Belajar Mandarin dan Budaya China di Arab Saudi

 

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Minggu lalu, sehabis rapat dosen di departemen kami, sang ketua departemen yang warga Saudi tiba-tiba memanggilku dan bertanya: 

"Duktur, apakah Anda bisa memasukkan kebudayaan China sebagai salah satu materi dalam mata kuliah Antropologi Budaya yang Anda ajar?".

Karena penasaran, saya pun balik bertanya: "Emang kenapa broh minta saya memasukkan kebudayaan China?"

 

"Kerajaan mewajibkan semua universitas di Arab Saudi harus mengajarkan kebudayaan China," jelasnya singkat. 

Saya pun menimpali ke doi: "Karena akoh mengajar Antropologi Budaya, maka saya dari dulu mengajarkan aneka ragam kebudayaan umat manusia, termasuk kebudayaan China."

Ia pun tampak lega dan bilang: "Mantabbb broer"

***

Sejak MBS bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing bulan Februari lalu (2019), Arab Saudi berkomitmen untuk mengajarkan Mandarin dan memasukkan bahasa ini dalam kurikulum pendidikan di semua level: dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Arab Saudi. Bahasa Inggris sudah terlebih dulu masuk dan menjadi bagian bahasa ajar di kampus-kampus dan sekolah-sekolah di Arab Saudi. 

Rupanya bukan hanya Bahasa Mandarin, kebudayaan China juga harus ikut diajarkan di kampus dan sekolah. Sejak itu, Arab Saudi mengirim siswa-siswi untuk belajar di Tiongkok (PRC). Para guru dan dosen China pun didatangkan ke Saudi. 

Kenapa Bahasa Mandarin bukan Bahasa Indonesia atau Bahasa Betawi misalnya? Karena mereka memprediksi Tiongkok akan menjadi pemain global di masa depan, baik di dunia ekonomi maupun dunia politik. 

Sekarang pun sudah kelihatan. Tiongkok-lah yang ikut membantu "menyelamatkan" perekonomian negara-negara Arab Teluk akibat anjloknya harga minyak di pasaran internasional. Melalui diplomasi politik-ekonomi-budaya yang bernama "One Belt One Road", China menggelontorkan duit milyaran dollar untuk membantu perekonomian Timur Tengah dan Afrika yang disambut dengan riang-gembira oleh masyarakat di kawasan ini. 

Tiongkok juga tercatat sebagai konsumen atau importir minyak terbesar dari Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk lain. Karena itu tak heran jika pemerintah Arab Saudi dan negara-negara Arab Teluk lain menjalin persahabatan baik dengan Tiongkok. 

Untuk memperkuat jalinan persahabatan dan relasi diplomasi politk-ekonomi-budaya ini, mereka pun saling bekerja sama dalam segala bidang, termasuk pendidikan. Perusahan-perusahaan Saudi juga banyak yang beroperasi di Tiongkok. Demikian pula sebailknya. Tiongkok juga mengirim siswa-siswi ke Arab Saudi. Demikian pula sebaliknya. 

Ke depan Arab Saudi bukan hanya mempelajari Bahasa Mandarin dan kebudayaan China saja tetapi juga mempelajari pemikiran-pemikiran para filsuf besar Tiongkok seperti Konfusius, Sun Tzu, Laozi, Zhu Xi, Mensius, Zhuang Zhou, Mozi, dlsb. 

Mari kita juga ikut belajar Mandarin: xiexie wo ai ni haya

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)
Monday, September 9, 2019 - 17:45
Kategori Rubrik: