Beragama Tanpa Nalar

Oleh: Kajitow Elkayeni

 

Gadis kecil itu barangkali kelak kalau besar akan jadi dokter, guru, atau wakil rakyat. Di negara ini ia bisa menjadi apa saja, jadi presiden sekalipun. Tapi ada beberapa syarat, orang-orang yang kerasukan agama itu harus minggat dari Indonesia. Minoritas dan mayoritas harus memiliki hak yang sama. Demi politik, tak perlu lagi dibodoh-bodohi dengan ayat suci.

Dan yang paling penting dari itu semua, ia harus tetap hidup untuk mewujudkannya.

Tapi ia tidak akan menjadi apa-apa. Perjalanannya telah berakhir. Bom laknat telah merenggut nyawanya. Seseorang yang keracunan iman mengganggap Tuhan bersamanya. Tuhan yang sangat jahat, yang katanya bisa mematikan seluruh makhluk, tapi perlu bom dan seorang manusia sarap untuk merenggut nyawa seorang gadis mungil tanpa dosa. Tuhan yang sangat loyo, sehingga perlu beribu-ribu lasykar untuk membelanya.

Lalu media sosial penuh kutukan. Hanya itu? Ya. Sejak pertama kali bom meledak, ormas sarap dibiarkan terus tumbuh. Mereka menyebarkan pamflet-pamflet cuci otak. Masjid-masjid diisi pengkhutbah yang penuh amarah. Yang gembar-gembor soal jihad dan menghalalkan darah sesama saudaranya. Gara-gara agama impor. Mereka yang lebih bangga dengan jidat hitam, celana cingkrang, daripada kerukunan. Dan tidak ada yang berani melawan.

Orang-orang picik yang lahir dan makan di tanah Nusantara, tapi berlagak sok kearab-araban. Yang merasa paling lurus, paling berhak menafsirkan kitab suci. Yang karena seorang non-muslim menyitir satu ayat saja ribut bukan main. Tapi giliran nyawa anak manusia melayang, karena doktrin agama impor, mereka senyap. Tiba-tiba, persis seperti kata kitab suci, "Mereka bisu, buta dan tuli, sehingga mereka tak melihat (kebenaran)."

Ada juga yang tega mengatakan, bom Samarinda ini hanya isu pengalihan. Saya tidak mengerti, ada manusia sebedebah itu di negara ini. Otaknya boleh kecil, tapi jika ia manusia, semestinya masih punya hati. Kebanyakan dari mereka terus mengelak, bahwa doktrin agama mereka yang menjadi sebab. Dengan sedikit cuci otak dan pengelabuan, mesin pembunuh baru saja lahir. Agama mereka ditumpangi parasit dan mereka tidak menyadarinya.

Orang-orang anarkis yang nyata-nyata menistakan agama itu tidak banyak jumlahnya. Mereka bergentayangan seperti hantu. Konon ada aliran dana deras petrodolar dari timur-tengah. Tapi tidak ada yang menindak. Kalaupun bisa, tidak ada undang-undangnya. MUI yang mestinya bertugas membersihkan penyimpangan, malah jadi provokator. Organisasi bikinan Soeharto itu paling terdepan dalam memecah-belah.

Dan orang-orang yang mengaku islam toleran itu juga tidak berani membubarkan MUI yang jelas telah menyimpang. LSM pemungut uang rakyat, tapi tanpa audit dan pengawasan. Meskipun konon wahabi telah jelas-jelas menyusup ke sana. Mereka hanya bisa mengutuk dan menunggu bom mampir ke mesjid atau rumah mereka. Merenggut anak dan cucu kesayangan mereka satu persatu.

Padahal mereka yang mengatakan islam toleran jauh lebih banyak. Tapi mereka tak berbuat apa-apa. Mereka, ditambah non muslim yang berjuta-juta jumlahnya itu tidak ada yang turun ke jalan. Tidak ada yang mendesak pemerintah untuk membubarkan ormas anarkis. Memberikan sanksi pada para provokator di masjid, kampus, tv, radio, dan penyebar pamflet. Tidak ada. Berkali-kali bom meledak, agama dinistakan. Tapi tak ada yang berbuat apa-apa. Hanya sesekali mengutuk. Lalu diam.

Akhirnya islam yang rahmatan lil'alamin hanya katanya-katanya. Islam yang tak pernah ada, islam wacana. Tapi islam yang anarkis begitu nyata. Mereka terstruktur, solid, didukung dana yang kuat dan ribuan orang bodoh di belakangnya.

Gadis itu bernama Intan Olivia. Usianya baru beberapa tahun. Sedang lucu-lucunya. Hari ini ia telah tiada. Manusia yang beragama tanpa nalar telah merenggutnya. Dan simpatisan mereka, orang-orang tolol yang kemarin ribut penistaan agama itu diam, senyap, tanpa sedikitpun suara.

Dan sampai hari ini mereka masih saja menggap bahwa diri mereka manusia.

(Sumber: Status Facebook Kajitow Elkayeni)

Tuesday, November 15, 2016 - 13:15
Kategori Rubrik: