Beragama Dengan Waras

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Di Indonesia, ketika bicara tentang isu Agama, akan selalu menjadi hal yang sensitif. Begitu juga dengan pernak-perniknya. Termasuk kejadian tentang seorang perempuan yang masuk ke dalam Masjid tanpa melepas alas kaki dengan membawa seekor anjing. Saya menahan diri dan mencoba tidak berkomentar atas kasus tersebut. Namun ketika opini menjadi liar dan saling menghujat, saya mencoba mengemukakan pendapat secara normatif melalui status pendek.

Selasa pagi 2/7/2019, diatas Bis Antar Kota dalam perjalanan menuju Kabupaten Gresik, saya menulis status pendek:

"Menjaga Kesucian Masjid itu Harus. Menghargai Kemanusiaan itu Wajib. Mencintai semua makhluk hidup itu Harus dan Wajib."

Maksud saya menulis status tersebut adalah, siapapun dan apapun agamamu, tetap harus menjaga Kesucian Masjid. Minimal itu bagian dari Toleransi Beragama. Itulah kenapa saya tidak mengatakan Wajib. Karena Wajib itu menanggung konsekwensi dosa jika tak mengerjakannya. Lalu, bagaimana dengan yang tidak tahu adab masuk masjid seperti pelaku yang kebetulan non muslim misalnya? Ini akan menjadi perdebatan dengan perspektif yang berbeda

Kemudian tentang Menghargai Kemanusiaan itu Wajib, saya jadi teringat kata-kata Gus Dur. Jika kamu membenci seseorang karena Agamanya, berarti yang kamu pertuhankankan itu bukan Allah, tapi Agama. Bukankah Wajib hukumnya bagi Umat Islam bahwa Allah satu-satunya Tuhan sebagaimana Ikrar Syahadat? Bukan Agama, bukan pula fanatisme ataupun ego sektoral. Dalam kasus ini, setidaknya kita harus berempati atau minimal melakukan tabayyun mengapa hal "terlarang" tersebut dilakukan oleh pelaku. Bagaimana jika dia sedang sakit? Sedang terguncang jiwanya? Dengan tahu yang sebenarnya, setidaknya kita akan memberikan perlakuan yang lebih tepat.

Dan yang terakhir tentang mencintai semua makhluk hidup itu Harus dan Wajib, bermakna kita juga menghargai penciptanya. Karena hakikatnya tidak mungkin Allah "teledor" dan menciptakan "produk gagal". Pasti ada makna dibalik terciptanya makhluk bernama Anjing. Bahkan dalam Al Qur'an, anjing disebutkan sebagai salah satu binatang yang akan masuk Surga dalam kisah Ashabul Kahfi. Tidak hanya itu, adapula kisah Nabi Nuh (ratapan) yang menyesal telah menghina Anjing yang buruk rupa. Nah, ketika ada Anjing yang berhak masuk surga, dan ada manusia sebagai penghuni neraka, apa berhak kita mengklaim sebagai makhluk termulia? Wallahu a'lam..

Kembali lagi ke perjalanan saya. Sesampainya di Kota Gresik, siang hari menjelang dhuhur, saya berjumpa dan berbincang dengan seorang Marbot Masjid bernama Mbah Waras. Hal ini juga sudah saya unggah di status akun Fb saya. Satu hal yang mengusik batin dan saya yakin ini bukanlah suatu kebetulan. Yaitu tentang pekerjaannya sebagai Marbot dan tentang namanya (Waras).

Sebagai Marbot, Mbah Waras tentu di wajibkan untuk menjaga kesucian Masjid. Karena sudah diberikan mandat dan menerima amanah. Termasuk segala kompensasi dan konsekwensinya. Dan ini tidak berlaku diluar marbot. Makanya dalam status sebelumnya, menjaga Kesucian Masjid adalah Harus yang memiliki makna berbeda dengan Wajib. Dan terakhir ketika saya membaca berita bahwa perempuan pembawa anjing itu telah ditetapkan sebagai tersangka Penistaan Agama, dan anjingnya juga ditemukan dalam keadaan mati terbunuh, saya mulai berpikir bahwa jangan-jangan kita mulai beragama secara tidak waras. Apalagi setelah tahu bahwa kita telah menghukum perempuan yang (maaf) kurang waras. Siapa sebenarnya yang waras dan siapa yang tidak waras?

Dan perjumpaan dengan Mbah Waras telah mengajarkan kepada saya, bahwa mengaji bukan hanya tekstual, tapi juga kontekstual. Bukan hanya yang tersurat (dalam Kitab Suci). Tapi juga yang tersirat (dalam Kehidupan). Itulah yang dinamakan Ngaji Kehidupan.

Wallahu a'lam bi shawab..

*FAZ*
#NgajiKehidupan

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Sunday, July 7, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: