Berbagi Kemiskinan

ilustrasi

Oleh : Hasan Nasbi Batupahat

Babe Rojali menyulap tanah warisan orang tuanya menjadi kontrakan 15 pintu. Beliau pernah jaya dengan kontrakan segitu. Punya uang yang cukup untuk menghidupi keluarga dan membesarkan ketiga anaknya. Babe memang merasa ga perlu punya pekerjaan atau penghasilan lain, sebab passive income dari kontrakan itu sudah bisa memenuhi kebutuhannya. Beliau bisa fokus mengurus masyarakat dan beribadah tanpa perlu khawatir kekurangan penghasilan.

Sepeninggal Babe, kontrakan 15 pintu itu jadi warisan yang harus dibagi tiga. Karena tidak punya penghasilan rutin yang bisa jadi pegangan hidup, ketiga anak babe akhirnya memang bergantung dari kontrakan warisan orang tuanya. Namun kini hasilnya tentu sudah tidak sama lagi. Masing2 hanya dapat sepertiganya, dan jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga masing-masing.

Kejadian semacam ini jamak terjadi di berbagai tempat. Sumber2 produksinya tidak harus kontrakan, tetapi juga bisa tanah, sawah, dan lain-lain. Sumber penghasilan yang awalnya memadai, lambat laun tidak lagi cukup karena sudah harus dibagi-bagi. Makin lama justru makin tidak memadai karena sumbernya tidak bertambah, tetapi mulut yang harus dihidupi terus bertambah. Ini yang disebut sharing of poverty, atau berbagi kemiskinan.

Saya sendiri juga punya pengalaman pribadi soal berbagi kemiskinan ini. Ketika pertama kali bekerja profesional di tahun 2005, saya memiliki take home pay yang lumayan untuk ukuran saat itu. Tidak besar namun cukup jauh di atas UMR. Hanya saja, lambat laun saya sadar, betapa teman saya seangkatan di kantor bisa jauh lebih sejahtera meski take home pay kita persis sama. Ya saya dengan gaji segitu nyaris tanpa sisa setiap bulannya karena harus memberi uang bulanan kepada dua orang adik yang sedang kuliah. Sementara teman saya yang merupakan bungsu dari dua bersaudara dapat menikmati penghasilannya sendirian. Ketika saya tanya, bro, lu bisa nyisa berapa sebulan? Ya kalau dari jawabannya sih hampir setara dengan uang bulanan yang saya beri untuk kedua adik saya. Bedanya, setelah setahun dia punya tabungan yang amat lumayan, sementara saya tidak punya sama sekali. Saya berada dalam suasana sharing of poverty. Sumber penghasilannya hanya satu, tapi harus dibagi untuk tiga mulut. Problemnya bukan di besaran gaji, tapi dari jumlah mulut yang harus dihidupi dari satu sumber penghasilan.

Pada saat yang sama, ada teman saya yang bekerja di perusahaan lain punya penghasilan jauh lebih lumayan. Tapi mirisnya kehidupannya tidak lebih baik dibanding saya. Tentu persoalannya bukan soal besaran penghasilan. Dia justru harus menghidupi orang tuanya, kakaknya, dan kedua adiknya di Kampung. Yang ironis adalah, pernah suatu masa kehidupan saya jauh lebih baik dibanding kehidupan teman ini meski penghasilannya hampir dua kali penghasilan saya. Problemnya lagi-lagi bukan soal gaji. Tapi jumlah mulut yang harus dihidupi. Adik-adik saya kemudian pindah ke Jakarta dan mendapatkan pekerjaan masing-masing, sementara keluarga teman saya tetap berada di daerah tanpa pekerjaan yang memadai. Meski kemudian sudah berkeluarga, mereka tetap bergantung pada saudaranya yang di Kota. Kali ini mungkin masalahnya tidak hanya sekadar satu sumber penghasilan yang harus dibagi-bagi ke begitu banyak mulut, tapi juga soal lapangan kerja dan berusaha. Di kota relatif lebih banyak pilihan bekerja dan berusaha, sementara di desa pilihan-pilihan itu tidak banyak.

Memang kemudian ada yang dengan bijak bilang, makanya jangan bergantung sama orang dong, jangan cuma menunggu adanya lapangan kerja, cobalah jadi orang yang menciptakan lapangan kerja. Ini kata-kata motivasi yang bagus dan cukup heroik. Namun tentu realitanya tidak semudah kata-kata tadi dilontarkan. Kenyataannya tetap saja sebagian besar orang akan jadi pekerja dan butuh lapangan kerja. Dan negara, berkewajiban menyediakannya. Agar ketimpangan antara jumlah orang yang bekerja dengan mulut yang harus dihidupi semakin kecil. Satu orang berpenghasilan 10 juta tidak akan lebih baik hidupnya jika harus menanggung 4 orang yang tidak bekerja dibanding orang yang berpenghasilan hanya 4 juta tapi tak punya tanggungan orang yang tak bekerja di pundaknya.

Menyediakan lapangan pekerjaan memang tugas utama pemerintah. Namun pekerjaan yang bisa disediakan langsung oleh pemerintah melalui rekrutmen PNS, TNI/POLRI, maupun proyek2 padat karya tidak akan sanggup menampung jumlah angkatan kerja di negara ini. Bahkan jika rekrutmen2 itu makin dibengkakkan jumlahnya, selain makin tidak efisien, juga akan makin membebani keuangan negara. Hari ini konon ada 7 juta pengangguran terbuka, kalau digabung dengan jumlah orang yang bekerja serabutan, atau yang bekerja paruh waktu, jumlahnya akan jauh lebih besar lagi. Dengan perkiraan jumlah angkatan kerja baru setiap tahunnya bertambah 2,5 juta orang, maka setiap tahun kita butuh lebih dari 2.5 juta lapangan kerja agar beban mulut yang ditanggung oleh orang yang bekerja semakin sedikit.

Kesempatan-kesempatan kerja itu akan muncul dengan massif jika kondisi berusaha juga kondusif. Ada kepastian hukum, aturan yang sederhana dan ga berbelit-belit, proses yang cepat, serta tak ada gangguan ini dan itu yang menyebabkan malasnya orang membuka usaha.

Mengusahakan terbukanya lapangan pekerjaan ini tentu juga bukan soal yang sederhana. Perlu terobosan besar, berani, dan mungkin kontroversial. Tapi harus dilakukan. Kalau tidak, kita akan terus menerus berada dalam lingkaran setan sharing of poverty.

Sumber : Status Facebook Hasan Nasbi Batupahat

Sunday, February 23, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: