Bengkoknya Nalar Tanggung Alfian Tanjung

Oleh : Windu Jusuf

Alfian Tanjung adalah bukti nyata bahwa orang Indonesia sangat imajinatif, suka membuat fiksi, berpikir dengan cara fiksi, dan sulit membedakan mana fiksi mana fakta.

Dulu, duluu sekali, kita menertawakan bocah-bocah Amerika yang tidak bisa membedakan antara Angola, Asia Kecil, Turkmenistan, dan Bujumbura. Tapi toh hari ini beberapa dari kita bisa bantai-bantaian di media sosial karena memperdebatkan fakta-fakta kehidupan yang paling sederhana seperti seperti bumi bulat, janin dalam kandungan tumbuh tanpa agama, dan key to success adalah kunci kesuksesan.

Tadinya saya kira nalar penduduk Indonesia sudah mati saat bom bunuh diri di Kampung Melayu dianggap pengalihan isu. Ternyata tidak: usianya bertahan beberapa hari lebih lama sampai akhirnya Alfian Tanjung mengatakan “Pancasila adalah ciptaan Marxis”, “Libur Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni adalah ‘aksi sepihak Jokowi’”, dan “85 persen kader PDIP adalah PKI.”

Kasihan sekali Karl Marx. Saya yakin di dalam kuburnya ia menangis pilu dan sekali lagi mesti mengatakan, “Kalau begitu, saya bukan Marxis” akibat difitnah sebagai Jokower.

Alfian tentu bukan orang sembarangan. Sebagai self-proclaimed “Pakar Komunis”, dia seperti manusia yang dikirim mesin waktu dari zaman Stalin. Predikat itu membuat dia laris ditanggap di acara-acara yang menggembar-gemborkan “Bahaya PKI”. Apalagi status Doktor (terbukti salah) yang mengajar (ternyata sudah lama tidak) di Universitas Dr. Uhamka (sudah dikonfirmasi Rektor, yang bilang urusan Alfian adalah urusan pribadinya) menambah kesaktian Bung Alfian; yang konon bisa mengendus keberadaan Pasukan Merah dari jarak ribuan kilometer dan 25 tahun lebih awal.

Di situlah masalahnya: di hadapan Allah bolehlah kita semua setara, tapi di mata Alfian Tanjung kita semua terduga PKI. Anehnya lagi, fans Alfian bejibun (apa mereka tidak sadar suatu hari bisa di-PKI-kan juga?). Coba lihatlah komentar-komentar mereka di Facebook, betapa murkanya para fans lantaran junjungan mereka ditahan. “Kriminalisasi ulama!”, “Pemerintah terbukti PKI”, “Coba dong Jokowi tes DNA”.

Faizal Assegaf (siapa pula perjaka pecicilan ini?) yang konon aktivis 98 (eh, Bung, mahasiswa mana yang di tahun 98 tidak turun ke jalan?) adalah satu spesies dengan Tanjung. Bulan lalu dia koar-koar di Komnas HAM menuntut Jokowi untuk tes DNA.

Yang saya tahu: 1) sejak kapan Alfian Tanjung jadi ulama? 2) PKI dibunuh (pasukan) pemerintah antara 1965-66 dan dikriminalisasi sampai sekarang, 3) kamu tidak otomatis komunis hanya karena bapak-ibumu yang komunis lupa pakai kondom.

Saya heran: mengapa isi kepala orang-orang ini makin sama remuknya dengan pendukung Trump yang mempermasalahkan akte kelahiran Obama cuma gara-gara dia kulit hitam?

Sialnya lagi, mendebat orang-orang bebal dengan menunjukkan fallacy (sesat pikir) adalah kesia-siaan dan sama-sama sesat pikir—sekalipun tingkat kepuasan yang diraih bisa setara dengan menggebuki beruk pantat merah pakai gitar tujuh senar.

Tapi obrolan soal DNA betu-betul absurd. Rombongan alay anti-komunis ini rajin mengecam teori seleksi alam Charles Darwin, tapi tanpa sadar mengikuti biolog Soviet Trofim Lysenko yang luar biasa ngawur. Pada tahun 1920an, Lysenko, di bawah Stalin, memerintahkan agar seluruh benih kacang dan gandum dipanaskan dan dibiarkan dalam kondisi lembab supaya mampu berkecambah di medan yang keras. Argumen Lysenko: benih yang tahan banting, tentu akan menghasilkan tanaman yang perkasa—dan itu jaminan mutu bagi pertanian Soviet.

Lysenko percaya bahwa sifat-sifat yang diperoleh oleh spesies melalui pengkondisian lingkungan yang konstan, otomatis terwariskan langsung kepada turunannya. Hasilnya: Rusia gagal panen, jutaan penduduk mati gara-gara kelaparan massal.

Demikian pula mereka yang percaya bahwa karakteristik mental bisa diwariskan secara biologis, sehingga kalau bapakmu komunis, kau juga komunis; kalau ibumu terlibat PRRI/Permesta, kau pasti ikut PRRI/Permesta. Sementara kalau bapakmu PKI, ibumu PRRI/Permesta, kakek dari ayahmu DI/TII, kakek dari ibumu pengikut RMS, nenek dari ibumu GAM, dan nenek dari ayahmu Fretilin, niscaya kau akan tumbuh besar jadi admin fanpage meme-meme tolol.

Terlepas dari klaim DNA yang menggelikan itu, tingkat kepercayaan fans terhadap Alfian Tanjung sungguh mengagumkan.

Barangkali, apabila Alfian Tanjung mengatakan perkawinan antara monyet dan ikan mujair bisa menghasilkan spesies berang-berang komunis, saya yakin tujuh juta orang akan bersorak dan segera bikin #TujuhJutaStatusDukungDalilEvolusiAlfianTanjung.

Seandainya Alfian Tanjung menyatakan bahwa mandi kembang di Penjara Air Museum Fatahillah mampu menambah volume air mani dari maksimal 10 ml jadi dua ember, tujuh juta fanboy-nya akan antre di depan museum dan otomatis mengembalikan era keemasan pijat plus-plus di bilangan Kota Tua.

Lalu soal aksi sepihak, yang sebenarnya merupakan aksi-aksi petani menuntut konsistensi pemerintah menjalankan UU Pokok Agraria 1960 dan UU Bagi Hasil. Ketika Reforma agraria tak berhasil karena seringkali mendapat tentangan dari tuan tanah, petani pun bertindak.

Tapi definisi ini tak berlaku untuk Alfian Tanjung. Baginya, tiap keputusan pemerintah yang tidak dilalui proses “musyawarah” adalah “aksi sepihak”. Ini kesimpulan cerdas belaka! Implikasinya, hampir semua tindakan manusia sehari-hari pada hakikatnya adalah aksi sepihak.

Jatuh cinta adalah contoh aksi sepihak. Menolak cinta seseorang juga aksi sepihak. Masturbasi pun aksi sepihak. Istri yang mengganti kanal TV saat suaminya nonton bola, itu jelas-jelas aksi sepihak. Masuk Islam, aksi sepihak. Keluar Islam, aksi sepihak. Masuk ABRI, aksi sepihak. Desersi, aksi sepihak. Sologami alias menikahi diri sendiri, aksi sepihak absolut. Monogami, aksi sepihak berdua. Poligami—aha, mungkin cuma ini yang bukan aksi sepihak!

Satu masalah kecil saja di sini: Alfian mungkin membayangkan manusia yang sempurna mestilah seperti robot; tak punya kehendak bebas sekecil apa pun itu, karena kebebasan berpikir, bergerak, dan bertindak menentukan nasib adalah aksi sepihak.

Sami mawon jika logika ngawur aksi sepihak itu diterapkan ke politik. Ketika Alfian menuduh pemerintah sebagai PKI, itu aksi sepihak—dan karena itu pula dia dicokok. Menuduh Alfian telah menuduh pemerintah melakukan aksi sepihak adalah juga aksi sepihak. Mengatakan bom bunuh diri adalah pengalihan isu, aksi sepihak. Sementara membayangkan kelahiran Alfian Tanjung di dunia yang fana ini sebagai pengalihan isu, nah itu debatable—saya yakin tidak satu-dua orang saja yang berpikir demikian.

Aksi-aksi 212 (Alfian terlibat di dalamnya) mengklaim penistaan agama sebagai isu seluruh muslim seluruh dunia yang jumlahnya 1.8 miliar. Bengkoknya nalar tanggung Alfian Tanjung mestinya juga jadi isu 7 miliar manusia yang masih punya otak, karena kebodohan adalah musuh semua bangsa.

Nah, karena bakal diprotes 7 miliar penduduk bumi, satu saja pesan saya: “Fans Alfian Tanjung seluruh dunia, bersatulah! Kalian takkan kehilangan apa-apa, kecuali sisa-sisa kewarasan!”

Sumber : mojok.co

Friday, June 2, 2017 - 11:45
Kategori Rubrik: