Beragama dengan Cacat Logika

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Satu hal yang membuat manusia disebut sebagai manusia adalah kemampuan berpikir. Hal itu pula yang membedakannya dengan hewan. Ada yang menyebut manusia sebagai hayawanu nathiq, hewan yang pandai bicara. Artinya, tubuh dan kebiasaan biologisnya tak beda dengan hewan. Tapi kemampuan berpikirnya, membuat manusia memiliki nilai lebih.

Proses berpikir ini bisa dipelajari dalam ilmu khusus yaitu filsafat, atau dalam istilah islami ilmu mantiq. Meskipun secara umum, berpikir, memiliki nalar lurus, secara langsung sebenarnya terkandung dalam disiplin ilmu lain. Saat kita berbicara atau menulis dengan struktur yang benar, proses penalaran telah berjalan. Tapi ketika menghadapi orang-orang yang tak bisa berpikir dengan benar, kadang situasinya lebih rumit. Apalagi jika sudah membawa tameng agama. Ente berani sama Tuhan?

Begitulah yang terjadi ketika manusia dari berbagai kalangan bertemu di dunia maya. Satu sisi kita bisa merayakan kebersamaan tanpa batas, di sisi lain kita kadang dipaksa tepok jidat sekeras-kerasnya. Terutama ketika menghadapi barisan kutu kupret ormas radikal. Sebut saja FPI, HTI FUI, Salafi-Wahabi. Apalagi yang jelas-jelas pro teroris ISIS itu.

Beberapa kutu busuk Facebook ini memang tak tahu diri. Baru belajar satu-dua ayat dari ustadz televisi, mendengar pengajian dari emperan kampus, membaca buku-buku panduan paham radikal, sudah berani macam-macam. Mereka tak bisa membedakan sedang menghadapi raksasa atau kurcaci. Semua dilawan hanya dengan hanya modal cacat logika.

Orang seperti Nadirsyah Hosen, Syafiq Hasyim, Akhmad Sahal, dll, bukan seperti orang pada umumnya. Mereka bertahun-tahun belajar agama pada ahlinya. Jangankan buku terjemahan, kitab kuning yang biasa disebut almuthowalaat itu jadi lalapan. Sudah begitu masih ada istilah tahasus, tabaruk, kilatan, dsb. Para cecunguk yang merasa wah dengan dirinya di Facebook itu akan koprol dan ketekuk-tekuk lidahnya. Jika orang yang memahami agama disebut alim, mereka ini sudah tingkat 'alamah. Menyerang mereka dengan sesat pikir adalah ketololan setolol-tololnya.

Nadirsyah Hosen misalnya, sering melayani manusia cuti nalar itu dengan hasil akhir mengesalkan. Misalnya ketika ia diminta menuliskan keterangan di akhir tulisannya agar dikenal, ia tulis Rais Syuriah PCI NU Australia - New Zealand. Ada yang protes karena alergi dengan NU, lalu diganti, Monash Law School. Tapi protes masih juga berlanjut. Karena ada keterangannya studi di kampus Barat, ia diragukan kesantriannya. Tuduhan liberalpun muncul di belakangnya. Akhirnya ia menulis keterangan, hamba Allah yang haqir putra dari hamba Allah yang faqir.

Orang-orang yang beragama secara serampangan seperti itu memang sering bikin malu. Ditegur salah, tak ditegur bertambah-tambah. Lalu bagaimana mengatasi kedunguan berjamaah itu? Suntik mati?

Beragama bukan hanya soal beriman dan beramal salih. Orang beragama wajib punya akal, nalar, logika. Maka di setiap ibadah itu disyaratkan satu hal penting dalam fikih, yaitu berakal. Orang yang tak berakal tidak memiliki kewajiban melakukan ibadah. Berakal menjadi kunci keberagamaan seseorang. Maka akal itu pula yang menjadi poros. Beragama dengan cacat logika hanya akan merusaknya. Menjadikan agama berwajah bengis dan menjijikkan.

Ayolah kutu busuk, bercanda juga tak sekonyol itu.

 

(Sumber: Facebook Kajitow Elkayeni)

Thursday, April 7, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: