Beragama Itu dengan "Tafkir" bukan "Takfir"

 

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Seandainya umat Islam betul-betul diharamkan melakukan atau menggunakan produk-produk budaya non-Muslim, mungkin mereka akan mirip seperti suku San Kalahari atau Bushmen di pedalaman Afrika selatan, suku Gabra di Kenya, suku Inuit di Kanada, dlsb yang nyaris tidak terjamah globalisasi, industrialisasi, modernisasi dan teknologi modern.

Coba kita perhatikan dengan seksama: produk kebudayaan (baik kebudayaan material maupun immaterial) apa sih yang bukan produk non-Muslim? Coba teliti dan simak baik-baik siapa yang bikin produk pakaian yang kita pakai, kendaraan yang kita naiki, mobil-mobil keren yang kita punyai (maaf saya gak punya mobil), ponsel yang kita gunakan, peralatan mandi yang kita pakai, atau bahkan minuman dan makanan yang kita konsumsi, atau medsos (Facebook, Twitter, dlsb) ini yang sebagian digunakan untuk mencaci-maki orang lain.

Hampir semua produk kebudayaan yang kaum Muslim gunakan dan "gauli" setiap hari itu adalah produk dari kebudayaan non-Muslim (Amerika, Eropa, Cina, Jepang, dlsb) yang dikopar-kapirkan oleh sebagian kelompok agama. Jika tidak mau menggunakan hal-ihwal yang berkaitan dengan kebudayaan non-Muslim ya tidak apa-apa juga silakan saja seperti kelompok Amish atau Old Order Mennonite misalnya. Tapi harus konsisten, jangan pilah-pilih, jangan plin-plan atau plintat-plintut: yang ini diharamkan, yang itu dihalalkan...

Beragama itu hendaknya dengan "tafkir" atau pengoptimalan akal-pikiran demi kemaslahatan masyarakat seiring dengan kemajuan dan perkembangan zaman, bukan dengan "takfir" atau pengkopar-kapiran orang dan budaya lain yang hanya akan membawa pada perpecahan umat dan "keunyuan" permanen. Bangsa lain sudah bikin teknologi super canggih, (sebagian) umat Islam masih sibuk mengurusi halal-haram pakai terompet. Gak mutu banget. Mikir dikit napa...

Jabal Dhahran, Arabia**

Sumber : facebook Sumanto Al Qurtuby

Wednesday, January 4, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: