Berbeda Pendapat

Ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Suatu ketika ada seorang kawan dengan semangat menghampiri saya mengajak debat tentang suatu pendapat yang pernah saya tuliskan, dan dia sangat tidak setuju. Saya tanya kenapa saya harus menerima tantangannya untuk berdebat perihal tersebut, dengan sedikit emosi kawan tersebut mengatakan bahwa dia ingin membuktikan siapa yang paling benar tentang persoalan yang pernah saya utarakan. Lalu saya tanya lagi, kalau ternyata pendapatnya paling benar, lalu mau apa? Kawan tersebut menjawab, kalau memang dia yang benar, maka saya harus mengakui pendapatnya.
.
.Lalu saya jawab, “Begini saja kawan, kita tidak perlu berdebat, saya mengakui pendapat kamu paling benar. Selesai kan? Tujuanmu sudah tercapai!” Kawan saya melongo, saya tinggal pergi dengan raut datar. 
.
Kadang, kita sering tidak sadar memaksa orang lain agar menerima pendapat kita, padahal kita sendiri tidak mau dipaksa untuk menerima pendapat orang lain.
.
.Bagi saya, perdebatan dan diskusi yang diliputi dengan rasa saling emosi adalah perbuatan sia-sia, terlebih, jika itu terjadi di media sosial. Diskusi ringan saya dengan salah satu seleb medsos beberapa bulan lalu menyimpulkan bahwa, jika kita saling berdebat kusir di kolom komentar facebook lebih dari 4 komentar, maka biasanya di komentar kelima kita akan terlihat bodohnya. Nah!

Diskusi atau berdebat di media sosial tidak bisa melibatkan ekspresi para pihak. Padahal eksistensi ekspresi dalam tatap muka itu penting untuk menggambarkan kematangan karakter, kemampuan mengendalikan emosi diri, dan kemampuan memilih diksi secara spontan. Tidak hanya ekspresi, diskusi dengan tatap muka menciptakan kehangatan silaturahmi, menumbuhkan empati, dan pada akhirnya bisa menerima perbedaan dengan hati plong, tanpa ganjalan apalagi dendam.
.
.Kita sering tidak tahu siapa lawan debat kita di media sosial, karena foto dan identitas akun tentu bisa menipu. Kita tidak tahu apakah orang yang kita ajak berdebat adalah teman sepantaran, memiliki latar belakang pendidikan yang sama, atau memiliki kedalaman pengetahuan yang tidak jauh beda. Jangan-jangan kita sudah berbusa-busa menjelaskan teori tentang teknologi artificial intelligence misalnya, eh ternyata lawan debat kita hanya anak kelas 1 SMK yang bahkan sering lupa mematikan capslock di layar telepon pintarnya. 
.
.Sering-seringlah bertemu atau kopi darat dengan teman diskusi kita di media sosial. Coba saja lakukan, sepulang kopi darat, kita jadi punya persepsi yang lebih obyektif tentang sosok yang sering kita sanggah atau komentari pendapat-pendapatnya di media sosial. Pun tak sependapat di media sosial, bukan berarti tidak bisa jadi kawan atau tidak bisa saling bertemu. 
.
Siapa tau pertemuan itu kelak akan menciptakan rasa rindu.

Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi

Thursday, November 1, 2018 - 10:00
Kategori Rubrik: