Bencana Alam Kok Dihubungkan dengan Syirik?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Saya perhatikan ada alur argumen yang sama antara kelompok Mujahidin yang mengobrak-abrik ritual tahunan sedekah laut di Yogyakarta, FPI yang melarang Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, atau surat edaran Pemkab Sulsel, yakni bahwa bencana alam yang terjadi di Indonesia itu, baik sunami, gempa, dlsb, karena Tuhan murka lantaran umat-Nya mempraktikkan "budaya syirik" alias "menyekutukan Tuhan".

 

Ini hanya sekedar contoh kecil saja. Ada cukup banyak umat Islam dan ormas keislaman di Indonesia (kalau dikumpulkan lebih dari semonas) yang memiliki pemikiran, kepercayaan, atau keyakinan seperti ini.

Saya melihat ada sejumlah kelucuan campur dengan kebegoan disini. Mari kita gunakan sedikit saja otak, akal, dan nalar kita untuk berpikir secara jernih. Dikit aja. Gak perlu banyak dan njlimet seperti mau mengkritik sebuah teori atau menguji akurasi sebuah hipotesis. Tentu saja kalau kepala kita isinya otak, bukan otak-otak.

Sejumlah pertanyaan dasar dan sederhana, penting untuk diajukan dan diujikan disini.

***

Pertama, dari mana mereka tahu kalau Tuhan itu marah? Mereka bukan stafnya Tuhan, bukan asistennya Tuhan, bukan sekprinya Tuhan, bukan staf ahlinya Tuhan, dlsb. Lalu dari mana mereka begitu yakin golokokin kalau Tuhan itu marah? Dari mana mereka tahu "uneg-uneg" dan "isi hati" Tuhan?

Jangankan mengetahui "maksud pikiran dan hati" Tuhan, eksistensi-Nya saja (ada-tidaknya Tuhan) masih diperdebatkan oleh jutaan umat manusia di muka bumi.

Kedua, kalau memang benar bahwa bencana alam itu karena praktik "budaya syirik" yang dilakukan oleh umat manusia, apakah dengan begitu masyarakat, komunitas, daerah, atau negara-negara yang selama ini dikenal sebagai "anti budaya syirik" lantas otomatis terbebas dari bencana alam?

Lalu kenapa sunami akbar bahkan paling akbar dalam sejarah sunami mengguncang Aceh? Kenapa badai gurun, banjir, dan hujan es batu menerpa negara-negara Arab Teluk, termasuk Arab Saudi? Kenapa malapetka juga terjadi di Pakistan atau Afganistan yang juga mengklaim sebagai "negara syariat"? Dan seabrek contoh lainnya.

Buka mata kalian lebar-lebar, jembreng kuping kalian lebar-lebar, jangan cuma cingire saja yang dimoncong-moncongin: bencana alam itu terjadi dimana pun di dunia ini, baik di "negeri syariat" maupun "non-syariat", baik di negeri relijius maupun negeri sekuler, baik di daerah yang memberlakukan Perda Syariat maupun tidak.

Tidakkah kalian mendengar berita di TV atau radio atau membaca berita dan informasi yang berserakan dimana-mana di berbagai media? Makanya jangan hanya foto-foto hoaks saja yang kau baca dan sebarluaskan? Jangan hanya gambar-gambar perempuan bugil saja yang kau pelototin.

Ketiga, dari mana kita tahu kalau ritual sedekah laut di Jogja atau Gandrung Sewu di Banyuwangi itu misalnya adalah "budaya syirik"? Kalaupun seandainya (sekali lagi, seandainya) itu perbuatan "syirik", emang kenapa? Masalah buat lo? Emang lo Tuhan? Emang Tuhan gak mau "disyirikin"? Umat manusia bukan hanya penganut "monoteis" tapi juga "politeis" mblo.

Yang jelas-jelas pengikut "budaya syirik" itu adalah, antara lain, orang-orang yang menghambakan diri pada dan menjadi budak dari harta dan kekuasaan. Orang-orang yang korup bin rakus bin serakah atau mereka yang "ngaceng" terhadap kekuasaan itu pada hakikatnya adalah "kaum musyrik" karena telah "memberhalakan" zat-zat selain Tuhan.

Kalian juga pada hakikatnya adalah "orang-orang musyrik" karena telah "memberhalakan" dogma, ayat, tafsir, atau bahkan wacana agama ketimbang Tuhan itu sendiri. Mumet son?

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Monday, October 22, 2018 - 21:15
Kategori Rubrik: