Benarkah Yang Dihatimu Iman?

ilustrasi

Oleh : Uju Zubaidi

Di dalam Alquran setidaknya ada 3x Allah menolak (tidak mengakui) pernyataan (klaim) dari sebagian manusia bahwa mereka orang2 beriman.

PERTAMA :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ
Di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang2 yang beriman. (Al-Baqarah : 8)

Orang2 tsb di atas tentunya orang2 Islam (Muslimin), karena narasi : "kami beriman kepada Allah dan hari akhir" adanya di kalangan orang2 Islam, tidak ada terdengar dari orang2 Hindu, Budha dsb..

Ayat diatas dengan jelas menunjukkan bahwa apa yg mereka kira IMAN itu, ternyata menurut Allah BUKAN IMAN. Dengan kata lain, pengertian (konsep) IMAN pada mereka menyalahi pengertian iman yg sebenarnya Allah maksud. Dan ini sangat pantas terjadi karena sebenarnya mereka tidak pernah diajari konsep (materi) keimanan yg dari Allah. Teori keimanan yg diajarkan kepada kaum Muslimin semuanya hasil rumusan dan rakitan para ulama yg disebut "Ilmu Tauhid", " Ilmu Aqidah", "Ilmu Kalam", yg istilah atau kosakatanya saja tidak ada dalam Alquran, 100% buatan manusia.

Bahkan Nabi/Rosul pernah berada pada kondisi TIDAK PAHAM apa itu iman dan apa itu alkitab sebelum Allah mewahyukan "Ruh Min Amrihi" yg menghidupkan materi2 alkitab yg sudah lebih dulu tersimpan di hatinya.

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ....
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) suatu RUH dari URUSAN KAMI. Sebelumnya kamu tidak paham apa itu Alkitab dan apa itu IMAN .... (Asy-Syuro : 52)

Sedangkan RUH itu hanya kompatibel dg meteri2 yg murni dari Allah dan ber-mekanisme menurut SUNNATULLAH.

KEDUA

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّاۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ...
Orang2 Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah : “Kamu belum beriman, katakan saja : ‘Kami telah (masuk) Islam’, karena IMAN itu belum masuk ke dalam hatimu... (Al-Hujurat : 14)

Inilah salah kaprah yg parah dan akut, banyak orang beranggapan bahwa IMAN itu berimpit (sepaket) dg ISLAM. Orang Islam itu otomatis beriman, iman itu adanya pada orang Islam, orang diluar Islam tidak beriman alias kafir.. dll narasi bodoh semacamnya..

Padahal salah satu logikanya, yg Allah seru untuk masuk Islam itu (berarti mereka yg diluar Islam) adalah orang2 yg BERIMAN..

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ ...
Hai ORANG2 YG BERIMAN, masuklah kalian ke dalam Islam SEMUANYA... (Al-Baqarah : 208)

Allah menyebut mereka yg diseru itu (yg di luar Islam itu) : "orang2 yg beriman". Tapi tentunya tidak semua orang beriman kesampaian seruan tsb, atau tidak semua yg diseru itu memenuhinya. Maka pastilah di luar sana (non Muslim) banyak orang2 yg beriman.

Adapun orang2 Arab Badui yg disebut pada ayat diatas masuk Islam bukan karena seruan, melainkan mereka mendapati kenyataan yg sudah final (fait accompli) dimana orang2 di lingkungannya pada masuk islam semua, ya mau apa lagi? Mereka pun masuk Islam pada kondisi hati yg belum ditumbuhi iman.

Lantas apa bedanya dg keislam kebanyakan kita2 sekarang ini? Terlahir di lingkungan orang2 Islam sejak nenek moyang, maka kita jadi Muslim "dengan sendirinya". Islam bukan pilihan karena dorongan iman yg tumbuh di hati atau karena memenuhi seruan, melainkan sebuah fait accompli. Kemudian setelah itu adakah terjadi fenomena yg menstimulasi tumbuhnya "benih iman" yg Allah pasang pada penciptaan nanusia ..? Jawabannya : "Huwallahu a'lam". Tapi jika dicermati dg melihat fakta2 yg dialami dan dihubungkan dg petunjuk Alquran, jujur saja jawabannya negatif.

KETIGA

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ,
وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَٰذِبِينَ
Apa manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (dianggap cukup) hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” tanpa mereka diuji? Sungguh, Kami telah benar2 menguji orang2 sebelum mereka, maka terbukti nyata bagi Allah orang2 yang benar dan terbukti pula orang2 yang BOHONG. (Al-Ankabut : 2)

IMAN itu tidak dinilai dari pernyataan, klaim maupun ikrar, melainkan TERBUKTI dengan terbentuknya KARAKTER (akhlak) dan POLA SIKAP/PERILAKU yg Allah ridhoi, yaitu yg mengindikasikan pertumbuhan jiwanya sesuai "desain" (fitrah) Allah dalam penciptaan manusia. Karakter dan perilaku menyimpang (FASIQ) dari fitrah-Nya, menunjukkan bahwa input ke dalam jiwa ("maa sawwaahaa") bukan menstimulasi tumbuhnya benih iman yg ada, melainkan mengerdilkannya atau malah membunuhnya, karena yg tumbuh malah yg bukan2 (gulma).

Begitulah, karakter, sikap dan perilaku merupakan indikator benar atau bohongnya pernyataan iman seseorang.

Mengingat ketiga bentuk PENOLAKAN dari Allah tsb di atas, dan mengingat pula bahwa tidak terbuktinya PERNYATAAN dengan KENYATAAN itu tidak hanya (tidak selalu) disebabkan BERBOHONG alias tidak jujur, melainkan kebanyakannya disebabkan ketidak-pahaman alias KEBODOHAN, maka bagi mereka yg ingin imannya itu diakui dan diterima Allah, mutlak baginya untuk memahami dg benar : APA ITU IMAN..?

Tapi harus disadari dengan penuh legowo terlebih dahulu bahwa ILMU KEIMANAN yg diajarkan kepada generasi2 Muslimin selama berabad2 ini adalah wacana dan retorika para ulama ("Ilmu Kalam")-nya manusia (bukan Kalamullah) yg kemudian disebut : "Ilmu Tauhid" atau "Ilmu Aqidah", yg dari namanya saja sudah nyata buatan manusia, karena kedua kosakata tsb ("tauhid" dan "aqidah") tidak satupun dijumpai dlm Alquran Kalamullah.

IMAN itu bukan sejenis KEPERCAYAAN ataupun "KEYAKINAN" melainkan sejenis PERASAAN yaitu perasaan CINTA dan TAKUT (rasa takut yg bermetamorfosis jadi rasa MALU) kepada Allah.

Percaya atau tidak percaya itu urusan akal, tempatnya di kepala sedangkan iman itu tempatnya di hati (fie quluubikum)

Secara harfiyah (etimologi) ايمان (iman) artinya "mempercayakan", bukan sebatas "percaya". PERCAYA itu baru sebatas sikap jiwa dan pasif, sedangkan MEMPERCAYAKAN adalah tindakan yg nyata dan aktif.

Memang benar bahwa tindakan "mempercayakan" (menyerahkan suatu urusan) itu ada setelah "percaya" (membenarkan). Kemudian terjadi interaksi yg menumbuhkan rasa CINTA. Maka PERCAYA -> MEMPERCAYAKAN -> CINTA merupakan fenomena metamorfosis ibarat : ulat -> kepompong -> KUPU2. Jadi, perasaan CINTA itulah sejatinya iman, dan rasa cinta kepada Allah itulah yg mendorong orang Mukmin mengikuti Rosul.

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي ...
Katakanlah (Rosul), “Jika kamu MENCINTAI Allah, ikutilah aku, .... (Ali 'Imran : 31)

... وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبّٗا لِّلَّهِۗ ....
.... Adapun orang2 yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. ... (Al-Baqarah : 165)

... فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ...
..... maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, (Al-Ma'idah : 54)

CINTA kepada Allah itu bukan sesuatu yg diklaim begitu saja karena ajaran yg wajib diyakini, dan bukan pula sesuatu yg hanya untuk disimpan, dirasakan dan dinikmati dg hati, melainkan suatu perasaan yg tumbuh dalam hati karena terjadinya proses tertentu dalam jiwa, lalu menjadi kekuatan untuk menampilkan sikap dan perilaku yg selaras dg cintanya itu sehingga Allah pun "jatuh cinta" (ridho).

Proses dimaksud adalah MENGENALI ALLAH (ta'arruf billah) dengan sebenar2nya dan komprehensif. Tanpa pengenalan yg benar dan komprehensif, meskipun mungkin rasa cinta kpda Allah itu ada, tapi sikap dan perilaku yg ditampilkan tidak mungkin selaras dg apa yg Allah ridhoi, malah sebaliknya, akan mengundang murkaNya.

Ibarat anak kecil (balita) melihat ayahnya sedang mengerjakan sesuatu, ia datang bergabung untuk "membantu ayah", pegang ambil itu ini, padahal ayahnya direcoki, bikin berantakan, pekerjaan ayah jadi rusak, sang ayah jadi uring2an.

Persis seperti itulah orang2 bodoh yg tampil dan berteriak "membela", "menolong", "berjuang" di jalan Allah, "beribadah" kepada Allah. Mereka tidak sadar bahwa yg dilakukannya itu justru mencederai dan merusak "citra" Allah dan ajaranNya, sehingga bukan ridhoNya yg mereka tuai melainkan MURKANYA.

Ketiga fenomena yg melatarbelakangi penolakan dari Allah atas pernyataan IMAN manusia, nyata sekali adanya pada "Ummat Islam". Hal ini sangat pantas adanya karena informasi (pelajaran) yg ditanamkan pada jiwa2 mereka (ilmu tauhid/aqidah) samasekali tidak ada relevansinya dengan tumbuhnya rasa CINTA dan KASIH SAYANG yg menjadi kekuatan inti untuk terbentuknya karakter terpuji (akhlak mulia).

Yg diajarkan kepada mereka adalah berupa DOKTRIN dan DOGMA ttg ADAnya Allah dg berbagai "SIFAT" yg menggambarkan "kehebatan" dan ke-MahakuasaanNya, yg tentunya agama yg diturukanNya pun paling hebat di dunia." Maka yg tumbuh adalah sebentuk KEYAKINAN yg melekat kuat yg disebut AQIDAH/TAUHID, dan yg lebih lanjut menumbuhkan sebentuk FANATISME APOLOGIS dan INTOLERANSI yg menjadi potensi untuk tumbuhnya kesombongan perasaan superioritas dan merendahkan martabat manusia lain yg tidak "seiman".

Semua yg nyata adanya itu disebabkan "silabus" dan materi2 pelajaran keimanan yg didoktrinkan kepada orang2 Islam dirumuskan sepenuhnya oleh para ulama demikian pula sebutan/istilah yg menamainya yaitu "AQIDAH" dan "TAUHID".

Padahal Allah telah menyediakan "silabus" untuk konsumsi jiwa manusia secara LENGKAP, KOMPREHENSIF dan TERPERINCI alias SEMPURNA. Semua itu terkemas pada KalamNya dan tertayang pada "karyaNya", atau yg Allah sebut AYAT2NYA dg kemasan Al Kitab dan Al Hikmah. Tapi sayang semua itu terselimuti dan tersembunyikan di kegelapan, sementara para ulama dan para ustad hanya memasarkan karya2 mereka sendiri, dan itulah yg dikonsumsi publik Muslimin. Ibarat yg dikonsumsi jasmani bukan yg disediakan Allah dari jenis hewani dan nabati, melaikan... (teuing naon atuh..)

Untuk mengurai silabus nutrisi jiwa untuk tumbuhnya iman yg sebenarnya disediakan Allah, Insyaallah disambung lain waktu...

Sumber : Status Facebook Uju Zubaidi

Friday, September 13, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: