Belajar soal Pendidikan dari Mereka yang Mengubah Dunia

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

Saya ingat, lebih kurang tiga tahun yang lalu, saya menonton Face2Face. Tentang Finlandia, negara yang dianggap "nomor satu" di bidang pendidikan itu. Malam ini, melalui youtube, kembali lagi saya tonton acara tersebut.

Suka saya dengan Desi Anwar, host acara Face2Face di MetroTV, acara dengan tagline “belajar pada perobah dunia”. Desi Anwar yang merupakan adik Dewi Fortuna Anwar (intelektual wanita terkemuka Indonesia) tersebut, mampu mengemas acara dengan santai, padat-berisi dengan mengetengahkan figur-figur inspiring yang dari mereka, “dunia” bisa belajar.

 

Desi Anwar binti Prof. Dr. Chaidir Anwar (alm.) menampilkan potret pendidikan negara Finlandia dengan fokus pada kebijakan Presiden Finlandia S. Ninninsto. Negara Finlandia, negara asal pembalab F1 Mika Hakkinen ini, dikenal sebagai negara paling OKE menata sistem pendidikannya. Dunia tidak lagi berkiblat pada Amerika Serikat, Jerman atawa Jepang, tapi pada negara yang dekat dengan kutub utara tersebut.

Dalam pengelolaan anggaran pendidikan, Finlandia mengaggarkan anggaran yang lebih besar pada pendidikan dasar …. Ya, pendidikan dasar, bukan pendidikan tinggi mereka. Di Sekolah Dasar, setiap kelas dikelola oleh 3 orang guru sekaligus, satu orang menjadi guru pengawas, dua lagi (jadi) guru pembimbing dan guru mata pelajaran. Yang cukup menarik : para murid diberi keleluasaan untuk menentukan jadwal ujiannya, tergantung kesiapan dan penguasaan materi si murid.

Dua penggalan dialog Desi Anwar dalam acara Face2Face di Finlandia tersebut, sangat inspiratif bagi saya :

# (kala berkunjung ke sebuah Sekolah Dasar di Finlandia)
“Apa yang menjadi fokus pendidikan di Sekolah Dasar Finlandia ?”, tanya Desi pada seorang guru.

“MENCINTAI TANAH AIR, mengajarkan pada mereka agar memiliki kemandirian dan mereka senang dalam belajar”

#(dengan Presiden Finlandia, S. Ninnisto)
“Apa yang menjadi fantasi Bapak terhadap rakyat Finlandia setelah Bapak tidak lagi menjadi Presiden Finlandia?”
“Saya ingin rakyat Finlandia menjadi rakyat yang ramah, menghargai perbedaan, memiliki kemandirian dalam kedamaian”.

JAWABAN YANG INDAH ...... duhai !

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya di hari Sabtu, Saya mengantar si tengah ke Sekolah. Seperti biasa. Pukul 09.00 WIB, mereka sudah pulang. Saya heran, kok cepat nian pulangnya.

“Nak, mengapa pulangnya cepat, tidak belajarkah kalian di sekolah ?”, tanya saya pada Si Tengah, Malika.

“Yah, kami belajar hanya sebentar. Bu guru katanya pergi kuliah, untuk sertifikasi. Kami diberi PR matematik 30 dan Pkn 30 pula, kemudian disuruh pulang!”, jawab si sulung sambil makan pergedel jagung.

(Indonesia, entah bila seperti Finlandia. Tayangan Desi Anwar membuat saya “cemburu”, tapi apa mau dikata, para guru dan murid-pun menjadi korban sebuah sistem).

“Yaa sudah, sana masuk ke rumah. Belajar sama ibu, ibu lagi libur !”, perintah saya kepadanya.

"Kasih ayah sisa pergedel kamu tu, enak nian nampak di ayah !", kata szaya setengah bermohon. Ia cemberut, sambil mengasihkan sisa pergedel yang tinggal setengah.

(daripada "mengutuk" sistem, lebih baik dimanfaatkan potensi yang ada, walau sebenarnya, kekecewaan itu tetap ada, tapi apa boleh baut ... eh, buat, demikianlah adanya).

 

(Sumber: Status Facebook M Ilham Fadli)

Friday, March 31, 2017 - 22:00
Kategori Rubrik: