Benarkah Koalisi Prabowo Kesulitan Logistik?

Oleh: Winata Ali

Kabar burung bahwa koalisi Prabowo Sandi sedang kesulitan logistik sepertinya bukan sekedar isapan jempol belaka. Meski sudah memasuki masa kampanye mereka belum bergerak aktif ke daerah daerah untuk menyambangi calon pemilihnya. Prabowo lebih suka ngendon di rumahnya, sedangkan Sandi aktif bergerak dengan aktivitas yang tak membutuhkan budget besar.

Ratusan proposal dari propinsi dan kota /kabupaten masih ditumpuk di sekretariat tim kampanye nasional, belum banyak yang diapproval. Konon responnya justru meminta daerah untuk berswadaya membiayai kampanyenya sendiri. Padahal kader kader di daerah juga tak banyak yang bersedia berkontribusi karena sibuk dengan budget kampanyenya masing masing sebagai caleg.

Event dengan pengerahan massa besar yang memerlukan budget gede untuk mobilisasi, konsumsi, transportasi dan entertaint sementara dihindari. Mereka akan berhemat hingga tahun depan, 3 bln menjelang pencoblosan barulah distribusi logistik dioptimalkan.

Ada selentingan bahwa 4 orang pengusaha papan atas yang semula berkomitmen mendukung logistik kubu Prabowo ternyata justru menunda (atau malah mundur) mencairkan dananya, setelah melihat hasil survei lembaga survei resmi dan kredibel, semuanya memenangkan paslon no 1. Hanya survei di internal atau survei melalui media sosial saja yang memenangkan kubu paslon 2. Padahal para bandar logistik tersebut juga tahu bahwa akun akun di sosmed banyak yang bodong alias kloningan. Menyadari bahwa arah angin berhembus kencang ke Jokowi, mereka jadi realistis dan sedang melakukan kalkulasi ulang. Kemungkinan besar 4 bandar besar tersebut akan menarik dukungan.

Kubu Prabowo sedang berjuang keras menggerakkan mesin politiknya Gerindra, PAN dan PKS. Tapi cuma mesinnya Gerindra saja yang mampu menggelinding dengan baik, sedangkan mesin politik PAN dan PKS masih terganjal dengan komitmen #kardus yang belum tuntas. Konon belum ada sepertiganya komitmen yang dibayarkan.

Apalagi Demokrat, mesin politiknya ngadat. Di daerah daerah malah kadernya banyak yang mendukung Jokowi. Secara riil, boleh dikatakan Demokrat tidak berkontribusi signifikan ke kubu paslon no 2.

Pak Joko Santoso selaku ketua timses pusing. Dirinya ditekan untuk bisa menaikkan elektabilitas paslon no 2 supaya logistik yang dijanjikan para bandar bisa cair. Sementara untuk menaikkan elektabilitas justru membutuhkan biaya besar terlebih dahulu. Ibarat ayam sama telor, harus duluan yang mana. Sandiaga Uno saat ini sedang diberi tugas berat untuk mencarikan talangan logistik.

Pusing ya pak? Nyanyi 3 jam sambil joget joget dengan PK mungkin bisa sejenak melupakan bebanmu.

 

Sumber : facebook Winata Ali

Sunday, October 14, 2018 - 11:30
Kategori Rubrik: