Berbagi Warisan

Oleh: Birgaldo Sinaga
 

Tulisan adinda Afi Hinaya Faradisa WARISAN baru-baru ini bak guruh di siang bolong. Mengagetkan banyak orang. Di tengah kecamuk pertentangan isu kebhinekaan, keberagaman dan Pancasila, tulisan Afi yang sarat filosofi menyegarkan wajah lelah anak bangsa yang terkoyak batin kebangsaannya atas panasnya peristiwa sosial politik belakangan ini.

Apa yang disampaikan Afi sebenarnya sudah terlalu sering disampaikan banyak orang. Tidak ada seorangpun manusia di kolong langit ini bisa memilih terlahir dari ibu bapa siapa. Namun yang kita tahu kita lahir dari cinta ibu bapa kita.

 

 

Atas hasil buah cinta itu kita dirawat dan disiram dengan cinta. Diberikan nutrisi susu, gizi yang cukup untuk tubuh. Jiwa kita diisi dengan nasihat yang baik dan ajaran agama orang tua kita. Nasihat hidup itu bisa dari kearifan adat budaya leluhur orang tua kita.

Ayah emakku mendidik dengan falsafah nilai budaya Batak, karena ayah emakku orang Batak. Ayah emakku mengisi jiwaku dengan iman Kristiani karena mereka juga mendapatkan iman Kristiani itu dari kakek nenekku. Begitu tradisinya. Turun temurun. Jadilah aku orang Batak Kristen. Inilah Warisan.

Tapi ada kalanya dalam perjalanan hidup itu, seseorang itu memilih jalan yang berbeda dari kedua orang tuanya. Ia tidak meneruskan warisan itu sebagaimana orang tuanya menerima warisan dari kakek neneknya. Banyak cerita kita dengar kisah orang yang berpindah keyakinan agama itu. Para artis selebritis sering mendominasi ruang publik dengan cerita perpindahan agama itu. Bahkan dalam kasus tertentu menjadi gesekan hujat menghujat di medsos.

Islam menyebutnya muallaf untuk pemeluk agama non muslim yang berpindah menjadi muslim. Sedangkan jika berpindah agama dari Islam ke agama non muslim disebut murtad. Demikian juga ajaran Kristen menyebutnya lahir baru untuk orang non Kristen yang masuk Kristen. Sedangkan jika berpindah agama Kristen ke agama non Kristen sering disebut anak yang hilang. Ini dua cara pandang teologis yang hampir sama sebenarnya.

Setahun lalu, publik dan medsos dihebohkan dengan berita kepindahan agama Aktor Sang Pencerah Lukman Sardi atau LS. LS berpindah agama dari Islam menjadi Kristen.

Berita kepindahan agama LS sontak mengisi laman media elektronik dan medsos dengan beragam komentar. Media garis keras bahkan menjadikan isu LS sebagai bara api baru. Bara api kebencian. Membacanya membuat kita geleng-geleng kepala. Kita menjadi ribut. Ribut bukan karena kepedulian, namun ribut karena alasan dogma dan seribu satu macam cerita dibaliknya. Tentang hegemoni yang tersenggol.

Potensi kericuhan dan kebencian relasi sosial dengan komentar - komentar bernuansa sara dan kebencian tiba-tiba menyeruak di balik kemarahan atas pilihan LS.

Reaksi netizen beragam. Ada yang mencaci maki, mencemooh, mengutuk, mengecam dan melaknat. Ada yang biasa saja, menerima itu sebagai hal yang biasa, tidak perlu diributkan. Ada yang bersyukur. Ada yang masa bodoh.

Reaksi netizen ini mirip dengan reaksi saya pada tahun 90-an saat tahu Lulu Tobing, artis sinetron, seorang gadis Batak Kristen berpindah agama menjadi muslim. Rasa kesal, kecewa, marah dan hujatan tiba tiba muncul dari dalam hati. Lalu menjadi pembicaraan panas bin sedih saat usai kebaktian gereja.

Tapi itu dulu. Dunia terus bergerak dinamis. Nilai-nilai dogma absolut perlahan bagi banyak orang berubah. Banyak orang semakin menerima bahwa berpindah agama itu pilihan pribadi, sebagai hak asasi yang Tuhan berikan. Free will, kehendak bebas.

Kisah anak yang hilang dalam cerita Alkitab bisa menjadi refleksi bagaimana seorang ayah yang memiliki anak bungsu yang disayangnya harus kehilangan anaknya karena anaknya itu pergi meninggalkan keluarga. Sang ayah tidak marah atau menghukum anaknya. Sang Ayah merestuinya dan memberikan jatah warisannya.

Lalu anak bungsu itu pergi membawa harta warisan miliknya. Sekian lama pergi, sang anak gagal. Jatuh miskin dan sakit. Si Anak Bungsu lalu kembali datang ke ayahnya. Apa reaksi sang ayah? Ayahnya menyambut dengan pesta kegembiraan. Anaknya yang hilang sudah kembali.

Cerita ini mengilhami saya bahwa kedewasaan dalam memilih jalan hidup adalah keniscayaan. Setiap pribadi dewasa akan memilih atau tidak memilih atas jalan hidupnya. Ia bisa meneruskan warisan agama ayahnya atau mencari jalan hidup berbeda. 
 Kebiasaan ribut, bergunjing kita sebenarnya yang belum sembuh dalam memahami hakikat manusia yang identik dalam mencari makna kehidupan.

Kasus banyaknya artis yang berpindah agama ke agama kita, kita rayakan seolah kita sedang menang perang. Sebaliknya bagi yang ditinggalkan seolah kalah perang. Seolah-olah kita kehilangan kavling surga atas kepindahan agama mereka. Kita meributkan hingga melewati batas, sementara tetangga kiri-kanan kita yang seiman dengan kita kelaparan bahkan putus asa kita tutup mata. Kita tidak peduli.

Bagi saya, kepindahan agama Lukman Sardi dari muslim menjadi nasrani atau kepindahan Selvi Ananda menjadi mualaf tidaklah penting dibicarakan.

Bagi saya, kepindahan warga negara anak bangsa kita seperti pemenang medali olimpiade fisika, matematika, insinyur hebat, dokter hebat menjadi warga negara lain itu lebih menyedihkan. Itu lebih merugikan.

Bagi saya kepindahan para ibu-ibu TKW keluar negeri untuk mencari nafkah demi keluarga lebih menyedihkan dan menggetirkan dibanding cerita pindah agama artis. Lebih menguras air mata dibanding perebutan superioritas agama.

Lukman Sardi, Dian Sastro Wardoyo, Tamara Blezinski, Selvi Ananda, Marcell Siahaan dan lainnya telah memilih keyakinannya. Dan itu tidak lebih bermanfaat ketika kesalehan sosial hidup mereka tidak berbanding lurus dengan kesalehan relijiusnya.

Memberi manfaat bagi kehidupan atau hidup dengan kesalehan sosial sejatinya adalah proyeksi dari kesalehan relijius itu sendiri. Sayangnya kita terjebak dengan bungkus beragama artifisial. Kita suka dengan simbol simbol agama agar melekat dalam ekpresi keseharian kita.

Kita berupaya agar orang menilai kita penuh amalan ibadah meski kita sadar amal ibadah kita dari aksi tipsani alias tipu sana tipu sini. Kita terjebak dengan topeng kesalehan relijius lalu memenuhinya dengan piagam-piagam pengakuan. Meski untuk mendapatkan piagam itu kita mencuri atau membayar.

Kesalahen relijius kita tidak berbanding lurus dengan kesalehan sosial kita. Lalu kita berakrobatik. Ingin menunjukkan kepublik kesalehan sosial itu dengan membagi - bagi sumbangan dengan tangan kanan, sementara tangan kiri kita memutus masa depan anak-anak kita.

Kita mencuri segudang lalu membagi curian itu satu kontainer dengan liputan sosial luar biasa. Kita melahap dan meraup untuk tujuh turunan anak cucu sendiri dengan barter kematian sejuta keturunan masa depan anak bangsa lain.

Tanpa kesalehan sosial sebagai entitas manusia yang serupa dan segambar dengan Tuhan Sang Pencipta, maka menjadi Islam atau Kristen kehadirannya sebagai manusia tidak akan membawa kebaikan atau manfaat. Malahan akan menjadi beban bagi bangsa dan negara.

Itulah yang terjadi pada negeri ini. Kita menderita dan miskin, bukan karena Tuhan membenci kita. Kita miskin dan menderita karena salah memandang hikmat dan kebijaksanaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita lebih sibuk memperebutkan abu dan asap dari pada api kebenaran, keadilan, kebaikan dan kebajikan yang menjadi Roh suci yang dihembuskan Ilahi kepada kita.

Lalu warisan apa yang hendak kita wariskan kepada anak cucu kita kelak? Kebencian atau kasih sayang? Peperangan atau perdamaian? 
Jika nilai agama yang kita jadikan nafas hidup itu menjadi sumber kebencian dan peperangan berhentilah bernafas sejenak agar dunia tidak semakin pekat dengan abu kebencian dan peperangan.

Salam perjuangan

(Sumber: Birgaldo Sinaga)

Tuesday, May 23, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: