Benarkah Rasulullah SAW Buta Huruf?

Oleh: Zulfahani Hasyim

 

Seorang santri bertanya kepada saya menyoal Nabi Muhammad SAW yang dikabarkan dalam sejarah sebagai seorang ummiy atau buta huruf. Pertanyaannya apakah benar Rasulullah SAW itu buta huruf? Bukankah salah satu sifat beliau ada fathonah yang artinya cerdas? Bagaimana mungkin seorang manusia mulia di bumi dan di langit itu buta huruf? Bagaimana mungkin Nabi bisa berdagang sampai ke Syam sementara beliau buta huruf? Bagaimana mungkin Nabi SAW yang keturunan keluarga terhormat itu buta huruf? Apakah keluarganya yang terhormat itu tidak memberikan pendidikan kepadanya?

Jawaban saya, berdasarkan pada apa yang saya pelajari dari ulama-ulama dan masyayikh Al-Azhar:

Betul, Nabi Muhammad SAW itu buta huruf. Keadaan Nabi SAW yang buta huruf itu tidak berpengaruh pada sifatnya yang fathonah atau cerdas itu. Karena kecerdasan yang dibutuhkan seorang Nabi dan Rasul itu bukan kecerdasan dalam standar kita yang manusia biasa, yang mana diukur melalui kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kecerdasan yang dibutuhkan seorang Nabi dan Rasul itu jauh lebih tinggi dari standar kecerdasan manusia biasa yang hanya diukur dari kemampuan membaca dan berhitung. Seorang Nabi dan Rasul harus melampaui itu semua, di mana kecerdasan mereka diukur dari kemampuan mereka membaca situasi masyarakatnya, kemampuan mereka memimpin masyarakat dan umatnya, kemampuan mengaitkan antara kejadian nyata (al-waqi') dengan ajaran yang turun kepadanya (wahyu), kemampuan berkomunikasi yang baik dengan siapa saja, dan kemampuan memahami "bahasa" Tuhan. Kecerdasaan seperti ini justru jauh lebih tinggi levelnya dibanding kecerdasan mampu membaca dan berhitung. Dan standarnya ini nyatanya dipakai pula oleh para ahli psikologi modern.

Kemulian seorang manusia tidak juga diukur dengan kemampuan membaca dan menulis. Nyatanya banyak orang bisa membaca dan menulis namun mereka berakhlak tidak mulia, dengan korupsi, mencuri, berzina, dan meminum khomer. Standar kemuliaan ada pada akhlak. Semakin baik akhlak seseorang semakin mulia dia, lantas adakah manusia yang akhlaknya lebih baik dari Rasulullah SAW? Dan Allah SWT di dalam Al-Qur'an sudah menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang memiliki akhlak yang mulia.

Hari ini kita bisa membuktikan bahwa mereka yang buta huruf dan tidak bisa membaca-menulis tetap bisa bertransaksi jual-beli sederhana dengan orang lain. Karena faktanya kemampuan membilang jumlah sesuatu dan melakukan operasi matematika sederhana tidak ada kaitannya dengan kemampuan mengenal huruf. Lagi pula Rasulullah SAW dalam berdagang tidak lah sendirian, Tidak ada sejarah yang menyebutkan Rasulullah SAW berdagang sendirian.

Pendidikan pada masa Rasulullah sekitar abad ke-6 Masehi di jazirah Arab khususnya tidak terfokus hanya pada kemampuan membaca dan menulis seperti hari ini. Namun saat itu pendidikan anak lebih difokuskan kepada akhlak, sopan-santun, kejujuran, kepandaian bergaul, kepemimpinan, dan berbagai hal yang menyangkut sosial kemasyarakatan. Tidak seperti zaman kita sekarang di mana pendidikan dan standarnya diukur dengan standar kemampuan baca-tulis berhitung. Ini artinya Rasulullah SAW tetap mendapatkan pedidikan dari keluarganya terbukti beliau dikirim ke perkampungan Badui agar mendapatkan pendidikan akhlak yang lebih lembut, terpuji, dan jujur, di mana saat itu mulai susah didapatkan di kota-kota seperti Makkah dan kota besar lainnya.

Selain itu definisi kaum terdidik pada masa itu tidak sama dengan masa kita sekarang dimana kaum terdidik adalah yang mengenyam sekolah dan mampu membaca dan menulis. Akan tetapi definisi kaum terdidik lebih diartikan orang-orang yang memiliki adab yang baik dalam bermasyarakat. Lagi pula memang ini yang dibutuhkan oleh Nabi dan Rasul.

Kondisi Rasulullah SAW yang buta huruf juga memiliki hikmah dan faidah yang memang sengaja disuratkan Allah SWT kepada Baginda Nabi SAW. Di antara faidah dan hikmah tersebut adalah:

1. Nabi SAW digariskan untuk menjadi buta huruf demi menyangkal anggapan kaum penentang Al-Qur'an yang menganggap bahwa Al-Qur'an ada kitab buatan Rasulullah SAW. Dengan keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf otomatis anggapan mereka terbantahkan, karena bagaimana mungkin seorang yang buta huruf bisa mengarang kitab seindah dan sehebat Al-Qur'an?

2. Keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf membantah anggapan bahwa Nabi Muhammad dan Al-Qur'an mendapatkan pengaruh kebudayaan dan peradaban dari masyakat Arab dan sekitarnya. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW belajar kebudayaan dan peradaban umat-umat di sekitar Arab jika beliau buta huruf?

3. Keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf menegaskan kepada kita bahwa pendidikan Rasulullah SAW murni berasal dari pendidikan ilahiyah Allah SWT, dan tidak ada campur tangan pendidikan manusia di sekitarnya.

4. Dengan keadaan Rasulullah SAW yang buta huruf menjadi bukti kepada kita bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat Rasulullah SAW, dan masih otentik berasal dari Allah SWT.

5. Kondisi Nabi Muhammad SAW yang buta huruf menunjukkan kepada kita bahwa Al-Qur'an diturunkan kepada seluruh umat manusia baik yang bisa membaca atau tidak, semuanya mendapatkan perintah dan larangan yang sama dari Al-Qur'an tanpa memandang apakah dia bisa membaca atau tidak.

6. Kondisi Nabi Muhammad SAW yang buta huruf menunjukkan kepada kita betapa mudahnya Al-Qur'an untuk dipelajari dan dipahami bahkan oleh orang yang buta huruf sekali pun.

Catatan:
Nabi Muhammad SAW hanya buta aksara, di mana tidak mengenal dan membaca aksara saja, tapi tidak buta bahasa. Di mana Rasulullah SAW sangat fasih dan paham Bahasa Arab sampai ke makna-maknanya yang detail. Hal ini bukan diperoleh dari sekolah namun diperoleh dari pengajaran ilahiyah Allah SWT.

Buta huruf itu tidak mesti berarti buta bahasa. Makanya saya memilih kata buta aksara atau buta huruf karena yang tidak diketahui oleh Rasulullah hanya aksara arabnyanya saja sebagai simbol bunyi-bunyi dalam bahasa Arab. Tapi Rasulullah sangat mahir berbahasa Arab melebihi orang Arab mana pun.

Anggapan bahwa Rasullullah SAW itu tidak ummi justru datang dari kaum anti-Al-Qur'an yang ingin menyerang keaslian Al-Qur'an.

Wallahu a'lam bish shawab

 

(Sumber: Status Facebook Zulfanai Hasyim)

Sunday, August 21, 2016 - 14:00
Kategori Rubrik: