Belum Pakai Jilbab?

Oleh: Denny Siregar

"Kok belum pakai jilbab ?"

Temanku yang wanita bercerita dengan sangat kesal menceritakan pengalamannya saat reuni ketika ia hanya berdua yang tidak pakai jilbab, sedangkan teman2 wanitanya yang lain jilbab-nya sudah model2. Dan perasaan di-intimidasi dengan pertanyaan seperti itu bukan hanya ketika mereka bertemu, bahkan ketika mereka menyapanya di fesbuk saat meihat foto profil. "Di akhirnya mereka selalu berkata, semoga dapat hidayah yaa ?"

Saya ketawa mendengar gaya ceritanya yg penuh ekspresi menumpahkan kekesalan. "Gua serius mau nanya nih, bang.. Apa kalau ga pake jilbab masuk neraka ?"

Upss.. Ini dia. Tiba2 saya didaulat menjadi Tuhan. Pangkat yang mungkin buat sebagian orang adalah pangkat terhormat, sehingga kemudian dengan keilmuannya yang rendah tapi jenggotnya yang memanjang, langsung berkata dengan mendelik2, "Ooo itu pasti neraka.. . Dibakar sampe seupil2nya.."

Tapi ini permainan yang menarik juga. Sekali2 ah main jadi Tuhan. Mungkin menyenangkan."Kayaknya ngga. Kamu yang masuk surga, mereka yang masuk neraka.. "

Terbelalak dia mendengar jawabanku yang diluar ekspektasinya bahwa aku akan membawakan dalil, ayat dan segala macam tetek yang sudah bengek lainnya. "Kok malah gua yang masuk surga ? Bukannya mereka yang lebih islami dari gua ?"

Disinilah nikmatnya secangkir kopi. Seruputannya seperti menghentikan waktu sejenak. Temanku penasaran menantikan jawabanku. Kunyalakan sebatang rokok, sebagai bentuk perlawanan terhadap propaganda anti rokok yang digaungkan asing untuk mematikan ekonomi negara ini.

"Ya kamu bisa saja masuk surga. Karena intimidasi mereka, kamu mulai berfikir keras dan bertanya spt sekarang ini. Lama2 ilmumu bertambah, dan semakin bertambah ilmumu maka kamu semakin paham. Semakin paham, kamu akan semakin merendah. Kamu membenahi dirimu dengan baik dalam agama. Urusanmu sudah bukan surga dan neraka, tetapi bagaimana stabill hidup di dunia karena paham kunci2 spiritualnya.. "

"Tetapi mereka.. " Lanjutku sambil mengangkat secangkir kopiku. "Mereka merasa sudah paling beragama dengan aksesoris2 mereka. Mereka bahkan tidak merasa penting untuk menambah ilmu2 agama supaya menguatkan ahlak mereka terhadap sesama manusia. Mereka terus menerus mengukur dan meninggikan dirinya. Mereka beragama dengan sombong karena akalnya lemah.

Semakin tinggi mereka menerbangkan dirinya, maka mereka akan sibuk memasukkan orang lain ke neraka. Mereka menjadi Tuhan2 baru dalam lingkungan mereka. Apa Tuhan mengijinkan ada kompetitor ? Tidak akan pernah.. "

Temanku tertawa. Aku tertawa. Secangkir kopi memang jujur dalam bertutur. Pahitnya menyadarkan bahwa hidup bukanlah untuk saling mengukur, karena ada yang lebih berhak dalam mengatur.

"Perhatikan.." Aku menutup pembicaraanku. "Kamu mendapat hidayah karena doa mereka, sedangkan mereka malah menjauh dari hidayah itu sendiri..."

Kopi apa ini ? Pahit sekali...

(Sumber: dennysiregar.com)

Tuesday, March 1, 2016 - 20:45
Kategori Rubrik: