Benarkah Nabi Muhammad Kecilnya Dekil?

Oleh: Denny Siregar

 

Diberanda saya ramai perdebatan tentang ceramah seorang ulama NU, Gus Muwafiq, yang bercerita tentang masa kecil Nabi Muhammad Saw..

Gus Muwafiq adalah ulama yang tinggal di Sleman, Jogyakarta. Dalam ceramahnya yang viral, ia menyebutkan dulu masa kecilnya Nabi Muhammad itu dekil. Dan perkataan ini kemudian dianggap menghina Islam oleh kelompok 212, bahkan dilaporkan oleh FPI.

 

Bukannya marah, saya malah tertarik menggali informasi tentang masa kecilnya Nabi Muhammad Saw. Banyak memang hikayat yang menggambarkan Nabi lahir dengan cahaya mengelilingi tubuhnya dan semua bentuk pengagungan lainnya. 

Saya coba garis bawahi pada kata pengagungan. Sebagai manusia yang diyakini suci, tentu harus ada bahasa pemujaan dan pengagungan terhadap sosok seorang Nabi. 

Sama seperti ketika kita memuji istri yang cantik, "Cantikmu seperti mawar yang tertetesi embun pagi..". Apakah memang rupa istri seperti itu ? Ya jelas tidak, itu bahasa sastra dengan konsep melebihkan sebagai bentuk penggambaran.

Jadi kalau disebut Nabi lahir dengan cahaya, tentu bukan cahaya sinar seperti yang kita tahu selama ini. Itu bahasa pengagungan terhadap aura kebijaksanaan yang memancar, yang tentu baru diketahui oleh para pujangga berdasar kisah-kisah dari para para penceritanya. Bahasa sastra.

Masa kecil Nabi sendiri tentu tidak beda dengan anak kecil lainnya di masa itu, masa arab barbar jahiliyah. Bukan manusia super yang bisa mengalahkan musuhnya dengan sekali hentakan dan halilintar mirip Gundala. 

Bahkan ada cerita Nabi Muhammad Saw kecilnya menggembala kambing dengan upah beberapa dinar. Itu ada di hadis Bukhari, seperti kata Guru Besar UIN Jogja, Alvin Nur Choironi. 

Jadi ya secara fisik manusia, biasa aja seperti anak kecil penggembala kambing lainnya. Kan gak mungkin penggembala kambing tubuhnya bercahaya kemana-mana. 

Gimana sih anak kecil di negara tandus di tanah Arab pada masa dahulu ? Ya, ukuran kita pastilah menyebutnya dekil, karena bersentuhan dengan debu setiap hari.

Gak salah kan, kalau Gus Muwafiq menggambarkan sesuatu sesuai konteksnya, pada masa itu ? Gus Muwafiq hanya ingin kita memisahkan antara fakta sejarah dengan bahasa sastra..

Yang menganggap Gus Muwafiq menghina Nabi tentu tidak paham ini, setidak pahamnya dia dengan bahasa2 sastra. 

Banyak bahasa sastra digunakan dalam penggambaran sesuatu pada masa itu untuk memudahkan penjelasan. Seperti penggambaran surga, bidadari, malaikat dan hal2 yang tidak ada di dunia ini. Cara paling rasional adalah menggambarkan dengan bahasa perumpamaan sampai sastra.

Tapi apakah "dekilnya" Nabi Muhammad Saw pada fisiknya adalah fakta bahwa beliau juga pernah sesat seperti yang dikatakan ngustad Evi Effendie yang dulu viral itu ? 

Bedakan antara fisik dan spirit atau ruh. Meski fisiknya sama dengan manusia biasa, tapi yang membedakan para Nabi dan kita adalah ruhnya yang suci, yang tidak terlihat kasat mata. Dari situlah lahirnya kebijaksanaan, kehormatan, kecerdasan sampai kemampuan untuk berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Memang masalah umat saat ini adalah kemampuan literasi, sehingga hanya sibuk meyakini tanpa dibarengi kemampuan memahami lebih. Dan ketika diberikan fakta sejarah, mereka sibuk berkata penistaan agama.

Itu mirip2 Neno Warisman yang melantunkan doa perang pada masa lalu dan coba2 dicucokkan pada masa kampanye Pilpres. Gak nyambung, mak..

Eh, kemana dia ya ? Kok ngilang ? Jangan2 sedang mengurung diri karena patah arang. Dia yang berjuang habis2an, Mulan Jameela yang dapat peluang.

Seruputttt...

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Wednesday, December 4, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: