by

Beragama Demi Nganu

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Kalau beragama semata mata demi dapat “tempik” (bukan tempik sorak, lho) sudah lama saya berhenti beragama. Ajaran agama yang begitu udah gak guna.

Kalau beragama demi “nganu” juga nggak selera lagi. Di dunia ini, saya sudah puas ber”nganu-nganu” dan lihat macam macam “tempik”.

Selama ini saya beragama untuk tujuan lain. Saya yakin, Tuhan yang Maha Kuasa di Atas Sana tidak menciptakan insan mulia lagi cerdas dan bijaksana di planet bumi ini dengan iming iming “tempik” 72 bidadari dan bebas “nganu” sama mereka.

Tuhan Yang Maha Berkehendak dan Maha Bijaksana, kok, gitu? Mbujuk mbujuk umatNya supaya pada rajin ibadah agar Beliau bisa kasih surga, bidadari dengan “tempik”nya dan bebas “nganu” sekuatnya. Mau dikasi bidadari atau dilemparkan ke kolam api – dijadikan kerak neraka – ‘kan suka suka Dia. Otoritas Beliau sepenuhnya.

Lha wong Beliau yang bikin kita ini. Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Itu logikanya. Saya kira ajaran dan nilai yang dipancarkan agama seharusnya tidak segombal itu. Mosok, sih, kita diminta menjaga dan memuliakan agama untuk surga bidadari dan “nganu”. Itu pun sesudah kita mati.

Apa iya “nganu” satu satu satunya tujuan manusia beragama dan ke surga? Kenapa manusia repot menciptakan teori fisika dan kimia yang njlimet, bikin pesawat, kereta secepat peluru, komputer, smartphone, kerja keras gak kenal waktu, jika nantinya supaya dapat surga dan bidadarinya agar bisa “nganu”.

PENGIN banget saya ketemu sama Bill Gates, Mark Zuckerberg, Elon Musk, sama Jack Ma jadinya, sekadar buat nanya : “Apa sampeyan ini bikin penemuan, terobosan, inovasi dan ngumpulin aset triliunan buat ‘nganu’. Buat dapat ‘tempik’? Tempik yang kayak apa ‘nganu’ yang kayak gimana?

“Lagian, kok, Tuhan diskriminatif amat. Yang laki laki soleh dapat bidadari bebas “gituan” dan “tempik”. Terus wanita solehah yang masuk surga dapat apa?! Tas Hermes, Louis Vuitton? Dapat arisan tiap hari dan ‘shopping’ sampai gempor? Atau dapat brondong?!

SAYA TIDAK tidak merendahkan ajaran agama, lho. Yang merendahkan agama adalah dia – atau mereka – yang gembar gembor atas nama Tuhan dan ajaran agama yang menjanjikan bidadari surga dan “tempik” itu. Menganjurkan jihad supaya dapat 72 bidadari dan “tempik”nya. Kalau perlu dengan membunuh dan mencelakai orang lain. Sembari bunuh diri.

Sejak kanak kanak kita diajari agama dan tidak dikaitkan dengan “gituan”. Semua orang tahu. Dan setelah tua pun kita terus beragama tidak karena ngebet buat “gituan”. Semua orang tahu. Kenapa agama sekarang urusannya jadi mengarah ke “gituan”?

Boleh tanya teman-teman yang kenal saya. Saya sudah lihat lebih 72 “tempik” dan “nganu nganu” sama yang secantik bidadari. Zonder jihad. Cukup modal “speak-speak” dapat “gituan”. Nggak menumpahkan darah setetes pun (dari saya). Keringatan memang, iya. Oh, yee.. ***

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed