Beragama Kampungan

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat

Anak kampung yang lokasinya jauh di pedalaman sering dikatain norak kampungan. Jarang-jarang lihat mobil, begitu ada mobil masuk kampung, langsung dirubung anak sekampung.

Tapi urusan norak bukan hanya milik anak kampung saja, anak kota pun kadang bisa lebih norak juga. Tidak pernah lihat sawah, gunung, kabut, kali yang airnya jenih, langsung pada selfi-selfi. Betapa amat noraknya mereka, begitu gumam anak kampung dalam hati.

Salah seorang jamaah pengajian saya waktu pulang dari umroh, ngomonginnya gak jauh-jauh dari seputaran tanah suci. Sebulan lebih ngomong tema itu itu juga. Temannya komen, Norak lu ah, mentang-mentang abis umroh.

Saya punya teman dulu waktu kuliah, belum lulus skripsi tapi udah nikah duluan. Langsung habis akad, ngomongannya nikaaaaaah melulu. Sampai yang belum pada nikah sebel dan mencemooh, Ah dasar luh norak banget. Mentang-mentang udah nikah.

So norak itu manusiawi sih. Antara senang, bahagia, pamer dan ya norak itulah.

Baru tumben belajar agama, terus tiap hari ngomong agama. Baru tumben ikut tahfiz, kemana-mana murojaah. Baru tumber belajar bahasa Arab, tiap hari ngomong arab. Baru tumben palai hijab, tiap hari pakai hijab. Itu wajar.

Yang nggak wajar kalau nyinyiri orang yang belum belajar agama. Sambil terus caci maki, menghina, ngata-ngatain dan membuli. Merasa diri sudah paling islami, atau merasa paling membela agama. Kalau tidak ada saya, tidak ada agama Islam disini.

Nah, itu namanya NORAK

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat, Lc.MA

Wednesday, June 26, 2019 - 11:00
Kategori Rubrik: