Arab.

Padahal kuliah di I'dad Lughawi LIPIA justru mengharuskan calon mahasiswanya lancar berbahasa Arab secara lisan. Disitulah saya jeblok tidak diterima test pertama. Kudu ngulang lagi di angkatan berikutnya dan diterima juga.

Tiga tahun mendalami bahasa Arab langsung dengan orang Arab betulan, khususnya dari Mesir, membuat saya rada melek dengan bahasa Arab secara aplikatif. Baca kitab berbahasa Arab ratusan halaman gundul semua jadi terbiasa. Malah kalau ada harakatnya bikin kesrimpet.

Masuk kuliah S1 Fakultas Syariah jadi lebih mudah mengikuti, karena kemampuan berbahasa Arab sudah ditempat lebih dulu. Bukan apa-apa, kuliah syariah LIPIA ini meski lokasinya di Jakarta, tapi dosen kita justru orang-orang Arab betulan. Mereka tidak bisa bahasa Indonesia dan kita tidak bisa bahasa Arab selancar mereka.

Tapi kalau sekedar mendengar dan memahaminya insyaallah tidak masalah sama sekali. Menulis dalam bahasa Arab pun tidak terlalu masalah. Yang amat bermasalah itu adalah ceramah, diskusi dan ngelawak pakai bahasa Arab di depan orang Arab.

Bagaimana caranya biar orang Arabnya bisa terpingkal-pingkal mendengarkan lawakan kita yang garing, itu benar-benar tantangan yang sulit bagi kita mahasiswa Indonesia.

Kalau dengar lawakan kita, dosennya bukannya tertawa malah menangis karena tidak paham. Dan saya baru merasa agak sedikit bisa ngelawak di depan dosen di kelas hanya ketika sudah sampai di semester 7-8 di akhir-akhir. Chemistrinya mungkin sudah dapat.

Ada dosen bisa sampai meluluskan ujian saya gara-gara saya berhasil melawak di depannya dan Beliau terpingkal-pingkal, itu sesuatu banget lho.

Sayangnya, setelah lulus LIPIA, pergaulan saya dengnan orang-orang native arabic jadi agak terhambat. Lama-lama lidah jadi celo dan belibet. Sedangkan berbicara pakai bahasa Arab dengan sesama kawan yang orang Indonesia juga, buat saya hampir nggak ada gunanya. Bahasanya pada rusak dan sangat-sangat tidak ada rasa arab-arabnya acan.

Mending ngomong Jawa aja sekalian, dari pada ngomong Arab tapi menusuk telinga. Sudah tarkibnya ancur, lahjahnya berantakan, diksinya aneh-aneh, dan satu lagi, pakai muncrat segala. Lengkap sudah penderitaan.

Maka ketika saya diminta ngajar bahasa Arab di suatu pesantren, sudah nyerah duluan. Apalagi mengajar bahasa Arab di perkantoran, mending saya disuruh ngajar ikan manjat pohon. Bukan apa-apa, saya tidak menjelekkan muridnya, tapi saya menjelekkan diri saya sendiri, yang nyaris tidak pandai ngomong pakai bahasa Arab.

Dari pada saya dituduh merusak bahasa mulia itu, mending nggak usah saja sekalian. Tapi kalau ketemu dengan orang Arab betulan, para masyaikh yang memang fushah berbahasa Arab, oke-oke saja. Saya jabanin lah, walau pun saya lebih banyak jadi pendengar setia.
Biar beliau aja yang nyerocos terus.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Tuesday, April 7, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: