Berani Karena Malu

Oleh: Sunardian Wirodono
 
Pada suatu hari, di tahun 2005, geger di pemukiman padat Penjaringan, Jakarta Utara. Polisi sibuk melakukan penyisiran, berkait laporan warga adanya ancaman bom via sms.
Tak butuh waktu lama, kurang dari 24 jam, pengancam peledakan bom ketangkap. Cyber Crime Polda Metro Jaya, berhasil mendeteksi nomor ponsel yang melakukan pengancaman bom itu, tengah berada di Jalan Teuku Imam Bonjol, Jakarta. Tak jauh dari gedung KPU.
 
Nyatater, usut-punya usut, si pengancam bom ini pemuda patah hati. Karena ditolak cintanya oleh gadis yang tinggal di Penjaringan. Ia mengancam sasaran tembaknya itu, dengan mengirim sms akan meledakkan bom di tempat tinggal si gadis.
Bagaimana bisa mudah ketangkep? Itu karena saking goblognya si pengguna ponsel. Ia tetap mengaktifkan ponsel dan dengan nomor yang sama. Kalau dia bukan amatir, tentu tak mudah dilacak. Lihat misalnya hilangnya Djoko Tjandra atau pun Harun Masiku.
Apa yang saya ceritakan di atas, mirip dengan yang menimpa Febriansyah Puji Handoko, ‘pembobol data’ Denny Siregar. Kenapa saya tulis bertanda-petik soal pembobolan data itu? Karena lebih tepat disebut permalingan daripada upaya peretasan (hacking) oleh seorang hacker (saya sudah menulis dua tulisan mengenai sadap-menyadap ini kemarin, di akun ini).
Saya hanya membaca berita pengakuan anak muda culun dari Kalipare, Malang, itu. Sebagai karyawan outsourcing PT Telkomsel di Surabaya, tentunya punya akses berada di kantor Telkomsel. Dan tentu mengetahui cara untuk sampai ke akses data. Namun modus operandinya, dengan melakukan pemotretan (via ponsel) dan kemudian mengetik ulang data itu (dengan ponselnya pula), serta kemudian mengirimkan data ke akun Opposite6891, menunjukkan betapa amatirannya.
Tapi kalau outsourcing rendahan, di kantor cabang Telkomsel Surabaya, hebat juga sampai bisa meng-akses data. Dan hebat pula akunnya difollow akun resmi Telkomsel. Apa hebatnya sampai segitunya? Kita bisa melacak jejak digitalnya. Postingannya memang bau sangit khilafah-isme. Apakah itu bisa untuk menyebut Telkomsel dikuasai kadrun? Tinggal menelusuri saja dari FPH itu.
Apalagi tarik sedikit ke belakang, ndilalahnya Opposite6891 (juga dengan akun Opposite6890), yang selama ini suka menebar hoax dan ujaran kebencian, terkait kasus ini. Meski kenyataannya, dia juga orang amatiran yang sok jagoan. Ketika ia membocorkan data Denny Siregar, waktu ditanya balik, ia hanya mengatakan kepencet. Sungguh goblog banget. Tapi kalau misal benar, memang karena kepencet, ya, guoblog buanget. Atau setidaknya dungu seperti Rocky Gerung. Kalau dibanding El Diablo, tak ada apa-apanya.
Kemampuan IT kelompok kadrun, tak istimewa-istimewa banget. Tapi sama dengan kecolongannya orang Muhammadiyah dan NU. Yang masjidnya seolah makbedundug banyak dikelola para HTI dan PKS. Lebih karena dulu bersikap ‘ngapain masjid dikelola dengan manajemen modern’.
Sama dengan ketika kelompok khilafah bisa masuk (dan menguasai) lembaga-lembaga strategis, pada kebakaran janggut karena tak punya jenggot. Kenapa? Karena mungkin lupa peringatan Ali bin Thalib, dan mungkin juga takut dituding Syi’ah kalau nurutin Baginda Ali itu yang pernah menasihati; “Tidak baik berdiam diri tentang sesuatu yang diketahui, dan tidak baik berbicara tentang sesuatu yang tak diketahui.”
Atau mungkin malu ngikutin nasihat Martin Luther King yang pernah ngendika, the ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people. Ngikuti omongan Martin takut dituding ikutan kristenisasi. Padal, yang dikatakan universal benar. Aktivis HAM dan pendeta AS itu meyakini; Tragedi besar bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang jahat, tapi diamnya orang-orang baik akan hal tersebut.
Kenapa diam? Karena malu dikatakan pro pemerintah atau membela Jokowi. Jadi oposan itu pasti gagah dan benar. Sekarang ini, ada yang meyakini; orang baik juga tidak berharga. Bahkan bisa dituding sama jahatnya dengan orang tidak baik. Maka heroiklah mereka, yang bisa memaki-maki Jokowi sebagai goblog. Pantesan tak ada kalimat bijak yang berbunyi ‘berani karena malu’.
Baiklah, jangan dengerin Pak Martin yang Negro Amerika. Dengar apa yang disampaikan Buya Syafii, “Medsos dikuasai orang tidak waras, dan diamnya orang-orang waras.” Hadeh, lha wong membela negara atau pemerintah pun, kini orang malu atau takut diejek, apalagi dituding buzzer-rupiah. Buya Syafii ‘kan juga kayak Ade Armando, sesama Minang yang tak disuka karena mendukung Jokowi! Wah, kaderung nih! Uhuk!
(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)
Tuesday, July 14, 2020 - 22:45
Kategori Rubrik: