Benarkah Jokowi-Ma'ruf Amin Milik Satu Golongan/Suku/Daerah Tertentu saja?

Kalau dulu Pak Jokowi dibilang anti sama ulama, sekarang ketika ulama pujaan mereka direkrut jadi cawapres, Jokowi malah dituduh memperalat ulama. Wkwkwk.... Jadi sekarang maunya apa ? Diacuhin dibilang anti ulama, tiba didekatin dibilang memperalat ulama. Semua serba salah sama kampret. Kita tunggu setelah ini isu dan fitnah apa lagi yang akan diluncurkan. Bukan kampret namanya kalau gak munculin isu dan fitnahan baru. Wkwkwk.....

Oleh Ester Nuria Surianegara

Hiruk pikuk Cawapres yang akan mendampingi Jokowi sudah terjawab, segala analisa pun bertabur bak mitraliur, pro kontra selalu ada dan itu hal biasa. Yang terpenting bukan siapa yang akan dipilih Jokowi, melainkan untuk kepentingan bangsa dan negara ini seorang PEMIMPIN harus memegang teguh amanah rakyat yang dipercayakan pada mereka.

Kalau oposisi bilang bahwa KH.Ma'ruf Amin sebagai alat dan bemper politik pemerintah, maka oposisi menganggap dan menuduh Ulama kita itu bodoh dan haus jabatan..Sementara merekalah yang haus jabatan dan menghalalkan segala cara, tanpa mau belajar tentang arti seorang pemimpin.

Sejatinya seorang pemimpin adalah MILIK SEMUA rakyatnya/ para pengikutnya/ orang-orang yang ada di bawah naungannya. Ia pun bertugas untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada mereka semua. Bukan milik satu golongan/suku/daerah/agama tertentu saja.
.
Namun, jika ia MEMPOSISIKAN DIRINYA sebagai hanya milik satu golongan/ suku/ daerah/ agama tertentu saja ... Maka, dengan atau tanpa disadari, ia telah melakukan sebuah DOSA yang SANGAT BESAR dalam sejarah kepemimpinannya (terlebih lagi jika pemimpin tersebut adalah seorang Muslim/Islam).
.
Mengapa demikian.?

Karena dengan kepemimpinan tersebut ia telah MENGHILANGKAN ESENSI Islam itu sendiri, yakni sebagai RAHMATAN LIL'ALAMIN atau pembawa rahmat bagi seluruh Alam Semesta.

KEPEMIMPINAN ADALAH AMANAH UNTUK MELAYANI DAN MENGAYOMI.
.
?? Sejatinya KEPEMIMPINAN bukanlah sebuah KEKUASAAN, melainkan suatu AMANAH untuk MELAYANI dan MENGAYOMI rakyatnya/ para pengikutnya/ orang-orang yang ada di bawah naungannya.
.
Jadi, jika ada kepemimpinan yang tidak melayani dan justru malah MINTA DILAYANI, maka itu lebih layak disebut sebagai PENGUASA, bukan pemimpin.
.
Ada HUKUM PASTI di Alam ini (yakni hukum sebab-akibat/causa prima), dimana pemimpin menjadi GERAK UTAMA yang akan MEMPENGARUHI gerak-gerak yang lain di sekitarnya.
Dalam hal ini, maka aspek KETELADANAN dalam KHARISMA seorang pemimpin pun menduduki TITIK SENTRAL.
.
Rumusnya : 

1). Jika seorang pemimpin memiliki attitude/ perilaku/ akhlak yang baik dan jujur, maka yang ada di sekelilingnya juga akan baik dan jujur.
.
2). Demikian pula sebaliknya ... Jika seorang pemimpin tidak jujur, maka yang ada di sekelilingnya juga tidak akan jujur, dan sudah pasti berpotensi negative (misalnya : terjadi korupsi, penyalah-gunaan wewenang/jabatan, dsb).

Adapun konsep PEMIMPIN IDEAL adalah ketika posisi tersebut di isi oleh manusia-manusia PARIPURNA, yakni manusia-manusia yang TERCERAHKAN.
.
Mengapa demikian.?

Karena seorang pemimpin yang telah tercerahkan sudah pasti akan MEMBAWA PENCERAHAN kepada para pengikutnya/ rakyatnya/ orang-orang yang ada di bawah naungannya.
.
Terlebih lagi pemimpin dengan NILAI SPIRITUAL yang TINGGI, dalam perjalanannya pasti ia akan terus dan terus tercerahkan. Karena itulah, maka SPIRITUALITAS pun menduduki posisi PENTING dalam mengontrol system/mekanisme kepemimpinan.
.
Ya, tingginya kadar spiritualitas dapat menjadi TITIK KONTROL yang sangat efektif bagi pemimpin dalam memberikan pelayanan kepada para pengikutnya/rakyatnya.
.
Kenapa demikian.?

Karena spiritualitas seorang pemimpin akan selalu MENUNTUN/MEMANDU setiap langkahnya untuk terus melihat keadaan para pengikutnya/rakyatnya dengan RASA KASIH SAYANG atau WELAS ASIH ... Bukan dengan RASA KASIHAN atau IBA.

Mengapa demikian.?

Karena jika pemimpin melihat para pengikutnya/rakyatnya dengan rasa kasihan atau iba, maka sudah pasti TIDAK AKAN ADA unsur KESETARAAN di antara sesama manusia.
.
Ya, dengan atau tanpa disadari, bisa jadi hal itu pun akan membuatnya MEMANDANG RENDAH kepada para pengikutnya/rakyatnya, bahwa keadaan mereka tidak lebih darinya.

#EsterNuriaSurianegara ?
#PenaPendosa.

Tuesday, August 14, 2018 - 20:30
Kategori Rubrik: