Benarkah Reuni 212 Menaikkan Keimanan?

Ilustrasi

Oleh : Sulastri Widji

Reunian telah usai, mereka berduyun-duyun pulang dan pasti lelah. Ada PNS yang bolos kerja seminggu. Ceritanya ada pula yang sampai menggadaikan motor untuk biaya ke Jakarta dari Sumatera Barat. Ibu-ibu menggandeng putra-putrinya yang masih kecil-kecil begitu heroik berjihad. Para muda gegap gempita mengibarkan bendera tauhid. Ghirah membuncah di dadanya. Merinding disco takbir dan tahlil berkumandang. Siapa yang tidak bergetar karenanya disebutnya berhati mati. Endingnya mengeluh mengapa kok media cuek tidak meliputnya. Aksi luar biasa berkumpulnya jutaan umat Islam yang mereka klaim telah menyerbu Jakarta. Moment bersatunya umat, Jakarta memutih. Kaum munafikun dan kafirun pun panik melihatnya, kata mereka.

Yang masih mengganjal, aksi reunian 7-8 juta kaum itu, entah ngitungnya piye ngakunya segitu -- selalu atas nama "umat Islam." Sementara kami sesama umat Islam yang pasti lebih banyak jumlahnya tidak suka bahkan sampai pada level muak melihatnya. Aksi mubadzir dan lebih banyak mudhorotnya. Sampai-sampai ngikik mulu melihat cara mereka sholat di kereta -- ilmu fiqihnya tinggi sekali. Aksi lebay sarat muatan politik berbungkus agama. Sudah jelas PKS di belakang mereka, Hizbut Thahrir berlindung di ketiaknya. Prabowo paham betul siapa pendukungnya dan berniat mensucikan diri. Membuka mata khalayak seolah berkata "ini lho pemilih saya orang-orang sholih." Sebenarnya penjagaan ekstra oleh TNI--Polri tidak begitu urgent. Aksi mereka aksi damai, tidak mungkin ricuh tersebab niat dari awal itu : menarik simpati massa -- kampanye-lah.

Kalau saya pribadi punya ongkos ke Jakarta ya mending dipakai untuk tengok anak yang kuliah di sana. Minimal sejutaan amblas, duit segitu mending dikasih ke tetangga untuk berobat. Seorang janda yang begitu butuh uluran tangan. Atau dibelikan nasi kotak sudah dapat 80-an dos untuk anak yatim dekat rumah. Sejuta diberikan ke ibu saya di kampung sudah membuat beliau sangat bahagia. Kelompok Dasa Wisma saya makin hidup dengan suntikan dana segar segitu, bisa dipinjamkan bergilir tanpa bunga.

Betapa ngoyonya sampai harus menggadaikan motor. Terus setelahnya kudu bekerja keras untuk nebus. Besok melek mata, besok dan besoknya besok lagi nyatanya presidennya masih Jokowi. Opo ndak nyesek Uda? Wih apa di benaknya sudah membayang surga dengan menuntun anak-anak ke Monas? Jadi teringat para perempuan di Arab yang selalu memboyong anak-anaknya sholat subuh di Masjidil Haram dan An Nabawi. Ketika takbiratul ikram paduan suara tangis mereka menggema indah sekali. Sejenak mengganggu kekusyukkan namun sejatinya memperdalam makna. Begitulah seharusnya menjadi seorang ibu dan saya jujur belum bisa begitu. Iya, perempuan-perempuan di sana membawa anak-anaknya untuk sholat berjama'ah lima waktu ke masjid. Luar biasa andai bisa mencontoh. Ke Masjid lho ya, bukan ke Monas.

Tahlilan bermunajat lebih afdhol dilakukan di ujung sajadah masing-masing pada sepertiga malam. Tak perlulah sampai mempertontonkan di hadapan mata orang banyak. Bersilaturahmi antar sanak keluarga, tetangga, dan teman terdekat sudah cukup tak perlu nglurug dari Borneo hingga ibukota. Yang lebih menggelikan protes tidak diliput media TV. Makin gamblang kan apa tujuannya? Ingin diketahui banyak orang saudara-saudara. Jiaaah untuk apa meliput berita tidak manfaat dan non profit begitu? Rakyat luar Jakarta lho nggak mau nonton.

Saya hanya sekedar mengeluarkan uneg-uneg, bagi yang kepanasan silakan mlipir, atau menulis status tandingan. Tidak perlu nyerang dan nyinyir di lapak saya. Ini negara demokrasi kita bebas bersuara, tapi kudu beradab tersebab kebebasan kita dibatasi oleh kemerdekaan orang lain. Demo bersilit-silit jelas mengganggu ketertiban umum. Bikin Jakarta kota macet itu makin semrawut. Mending demo elegan dengan tulisan dibaca ribuan orang, langsung nanjeb ke ulu hati. Siapa mau kopdar dengan emak? Eh, reunian ding ....

Sumber : Postingan status Fanspage Katakita

Tuesday, December 4, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: