Benarkah Bencana Itu Hukuman?

ilustrasi
Oleh : Budi Santosa Purwokartiko
Sampai pertengahan abad 18, petir dianggap bentuk kemarahan Tuhan kepada para pendosa, pelaku maksiat. Benjamin Franklin nekat main layang2 saat badai petir. Dia buktikan petir adalah arus listrik. Dengan observasi tambahan dan pengetahuan tentang energi listrik, lalu ditemukanlah alat penangkal petir. Alat ini melucuti 'senjata' Tuhan yang dikira menghukum pendosa dengan petirnya. Sebuah mitos ratusan tahun terbantahkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penyakit cacar yang membunuh ratusan ribu bahkan jutaan orang awalnya juga dianggap wujud kemarahan para dewa. Vaksinasi menjawab bahwa itu bukan kemarahan dewa tapi persoalan yang belum ditemukan solusinya. Sains menjawab kebodohan manusia itu dengan vaksin atau imunisasi. Covid pun begitu.
Tahun 2000an awal, saya banyak melakukan riset tentang Tornado/angin puting beliung yang sering menerjang daerah Oklahoma. Para ilmuwan mencoba memprediksi kapan akan terjadi Tornado lalu membuat early warning system agar tidak banyak jatuh korban. Bangsa Jepang akrab dengan bencana gempa bumi. Mereka membuat bangunan tahan gempa untuk mengurangi risiko gempa.
Sebelum kehadiran Trump dalam panggung politik , orang AS atau Jepang dan umumnya masyarakat Western menjawab bencana dengan sains dan langkah2 yang masuk akal untuk mengurangi korban.
Masyarakat kita baik yang educated maupun yang tidak, sering melihat bencana sebagai hukuman pada penguasa atau pada korban. Belum beranjak dari abad 18.
 
Mungkin itu hasil dari mimbar pengajian atau ceramah ustadz2 yang tidak punya potensi mengembangkan pemikirannya. Bolehlah begitu untuk memperbaiki diri sendiri atau untuk membuat policy pembangunan yang ramah lingkungan. Tetapi tidak untuk menghujat pihak lain atau saling menyalahkan. Bencana alam adalah hasil resultante bermacam fenomena alam dan tindakan manusia: geologis, pemanasan bumi, rusaknya hutan, pembuangan sampah sembarangan, penyalahgunaan lahan dan lain-lain.
 
Revolusi mental, okey. Revolusi akhlak juga okey. Jangan lupa revolusi mindset..
Sumber : Status Facebook Budi Santosa Purwokartiko
 
Wednesday, January 20, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: