Beragama Dengan Akal Dan Hati

ilustrasi

Oleh : Aldira Maharani

Masih banyak orang yang protes, menghujat, menghakimi, dan gak paham dengan tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang Salib, Muslim Toleran & Moderat.

Kemarin saya dapat inbox dari seorang Ustadz yang keberatan dengan tulisan saya karena saya mengkritisi Abdul Somad dengan keras.

Sampai detik ini tulisan saya tentang Salib jadi panjang, merembet kemana2, dan menuai polemik.

Sebenarnya saya malas sekali menulis dan menjelaskan lagi tentang tata cara beragama yang baik, benar, dan beradab seperti apa.

Tapi Tuman kalau saya biarkan mereka yang suka menghakimi umat agama lain secara sepihak. Dan rasanya kalau sekarang saya cuma berdiam diri saja tanpa memberikan penjelasan secara gamblang lewat tulisan kepada mereka yang masih rasis dan protes.

Begini bagi yang gak paham2 dan banyak protes,

Saat kamu menerapkan, menghakimi hukum agamamu kepada orang lain yang seagama dengan dirimu, maka kamu itu sudah beragama secara salah.

Dan, saat kamu mencela saudara seagama karena dia tidak menjalankan syari'at seperti yang kamu lakukan, maka sekali lagi kamu itu juga sudah beragama dengan cara yang salah.

Beragama itu harusnya menggunakan akal agar kamu tidak jadi goblok. Beragama itu juga mestinya pakai hati secara berhati-hati agar kamu tidak menjadi biadab.

Memandang segala sesuatu dengan menggunakan kaca mata agamamu sendiri itu sesuatu yang keliru. Sama halnya, kamu pun pasti tak akan mau jika orang dari agama lain menerapkan hal sama kepadamu. Memaksakan hukum agamanya untuk kamu pakai.

Beragama itu harusnya menjadikanmu manusia yang lebih beradab, yang mampu berdamai dengan manusia lain di sekitarmu. Dengan saling mengasihi, menghormati dan bersama menyebarkan kebaikan kepada sesama ciptaan Tuhan tanpa melihat perbedaan agama, tanpa sekat dan pembeda.

Esensi beragama itu seharusnya dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa, bukan malah dipakai untuk memecah belah. beragama pada hakikatnya hadir untuk mewujudkan kedamaian, menebar kasih, menebar kemaslahatan untuk umat.

Tapi di jaman sekarang agama yang mendatangkan kedamaian malah menjadi biang kekacauan yang dilakukan oleh orang2 munafik sok suci yang memakai agama untuk memecah belah, dan ujaran kebencian sangat masif terjadi.

Sejatinya, Islam tidak punya musuh, yang menciptakan musuh-musuh Islam itu ya orang Islam (oknum) yang telah mencoreng dan mempermalukan agamanya sendiri kususnya di Indonesia.

Coba kamu amalkan ajaran agamamu dengan baik dan benar. Misalnya, kamu kerja, berkarya, berikan manfaat setidaknya untuk keluargamu sendiri, syukur-syukur kamu bisa bermanfaat bagi orang lain.

Pesan Moral :

Saat orang beragama sudah menemukan kebenaran dengan kesadaran, maka orang itu tidak akan membutuhkan lagi pengakuan bahwa akulah yang paling benar, karena kebutuhanmu akan pengakuan hanya akan memicu pertikaian demi pertikaian.

Kebajikan akan menciptakan kedamaian, sedangkan kesesatan menimbulkan silang sengketa serta huru-hara dan Kehancuran.

Menjadi orang benar dalam beragama itu baik, tapi merasa diri paling benar dan sok suci itu salah kaprah alias ngawur kuadrat.

Jadilah pribadi yang jujur dan terpercaya dalam beragama. Jujur itu suatu perbuatan yang mulia, berani dan kesatria, karena tidak semua orang berani melakukan hal itu.

Belajarlah untuk jujur terhadap hati nurani kita sendiri, Agar kita juga bisa jujur terhadap orang lain.

Dengan selalu mencari pembenaran, maka mencari dalil agar perbuatan salah Itu dibenarkan.

Kebenaran bersumber dari Allah, sedangkan pembenaran bersumber dari hati yang sakit.

Sumber : Status Facebook Aldira Maharani

Thursday, August 22, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: